Poin Penting
- PT Andalan Artha Primanusa membidik pertumbuhan agresif hingga 2028 lewat efisiensi operasional, ekspansi armada, dan selektivitas kontrak
- Andalan menargetkan ekspansi bisnis berkelanjutan sampai 2028 dengan fokus pada penguatan operasional dan peningkatan produktivitas
- Di tengah dinamika industri tambang, Andalan optimistis menjaga pertumbuhan agresif hingga 2028 melalui strategi investasi dan efisiensi.
Jakarta – PT Andalan Artha Primanusa (Andalan) membidik pertumbuhan bisnis agresif hingga 2028 melalui strategi efisiensi operasional, investasi armada, dan selektivitas kontrak.
Target ini dilakukan di tengah dinamika industri pertambangan mineral dan batu bara yang dibayangi ketidakpastian ekonomi global.
Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine, pihaknya terus memperkuat posisinya sebagai kontraktor jasa pertambangan (mining services) dengan mengedepankan operational excellence serta investasi strategis pada peremajaan armada alat berat.
Langkah tersebut dinilai efektif meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar sekaligus menjaga produktivitas operasional di lapangan.
Ia bilang, perusahaan juga mengimplikasikan pendekatan selektif dalam memilih kontrak anyar dalam menjaga kualitas portofolio bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha secara sehat.
Strategi tersebut mulai tercermin pada kinerja keuangan perusahaan. Pada 2025, perseroan mencatat margin Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) sebesar 39 persen dengan nilai Rp145,4 miliar.
Baca juga: Tok! Badan Ekspor Baru Bentukan Prabowo Bernama Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI)
“Dengan dukungan kepastian volume dari berbagai kontrak yang tengah berjalan, Andalan membidik pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) yang ambisius hingga 2028,” ujarnya, dikutip Kamis, 21 Mei 2026.
Lanjutnya, perseroan juga membidik pendapatan tumbuh dengan CAGR sebesar 28 persen, dari target Rp949,6 miliar pada 2026 menjadi Rp1,41 triliun pada 2027, dan meningkat lagi menjadi Rp1,55 triliun pada 2028.
Sejalan dengan itu, EBITDA diproyeksikan meningkat dengan CAGR 21 persen hingga mencapai Rp514,2 miliar pada 2028. Sementara laba bersih ditargetkan melonjak dengan CAGR sebesar 31 persen menjadi Rp223,9 miliar pada periode yang sama.
Ia mengatakan, perusahaan akan tetap menjaga disiplin pertumbuhan agar mampu memberikan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Baca juga: Begini Strategi OK Bank Kembangkan Portofolio Bisnis di 2026
“Fokus kami ke depan adalah menjaga komitmen pertumbuhan yang solid dan terukur ini demi memberikan nilai jangka panjang yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Gahari di Jakarta.
Fondasi Utama Bisnis
Di lain sisi, berbekal pengalaman operasional selama delapan tahun sebagai kontraktor batu bara serta dukungan jajaran manajemen dengan pengalaman lebih dari dua dekade di industri tambang, Andalan menjadikan operational excellence sebagai fondasi utama bisnis.
Menurutnya, perusahaan juga menerapkan model layanan end-to-end mining services melalui sistem operasional terpadu, mulai dari perencanaan, eksekusi, hingga evaluasi berkala. Layanan tersebut mencakup tahapan eksplorasi, aktivitas produksi, hingga reklamasi pascatambang.
Ia menekankan, di tengah kondisi industri yang fluktuatif, kebutuhan terhadap kontraktor pertambangan yang memiliki sistem andal, pengalaman komprehensif, dan akuntabilitas finansial akan terus meningkat.
“Kami akan terus berdiri di garda depan sebagai mitra strategis yang mengawal stabilitas operasional dan mendukung keberlanjutan rantai pasok industri pertambangan di Indonesia,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


