Poin Penting
- Pendapatan MPMX turun 17 persen yoy menjadi Rp204 miliar pada kuartal I 2026, dipicu melemahnya bisnis kendaraan bermotor dan properti akibat perlambatan ekonomi.
- Laba bersih MPMX tetap naik 8 persen menjadi Rp173 miliar berkat efisiensi operasional dan perbaikan margin di sejumlah lini bisnis
MPMX menerapkan strategi pengetatan risiko dan efisiensi di berbagai segmen, termasuk pembiayaan yang turun pendapatannya
Jakarta – Kinerja bisnis asuransi PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) pada kuartal I 2026 menunjukkan tekanan yang cukup dalam. Melalui MPMInsurance, perseroan mencatat penurunan pendapatan sebesar 17 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp204 miliar.
Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya lini kendaraan bermotor dan properti. Lesunya penjualan kendaraan berdampak langsung pada turunnya permintaan asuransi kendaraan, sementara sektor properti yang belum pulih turut menahan pertumbuhan premi.
Grup CFO MPMX, Beatrice Kartika, mengakui bahwa tekanan dari sektor otomotif masih membayangi kinerja Perseroan.
“Tantangan dari perlambatan ekonomi masih terasa di sektor otomotif hingga kuartal I tahun ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (6/5).
Baca juga: Industri Asuransi dan Dana Pensiun Stabil, OJK Tetap Pantau 16 Entitas Berisiko
Meski premi tertekan, MPMInsurance mulai mengedepankan kualitas bisnis. Hal ini terlihat dari penurunan biaya pendapatan sebesar 22 persen yoy yang justru mendorong hasil layanan asuransi naik 10 persen menjadi Rp44 miliar.
Secara konsolidasi, MPMX membukukan pendapatan bersih sebesar Rp4,0 triliun atau turun 4 persen yoy. Meski demikian, laba bersih perseroan tetap tumbuh 8 persen yoy menjadi Rp173 miliar, ditopang oleh efisiensi operasional dan perbaikan margin di sejumlah lini bisnis.
Di segmen distribusi dan ritel kendaraan roda dua, pendapatan tercatat turun 3 persen yoy menjadi Rp3,8 triliun akibat penurunan penjualan di bisnis distribusi. Namun, kinerja ini sebagian tertopang oleh pertumbuhan ritel dan pendapatan purna jual, serta efisiensi biaya yang mendorong peningkatan margin laba kotor.
Sementara itu, bisnis penyewaan kendaraan melalui MPMRent mencatat pendapatan turun 4 persen yoy menjadi Rp368 miliar. Meski demikian, laba kotor naik 9 persen yoy menjadi Rp83 miliar dengan margin yang meningkat signifikan, didorong oleh efisiensi dan kontribusi penjualan mobil bekas.
Baca juga: OJK Cegah Pialang dan Reasuransi Ilegal Lewat QR Code STTD
Adapun di segmen pembiayaan, JACCS MPMFinance Indonesia mencatat penurunan pendapatan sebesar 43 persen yoy seiring strategi selektif Perseroan. Langkah ini berhasil menekan beban operasional dan mengurangi rugi bersih sebesar 23 persen yoy menjadi Rp38 miliar.
“Fokus Perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas berhasil mendorong efisiensi operasional dan memperkuat profitabilitas, serta menerapkan disiplin dalam pengelolaan risiko, khususnya pada segmen pembiayaan,” tambah Beatrice. (*) Alfi Salima Puteri


