Poin Penting
- Penerbitan surat utang korporasi di kuartal I 2026 mencapai Rp59,4 triliun, tumbuh 26,97 persen yoy, didorong obligasi dan sukuk Rp52,4 triliun serta lonjakan MTN Rp7 triliun
- Sektor pembiayaan, perusahaan induk, dan perbankan menjadi kontributor utama penerbitan, dengan total masing-masing Rp10,7 triliun, Rp9,2 triliun, dan Rp8,7 triliun
- Pefindo memproyeksikan penerbitan 2026 tetap solid di kisaran Rp154–Rp196,86 triliun, meski dibayangi risiko geopolitik, depresiasi rupiah, dan preferensi investor pada rating tinggi.
Jakarta – Lembaga pemeringkat kredit, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), merilis laporan perkembangan pasar surat utang korporasi di Indonesia sepanjang kuartal I 2026.
Dalam laporan tersebut, total penerbitan surat utang korporasi pada kuartal I 2026 tercatat mencapai Rp59,4 triliun atau tumbuh 26,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp46,8 triliun.
Dari total tersebut, penerbitan obligasi korporasi dan sukuk mencapai Rp52,4 triliun, meningkat 12,96 persen secara tahunan.
Sementara itu, penerbitan medium term notes (MTN) melonjak signifikan menjadi Rp7 triliun atau tumbuh 1.600 persen dibandingkan kuartal I 2025 yang hanya sebesar Rp400 miliar.
Baca juga: Utang Luar Negeri RI Naik jadi USD437,9 Miliar di Februari 2026
Adapun untuk surat berharga komersial (SBK) dan sekuritisasi, belum tercatat adanya penerbitan sepanjang periode tersebut.
Dari sisi sektor, tiga sektor utama yang mendominasi penerbitan surat utang korporasi pada kuartal I 2026 adalah pembiayaan (konsumtif-otomotif), perusahaan induk, dan perbankan.
Secara rinci, terdapat enam perusahaan pembiayaan yang menerbitkan obligasi senilai Rp9,3 triliun dan sukuk Rp1,4 triliun, sehingga total mencapai Rp10,7 triliun.
Selanjutnya, empat perusahaan induk mencatatkan penerbitan sebesar Rp9,2 triliun yang terdiri dari obligasi Rp1,7 triliun, MTN Rp7 triliun, dan sukuk Rp0,5 triliun.
Kemudian, empat bank membukukan total penerbitan Rp8,7 triliun, yang berasal dari obligasi Rp8,2 triliun dan sukuk Rp500 miliar.
Pefindo memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 tetap solid. Penerbitan baru diperkirakan berada pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp175,77 triliun.
“Seperti kita ketahui gejolak yang terjadi di Timteng yang disebabkan perang Iran dengan AS dan Israel itu akhirnya mendorong biaya dana di level global juga meningkat. Yang akhirnya, berdampak pada pasar surat utang domestik,” ujar Suhindarto, Kepala Divisi ERC Pefindo dalam paparan virtual, Rabu, 15 April 2026.
Suhindarto menambahkan, sejumlah faktor penopang pasar antara lain jatuh tempo yang masih relatif tinggi sebesar Rp124,12 triliun pada periode Mei–Desember 2026, pertumbuhan ekonomi yang tetap solid, yield acuan yang relatif rendah, serta permintaan investor yang masih kuat dalam mengejar imbal hasil.
Baca juga: Jerat Defisit APBN: Menkeu Purbaya, Bunga Utang Menggunung dan Tax Ratio yang Rendah
“Yield acuan yang rendah menawarkan pembiayaan dengan biaya dana yang lebih efisien. Sementara pasar saham yang masih berada dalam tren penurunan, menjadikan pasar obligasi sebagai alternatif mencari pembiayaan,” jelas Suhindarto.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari konflik geopolitik yang memicu volatilitas pasar dan kenaikan imbal hasil, depresiasi nilai tukar, moderasi kinerja lembaga keuangan, hingga kecenderungan investor yang lebih memilih instrumen dengan peringkat A ke atas, yang berpotensi menekan penerbitan dari entitas berperingkat lebih rendah. (*) Steven Widjaja







