Poin Penting
- Persaingan layanan buy now pay later (BNPL) antara fintech dan bank semakin ketat.
- Kredivo mengandalkan kemampuan credit scoring, kecepatan beradaptasi, dan pengalaman pengguna.
- Pembiayaan BNPL perusahaan multifinance tumbuh 53,53 persen menjadi Rp12,59 triliun pada Februari 2026.
Jakarta – Peta persaingan bisnis buy now pay later (BNPL) atau paylater antara perusahaan fintech peer-to-peer (P2P) lending dan perbankan kian sengit.
PT Kredivo Finance Indonesia, salah satu pemain kawakan BNPL menyambut positif persaingan dengan perbankan yang mulai memperkuat layanan paylater.
Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari menilai bahwa semakin banyak pemain BNPL juga membuat edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat dan risiko paylater menjadi lebih luas.
“Sebenarnya kami menyambutnya positif karena sebenarnya dengan adanya persaingan ini tugas untuk edukasinya juga jadi terbagi,” kata Indina, Head of Marketing Kredivo, di Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Ia membeberkan, kondisi tersebut berbeda ketika industri BNPL masih dalam tahap awal. Saat itu, jumlah pemain masih terbatas sehingga edukasi mengenai konsep BNPL menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri.
“Dulu ketika baru mulai dan masih sedikit pemain, kami masih sangat sulit untuk mengedukasi BNPL tuh seperti apa, termasuk manfaat risikonya,” bebernya.
Baca juga: Kredivo Klaim NPF Masih di Bawah 5 Persen, Ini Cara Jaga Kredit Tetap Sehat
Berdasarkan catatan Infobanknews, saat ini terdapat delapan perusahaan pembiayaan yang menyediakan layanan BNPL. Di antaranya Kredivo (PT FinAccel Finance Indonesia), Akulaku (PT Akulaku Finance Indonesia), dan Indodana (PT Indodana Multi Finance).
Selain itu, ada Home Credit (PT Home Credit Indonesia), SPayLater (PT Commerce Finance), GoPayLater/Gojek PayLater, Traveloka PayLater, dan OVO PayLater.
Kredivo Andalkan Credit Scoring
Di tengah persaingan dengan bank, Kredivo menilai fintech masih memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya adalah kemampuan bergerak lebih cepat atau agility dalam mengembangkan produk dan layanan.
Selain itu, Kredivo juga mengandalkan kemampuan credit scoring atau penilaian kelayakan kredit. Menurut Indina, kemampuan tersebut menjadi salah satu kekuatan perusahaan dalam menilai calon pengguna.
“Kami masih sangat pede dengan kualitas credit scoring kami atau credit assessment, bahwa kami bisa benar-benar menilai kelayakan kredit seseorang itu dengan tepat,” kata Indina.
Baca juga: Tabungan Menipis, Masyarakat Pakai Kartu Kredit-Paylater untuk Belanja
Menurutnya, pengalaman pengguna (consumer experience) hingga relevansi fitur dan produk juga menjadi faktor yang dapat menjadikan pembeda fintech BNPL dari layanan serupa yang dikembangkan perbankan.
“Jadi kami mudah-mudahan bisa terus punya daya saing yang baik dibandingkan dengan perbankan yang mungkin mereka punya kelebihan sudah punya user base yang tinggi,” tandasnya.
Pembiayaan BNPL Terus Tumbuh
Persaingan tersebut terjadi seiring dengan pertumbuhan pembiayaan BNPL oleh perusahaan multifinance.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan tumbuh signifikan hingga Februari 2026.
Baca juga: Paylater BCA Tumbuh 8 Persen, Nasabah Lebih Banyak Memilih Tenor Pendek
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman mengatakan, hingga Februari 2026, pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan tercatat tumbuh signifikan.
“Pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan pada Februari 2026 tumbuh 53,53 persen secara tahunan menjadi Rp12,59 triliun,” ujar Agusman, dalam keterangannya, Rabu, 15 April 2026.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan yang fleksibel, terutama seiring berkembangnya ekosistem digital.
OJK memperkirakan tren pertumbuhan BNPL masih berlanjut hingga akhir 2026. Pendorongnya antara lain meningkatnya aktivitas ekonomi digital dan kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan yang cepat dan mudah. (*)
Editor: Yulian Saputra


