Poin Penting
- Indonesia masih dinilai punya potensi ekonomi besar oleh pebisnis asing, ditopang demografi, geografi, dan pasar domestik yang luas
- Brand lokal tumbuh lebih cepat karena dinilai lebih agile beradaptasi, sementara sejumlah brand global menghadapi kompleksitas proses bisnis di Indonesia
- Daya saing Indonesia menurun, tercermin dari semakin sulitnya proses bisnis dan turunnya investasi asing, meski kondisi ini menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal.
Jakarta – Di tengah tekanan ekonomi yang membayangi Indonesia, muncul pertanyaan mengenai prospek pertumbuhan ekonomi nasional di mata pelaku bisnis asing. Apakah Indonesia masih dipandang sebagai negara dengan potensi pertumbuhan signifikan?
Regional Strategic Insights Director APAC Worldpanel by Numerator, Helmy Herman Talib, menilai Indonesia masih memiliki daya tarik di mata pelaku bisnis global. Hal itu berdasarkan pengalamannya sebagai konsultan bisnis yang berhubungan dengan sejumlah klien luar negeri.
“Apakah Indonesia masih dibilang sebagai negara yang cukup potensial untuk berkembang ke depannya? Masih, dalam batasan tertentu,” ujar Helmy dalam acara Onward by Kantar di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut Helmy, daya tarik Indonesia terutama ditopang oleh besarnya demografi dan luasnya wilayah. Keragaman karakter geografis dan budaya masyarakat menciptakan kantong-kantong pertumbuhan ekonomi yang masih sangat besar ke depan, dengan catatan perlu didukung roadmap yang jelas.
Di sisi lain, meski sejumlah perusahaan manufaktur mulai merelokasi pabriknya ke luar Indonesia, minat masyarakat terhadap brand internasional masih tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar domestik.
Baca juga: Pemerintah Makin Aktif “Intervensi” Ekonomi, Pelaku Usaha Diminta Adaptif
Helmy menilai kecenderungan sejumlah brand global “hengkang” dari Indonesia salah satunya disebabkan kompleksitas proses bisnis internal maupun eksternal ketika hendak meluncurkan produk di Tanah Air, termasuk proses approval dari agen maupun kantor pusat.
“Hanya saja memang kalau kondisi saat ini, brand-brand lokal itu lebih bagus pertumbuhannya, karena mereka lebih agile dalam hal beradaptasi dengan situasi di Indonesia saat ini,” sebutnya.
Kendati demikian, Helmy menegaskan brand global masih melirik Indonesia karena besarnya pangsa pasar yang tersedia.
Sementara itu, Chief Economist Indonesian Business Council, Denni Puspa Purbasari, mengungkapkan daya saing Indonesia justru tengah menghadapi tantangan. Berdasarkan sejumlah competitiveness index yang dirilis Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya, indeks daya saing Indonesia mengalami penurunan.
Kondisi tersebut mencerminkan semakin kompleksnya proses pendirian hingga keberlanjutan bisnis di Indonesia.
“Jadi, SOP bisnis di Indonesia itu semakin sulit; mulai dari bisnis memperoleh license sampai dengan bisnis itu mati. Jadi, bankruptcy law kita misalnya saja juga kurang baik,” ucap Denni.
Denni menjelaskan, indeks daya saing mencakup berbagai aspek, mulai dari proses pendirian perusahaan, pembangunan konstruksi dan utilities, perekrutan karyawan, hingga kemudahan berdagang dan memperoleh pembiayaan.
Menurutnya, sejumlah indikator tersebut menunjukkan skor Indonesia mengalami pemburukan.
“Dan itu kemudian yang menjadi salah satu alasan kenapa kemudian FDI atau PMA yang masuk ke Indonesia itu menurun secara angka maupun persentase terhadap PDB kita,” bebernya.
Di satu sisi, kondisi tersebut menjadi blessing in disguise bagi pelaku usaha lokal. Berkurangnya kehadiran pelaku bisnis asing membuat pangsa pasar domestik semakin terbuka bagi perusahaan nasional.
Baca juga: Ekonomi RI Ditarget 6 Persen, Energi Hijau Jadi Taruhan
Namun, Denni menilai iklim usaha Indonesia secara umum masih berada dalam fase kurang bersahabat. Regulasi dan kebijakan pemerintah yang dinilai kurang mendukung ekosistem bisnis menjadi salah satu tantangan bagi dunia usaha dalam beberapa waktu terakhir.
Ia berharap pelaku usaha di Indonesia dapat memperkuat kolaborasi untuk bertahan sekaligus meningkatkan pertumbuhan di tengah berbagai tekanan ekonomi dan bisnis.
“Tapi tetap ya Indonesia biar kita dihantam kiri kanan seperti ini, kita bareng-bareng lah untuk bisa kemudian bertahan dan bahkan menjadi pemenang dan keluar dari masalah yang ada,” pungkas Denni. (*) Steven Widjaja


