Poin Penting
- Omzet tinggi tidak selalu mencerminkan kesehatan dan kekuatan bisnis UMKM.
- Pelaku UMKM perlu disiplin mencatat keuangan, mengelola arus kas, dan memanfaatkan aset untuk mendukung pertumbuhan usaha.
- Memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, menyiapkan dana darurat, serta memiliki perlindungan finansial penting untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Jakarta – Besarnya omzet sering kali dianggap sebagai indikator utama keberhasilan usaha. Padahal, omzet tinggi belum tentu menjamin bisnis memiliki fondasi yang kuat dan sehat.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan digelarnya Sequis SHEPRENEUR Learning Series oleh PT Asuransi Jiwa Sequis Life (Sequis Life).
Program yang diikuti 60 wirausaha perempuan dari kategori mompreneur, sispreneur, dan youthpreneur tersebut memberikan pembekalan mengenai manajemen bisnis, personal branding, pemanfaatan digital, hingga literasi keuangan.
Chief of Human Resources & Corporate Services Sequis Life, Agustina Samara mengatakan, perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi, terutama melalui sektor UMKM.
“Kami ingin mendampingi wirausaha perempuan memperkuat kapasitas bisnis dan fondasi keuangan agar mampu membangun usaha yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 Juli 2026.
Baca juga: Bukan Modal, Ini Masalah Utama UMKM Perempuan Menurut Wamen PPPA Veronica Tan
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Kementerian UMKM, lebih dari 64 persen UMKM di Indonesia dikelola atau dimiliki oleh perempuan. Namun, masih banyak pelaku usaha yang menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan dan manajemen bisnis.
Omzet Bukan Satu-satunya Ukuran
Praktisi pengembangan usaha Lishia Erza Budiman mengatakan pelaku UMKM perlu mengubah cara pandang dalam menilai kesehatan bisnis. Menurutnya, besarnya omzet bukan satu-satunya ukuran keberhasilan usaha.
“Besarnya omzet bukan satu-satunya indikator bisnis berlangsung dengan sehat. Wirausaha perempuan juga perlu memahami kondisi usahanya melalui pencatatan, pengelolaan arus kas, dan pemanfaatan aset untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang,” katanya.
Baca juga: OJK Ingatkan Bahaya FOMO dan Paylater, Perempuan Diminta Jaga Keuangan Keluarga
Lishia menjelaskan, aset bisnis tidak hanya berupa uang dan barang, tetapi juga pelanggan, reputasi merek, keahlian, hingga jaringan mitra yang dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan usaha.
Karena itu, pelaku UMKM perlu melakukan pencatatan keuangan secara disiplin agar mampu mengambil keputusan bisnis berdasarkan kondisi usaha yang sebenarnya.
Pisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis
Sementara itu, Agency Development Manager Sequis Life, Christle Honora Emilia Monaliza (Chika) mengingatkan bahwa keberlanjutan bisnis juga dipengaruhi oleh kondisi keuangan pribadi dan keluarga.
Menurutnya, banyak pelaku usaha yang masih mencampur keuangan bisnis dengan kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut dapat membuat modal usaha tergerus ketika muncul kebutuhan mendesak.
“Setiap pelaku usaha tentu ingin membangun bisnis yang berkelanjutan. Fondasi keuangan yang kuat akan membantu mengambil keputusan yang lebih bijaksana, memperkuat ketahanan keluarga, dan mendukung pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang,” imbuh Chika.
Baca juga: Tak Semua Utang Merugikan, Perencana Keuangan Jelaskan Alasannya
Ia menyarankan pelaku UMKM membiasakan diri memisahkan keuangan pribadi dan usaha, menjaga arus kas tetap sehat, menyiapkan dana darurat, dan memiliki perlindungan finansial sebagai langkah mitigasi risiko. (*) Alfi Salima Puteri


