Poin Penting
- IHSG turun 29,14 persen sejak awal tahun, namun OJK menilai likuiditas dan ketahanan pasar modal tetap terjaga.
- Jumlah investor pasar modal mencapai 27,75 juta, meningkat 36,27 persen sejak awal 2026.
- Penghimpunan dana korporasi di pasar modal mencapai Rp68,18 triliun, dengan 75 penawaran umum masih dalam pipeline.
Jakarta – Pasar saham domestik masih menghadapi tekanan di tengah tingginya ketidakpastian global dan domestik. Sepanjang Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi 11,92 persen secara bulanan dan turun 29,14 persen sejak awal tahun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fauzi mengatakan tekanan tersebut tidak terlepas dari penyesuaian portofolio yang dilakukan investor di tengah dinamika pasar keuangan global.
Meski demikian, menurut Hasan, pasar modal Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. IHSG ditutup pada level 6.127,38 pada akhir Mei 2026, sementara likuiditas pasar domestik tetap terjaga. Hal itu tercermin dari rata-rata bid-ask spread yang berada pada level rendah, yakni sebesar 1,5 persen.
“Memasuki awal Juni 2026, pasar masih melanjutkan pergerakan yang dinamis dan berada dalam fase konsolidasi yang terus kami cermati perkembangannya dari waktu ke waktu,” ujar Hasan dalam paparan Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK Mei 2026 secara virtual, Jumat, 5 Juni 2026.
Baca juga: IHSG Ambles, Dana Asing Kabur Tembus Rp67,06 Triliun
Meski demikian, kata Hasan, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham sebesar Rp4,1 triliun selama periode laporan.
Reksa Dana dan Jumlah Investor Terus Bertumbuh
Sementara itu, kinerja pasar surat utang menunjukkan perkembangan yang relatif positif. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada akhir Mei 2026 ditutup pada level 437,26 atau menguat 0,32 persen secara bulanan.
Namun, yield Surat Perbendaharaan Negara (SPN) meningkat rata-rata sebesar 5,61 basis poin secara bulanan seiring meningkatnya persepsi risiko akibat ketidakpastian global.
Di sisi industri pengelolaan investasi, kinerja reksa dana tetap menunjukkan ketahanan. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp685,76 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 1,55 persen secara year-to-date. Pertumbuhan tersebut terjadi meskipun pada Mei 2026 investor melakukan net redemption sebesar Rp1,77 triliun.
Secara kumulatif sejak awal tahun, investor reksa dana masih membukukan net subscription sebesar Rp21,61 triliun, mencerminkan minat investasi yang tetap terjaga.
Baca juga: Di Tengah Reli Emerging Markets, IHSG Tertinggal dari Korea Selatan
Adapun jumlah investor pasar modal terus melanjutkan tren peningkatan. Hingga Mei 2026, jumlah investor bertambah sekitar 1,26 juta sehingga total investor pasar modal mencapai 27,75 juta atau tumbuh 36,27 persen secara year-to-date.
Penghimpunan Dana Korporasi Tembus Rp68 Triliun
Lebih lanjut, Hasan menegaskan bahwa pasar modal domestik masih menjalankan fungsi strategis sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha dan pemerintah.
“Hingga akhir Mei 2026 secara year-to-date, nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai Rp68,18 triliun,” tegasnya.
Selain itu, terdapat 75 rencana penawaran umum yang masih berada dalam pipeline dengan nilai indikatif mencapai Rp64,26 triliun.
Di sisi lain, penghimpunan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) terus berkembang dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp1,94 triliun.


