Poin Penting:
- Jumlah masyarakat rentan miskin naik menjadi 67,93 juta jiwa menurut data BPS.
- Pemerintah masih memprioritaskan penyelesaian kemiskinan ekstrem sebelum menangani kelompok rentan.
- Krisis global memperbesar risiko turunnya kelas menengah ke kelompok rentan.
Jakarta – Jumlah penduduk rentan miskin meningkat signifikan, sementara pemerintah menegaskan penanganan kemiskinan tetap berjalan bertahap.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar meminta seluruh kelompok, termasuk masyarakat kelas menengah dan rentan miskin, untuk bersabar karena fokus utama pemerintah masih diarahkan pada pengentasan kemiskinan ekstrem dan kelompok miskin terlebih dahulu.
Pada Rapat Tingkat Menteri di Jakarta, Senin (27/4/2026), Cak Imin-panggilan akrabnya-menegaskan bahwa kebijakan pemerintah dilakukan secara berurutan agar hasilnya lebih efektif.
“Kita sedang mengatasi yang kemiskinan ekstrem dan miskin dulu. Sehingga ketika pekerjaan ini selesai, kita akan masuk pada menghadapi yang rentan miskin,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: BPS Mendadak Tunda Pengumuman Data Kemiskinan dan Ketimpangan, Ada Apa?
Ia menambahkan, selama satu setengah tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, fokus penanganan masih terpusat pada kelompok penduduk miskin dan miskin ekstrem sebelum bergerak ke kelompok rentan.
“Tentu pemerintah hari ini baru satu setengah tahun ya, akan ada saatnya kita bergerak untuk mengatasi yang rentan miskin. Sabar, kita akan terus bekerja keras, tetapi yang paling pokok kita tuntaskan dulu yang miskin ekstrem,” kata Cak Imin.
Lonjakan Kelompok Rentan Miskin
Menurut data Badan Pusat Statistik 2026, jumlah masyarakat rentan miskin mencapai 67,93 juta jiwa, naik 24,12 persen. Sementara itu, kelompok masyarakat menuju kelas menengah turun drastis menjadi 141,95 juta jiwa, atau terkontraksi 50,41 persen.
Jumlah masyarakat miskin tercatat 23,85 juta jiwa, sedangkan masyarakat kelas menengah berada di angka 46,71 juta jiwa atau 16,59 persen. Kelas atas hanya 1,18 juta jiwa, sekitar 0,42 persen dari total populasi.
Pemerintah menargetkan kemiskinan ekstrem nol persen pada 2026, serta menurunkan kemiskinan nasional menjadi 4,5–5 persen pada 2029.
Baca juga: Soroti Metode Ukur Kemiskinan Versi BPS, Celios: Belum Cerminkan Realita
Krisis Global Menekan Kelas Menengah dan Rentan
Cak Imin menilai bahwa meningkatnya jumlah masyarakat rentan miskin tak lepas dari tekanan ekonomi global.
Dalam pembukaan Rakernas Ikatan Alumni Universitas Terbuka di Bogor, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026), Cak Imin menegaskan bahwa kelas menengah kini berada pada posisi yang sangat rapuh.
“Di sisi yang lain, kita terus bekerja sekuat tenaga untuk menjaga agar kelas menengah tidak turun kelas. Kelas menengah kita adalah kelas yang memiliki kerentanan akibat guncangan ekonomi yang bersumber dari berbagai masalah baik nasional maupun di tingkat global,” ujarnya.
Baca juga: Hilangnya Meritokrasi, “Petruk Dadi Ratu” dan Siklus “Setan” Oligarki
Pemerintah Tetap Prioritaskan Kelompok Termiskin
Meski jumlah kelompok rentan miskin meningkat, pemerintah tetap mempertahankan urutan prioritas penanganan dengan menyelesaikan masalah kemiskinan ekstrem terlebih dahulu. Setelah itu, perhatian baru akan diarahkan pada kelompok rentan, seiring perbaikan daya tahan ekonomi nasional.
Cak Imin kembali mengingatkan masyarakat agar tetap bersabar menunggu tahapan program tersebut. Dedikasi pemerintah, katanya, ditujukan untuk memastikan lapisan masyarakat paling bawah mendapatkan perlindungan terlebih dahulu sehingga pemulihan ekonomi dapat berlangsung lebih stabil dan menyeluruh.
Pemerintah berharap penanganan terstruktur ini mampu menahan laju pertambahan masyarakat rentan miskin sekaligus memperkuat posisi kelas menengah dalam jangka panjang. (*)
Editor: Yulian Saputra








