Poin Penting
- Tekanan USD terhadap rupiah diproyeksi mereda pada semester II 2026, didorong penurunan harga minyak dunia, turunnya yield US Treasury, dan pelemahan USD terhadap euro serta yuan
- Citi Indonesia memperkirakan The Fed tidak menaikkan suku bunga hingga akhir 2026, seiring inflasi inti AS yang diproyeksikan turun ke kisaran 2,2-2,3 persen
- Dari sisi domestik, rupiah berpeluang menguat seiring potensi mengecilnya defisit transaksi berjalan Indonesia, terutama jika harga minyak dunia terus menurun.
Jakarta – Nilai tukar rupiah sempat tertekan terhadap dollar Amerika Serikat (USD). Namun, Chief Economist Citibank Indonesia (Citi Indonesia) Helmi Arman menilai tekanan USD terhadap rupiah akan mereda pada paruh kedua 2026.
Helmi menyebut, setidaknya ada tiga faktor global yang akan mendorong pelemahan USD terhadap rupiah.
Pertama, tren penurunan harga minyak dunia. Meski belum akan kembali ke level sebelum konflik dalam waktu dekat, ketegangan di Timur Tengah dinilai terus mengalami deeskalasi menjelang pemilihan umum (Pemilu) di AS.
“Dan perkiraan tim komoditas Citi adalah, bila arus perdagangan minyak di Selat Hormuz ini sepenuhnya sudah kembali lancar, kondisi pasar minyak dunia akan surplus,” beber Helmi dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Baca juga: Citi Indonesia Bidik Realisasi Kredit Rp5 Triliun pada Semester II 2026
Faktor kedua, Citi Indonesia memproyeksikan yield atau imbal hasil US Treasury, terutama tenor pendek, akan bergerak turun hingga akhir tahun. Proyeksi ini sejalan dengan perkiraan tim ekonom Citi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga atau Fed Fund Rate (FFR) hingga akhir 2026.
Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Helmi memperkirakan suku bunga akan bertahan di level tersebut seiring tren penurunan inflasi di AS.
“Dan kami berekspektasi dari inflasi inti d Amerika sekarang sekitar 2,5 persen, itu turun ke arah 2,2 persen atau 2,3 persen. Penurunan inflasi inti di Amerika ini antara lain disebabkan oleh consumer demand yang relatif lemah,” sebut Helmi.
Ketiga, pelemahan USD terhadap euro dan yuan Tiongkok. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh perbedaan ekspektasi arah suku bunga antara Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok.
Menurut Helmi, European Central Bank (ECB) berpeluang menaikkan suku bunga pada September 2026, sementara FFR diperkirakan tetap. Adapun pelemahan USD terhadap yuan didorong surplus perdagangan Tiongkok yang mencapai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca juga: BI Siapkan Jurus Jaga Rupiah dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi di 2026
Selain faktor global, Helmi menyebut terdapat sejumlah faktor domestik yang berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah. Salah satunya adalah peluang penurunan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kami perkirakan di semester 2 defisit neraca transaksi berjalan Indonesia ini kembali mengecil. Jadi, dengan penurunan harga minyak ke level sekitar 1,5 persen dari PDB penurunan transaksi berjalan, defisit transaksi berjalan ini kelihatannya sudah kita bisa lihat,” jelas Helmi. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


