Poin Penting
- Belanja masyarakat RI tumbuh 6 persen pada semester I 2026, dengan fresh food dan FMCG menjadi pos pengeluaran terbesar masing-masing 24,8 persen dan 19 persen
- Kelas ekonomi atas dan bawah menjadi motor belanja, masing-masing tumbuh 6 persen, sementara kelas menengah hanya tumbuh 4 persen
- FMCG menjadi prioritas seluruh kelas ekonomi, tetapi pelaku usaha perlu hati-hati menaikkan harga karena kenaikan di atas 3 persen berpotensi menekan volume belanja konsumen.
Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi, tren belanja masyarakat Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan. Regional Strategic Insights Director APAC Worldpanel by Numerator, Helmy Herman Talib mengungkapkan, expenditure atau belanja masyarakat Indonesia tumbuh 6 persen secara year to date (ytd) pada semester I 2026.
Menurut Helmy, pertumbuhan belanja masyarakat tersebut turut ditopang berbagai upaya pemerintah dalam menjaga konsumsi rumah tangga, seperti subsidi BBM dan gas serta program bantuan sosial (bansos) yang disalurkan setiap kuartal.
“Berdasarkan survei yang dilakukan setiap kuartal, ini kita lakukan (survei) terhadap 11.000 rumah tangga di semester 1 2026. Memang ternyata ada kenaikan pembelanjaan dari rumah tangga sebesar 6 persen. Jadi, masih belanja mereka,” ucap Helmy dalam acara Onward by Kantar di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.
Baca juga: Celios Soroti Target Belanja Pemerintah 2027 Rp4.097 Triliun: Terlalu Besar dan Timpang
Ia menjelaskan, alokasi belanja masyarakat terbesar sepanjang semester I 2026 berada pada sektor fresh food sebesar 24,8 persen dan FMCG 19 persen. Selanjutnya, belanja dialokasikan untuk transportasi 7,1 persen, utilitas 5,9 persen, fashion 5,1 persen, dan sektor lainnya.
Besarnya porsi belanja untuk fresh food dinilai wajar lantaran sektor tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.
Namun demikian, Helmy mengingatkan, meski daya beli masyarakat masih terlihat terjaga, kondisi tabungan justru menunjukkan penurunan berdasarkan sejumlah data.
“Jadi, kalau istilahnya adalah mantab alias makan tabungan. Ini yang harus kita waspadai,” cetus Helmy.
Jika dilihat berdasarkan kelas ekonomi, kelas atas dan bawah menjadi motor utama pertumbuhan belanja masyarakat.
Keduanya sama-sama mencatat pertumbuhan expenditure sebesar 6 persen, dengan nilai konsumsi masing-masing Rp11,4 juta per bulan dan Rp3,7 juta per bulan.
Sementara itu, kelas ekonomi menengah cenderung moderat dengan pertumbuhan belanja 4 persen dan nilai konsumsi Rp5,8 juta per bulan.
Berdasarkan sektor, kelas ekonomi atas paling banyak mengalokasikan belanja untuk pendidikan, travel, dan FMCG. Kelas menengah mengutamakan FMCG, pendidikan, dan hunian. Adapun kelas bawah lebih banyak membelanjakan pendapatannya untuk FMCG, utilitas, dan fresh food.
“The good news, bagi teman-teman di FMCG, di sini FMCG adalah prioritas untuk ketiga kelas ekonomi tersebut,” terang Helmy.
Menurutnya, FMCG tetap menjadi prioritas di seluruh kelas ekonomi karena masyarakat cenderung membeli produk FMCG dalam volume lebih besar. Sektor tersebut mencatat pertumbuhan bisnis 4,8 persen pada semester I 2026, yang didorong oleh tingginya volume belanja masyarakat.
Meski pertumbuhan FMCG masih terlihat secara organik, Helmy mengingatkan kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh belum adanya kenaikan harga produk dari pelaku usaha.
“Karena kalau kita lihat historically, begitu harga FMCG naik, bahkan di atas 3 persen, itu volume (belanja) sudah pasti akan langsung turun,” sebutnya.
Karena itu, ia mengingatkan pelaku usaha FMCG yang hendak menaikkan harga agar memahami mekanisme penyesuaian harga dengan baik sehingga tidak memberikan tekanan terlalu besar terhadap belanja konsumen.
Berdasarkan survei Worldpanel by Numerator, masyarakat juga mulai mengutamakan produk FMCG dengan harga lebih murah dan menawarkan promo.
Namun, untuk subsektor beauty atau kosmetik, masyarakat masih menunjukkan kecenderungan premiumisasi meski berada dalam tekanan ekonomi.
Baca juga: Tabungan Menipis, Masyarakat Pakai Kartu Kredit-Paylater untuk Belanja
“Tapi, jika untuk beauty, mereka justru premiumize. Jadi, tak masalah misal saya lagi tertekan, tapi yang penting saya cantik, yang penting saya ganteng. Jadi, memang kelihatan lipstick efect-nya,” ungkap Helmy.
Helmy pun menyarankan pelaku usaha untuk merancang ulang strategi bisnis guna memenangkan “hati konsumen” di tengah ketidakpastian ekonomi.
Strategi tersebut antara lain melakukan ekspansi ke segmen yang dituju, menciptakan nilai atau share of life dari suatu produk, serta menyediakan pilihan produk yang lebih beragam berdasarkan harga atau brand choice. (*) Steven Widjaja


