Poin Penting
- ORI030 dinilai menarik karena menawarkan kupon tetap dan dijamin pemerintah
- Fundamental Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen dan peringkat kredit BBB stabil
- Penjualan ORI030 mencapai Rp21,9 triliun, tenor enam tahun cocok untuk investor konservatif.
Jakarta — Obligasi Negara Ritel seri ORI030 dinilai menjadi salah satu instrumen investasi yang menarik di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.
Instrumen surat utang negara tersebut dinilai menawarkan stabilitas, imbal hasil tetap, dan jaminan pemerintah sehingga sesuai bagi investor yang mengutamakan keamanan portofolio.
Pandangan tersebut mengemuka dalam acara UOB Media Literacy bertajuk Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030 yang digelar di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Analis Keuangan Negara Ahli Madya DJPPR Kementerian Keuangan, Chandra A.S. Wibowo, mengatakan kondisi ekonomi nasional tetap terjaga, ditopang pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen dan inflasi Juni 2026 yang berada di level 3,34 persen secara tahunan.
Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berperan sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk meredam dampak gejolak eksternal terhadap perekonomian domestik.
“Dari sisi fundamental fiskal, kondisi Indonesia tetap terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari keputusan S&P yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil,” ujarnya, dikutip Jumat, 17 Juli 2026.
Baca juga: Penerbitan Obligasi Korporasi Turun, Pefindo Beberkan Tantangan Pasar Surat Utang 2026
Ia menyebut, ORI030 menawarkan sejumlah keunggulan, mulai dari kupon tetap untuk tenor tiga tahun dan enam tahun, pajak yang lebih rendah dibandingkan deposito, hingga fleksibilitas karena dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Realisasi penjualan ORI030 hingga 16 Juli 2026 pukul 16.00 WIB telah mencapai Rp21,9 triliun atau mendekati target penerbitan sebesar Rp25 triliun. Masa penawaran ORI030 berlangsung hingga 30 Juli 2026.
“ORI030 sangat cocok untuk orang yang baru pertama kali berinvestasi,” kata Chandra.
Menurut dia, minat masyarakat terhadap Surat Berharga Negara (SBN) Ritel masih tinggi. Selama ini, sekitar 52 persen investor SBN ritel berasal dari kelompok generasi milenial. Pemerintah juga masih akan menawarkan sekitar tiga seri SBN ritel hingga akhir 2026.
Selain memberikan imbal hasil finansial, Chandra mengatakan investasi pada ORI030 juga memberikan manfaat sosial karena dana yang dihimpun digunakan untuk membiayai APBN dan pembangunan nasional.
Khusus tenor enam tahun atau ORI030T6, pemerintah memberikan label SDGs Bond Ritel sebagai bagian dari pembiayaan program pembangunan berkelanjutan.
Saat Tepat Tambah Portofolio Obligasi
Sementara Executive Director Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia, Emillyya Soesanto, menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini cukup menarik.
Namun, di tengah ketidakpastian global, instrumen pendapatan tetap seperti ORI030 tetap layak menjadi pilihan untuk menjaga keseimbangan portofolio investasi.
Baca juga: Bank BJB Tawarkan ORI030, Investasi SBN Ritel dengan Kupon Tetap hingga 7 Persen
“Pada semester II 2026 ini kita melihat peluang investasi terbuka lebar, khususnya di pasar obligasi ritel dengan imbal hasil sekitar 7 persen. ORI030 tenor enam tahun menjadi pilihan yang cocok bagi investor dengan profil konservatif,” ujarnya.
Emillyya mengatakan investor perlu menerapkan pendekatan risk-first dengan mengedepankan kesiapan menghadapi risiko, diversifikasi aset, dan strategi investasi jangka panjang.
Ia bilang, volatilitas merupakan bagian dari siklus pasar sehingga investor tidak perlu menunggu kondisi pasar yang dianggap sempurna untuk mulai berinvestasi.
ORI030 masih ditawarkan pemerintah melalui mitra distribusi, termasuk UOB Indonesia, hingga 30 Juli 2026.
Melalui kegiatan literasi keuangan tersebut, UOB berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membangun portofolio investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan jangka panjang. (*)
Editor: Galih Pratama


