OJK: Outlook Negatif Himbara Dipicu Faktor Eksternal, Bukan Fundamental

OJK: Outlook Negatif Himbara Dipicu Faktor Eksternal, Bukan Fundamental

Poin Penting

  • Outlook bank jumbo termasuk Himbara jadi negatif akibat faktor eksternal dan perubahan outlook sovereign Indonesia.
  • Fundamental Himbara tetap kuat dengan rating masih investment grade.
  • Dampak terbatas, hanya berpotensi menaikkan cost of fund dan volatilitas saham jangka pendek.

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan revisi outlook negatif terhadap bank-bank jumbo di Indonesia, termasuk Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) oleh beberapa lembaga rating yaitu Moody’s dan Fitch lebih dipengaruhi faktor eksternal dan dinamika makroekonomi global seiring dengan perubahan outlook sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Sebagaimana diketahui, lembaga pemeringkat internasional tersebut mengubah outlook atau proyeksi lima bank jumbo di Indonesia dari stabil menjadi negatif di antaranya, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN).

“Penyesuaian tersebut lebih mencerminkan faktor eksternal dan dinamika makroekonomi global, serta keterkaitan dengan profil sovereign, dan bukan karena penurunan fundamental kinerja bank-bank dimaksud,” kata Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK dalam jawaban tertulis, dikutip, Jumat, 13 Maret 2026.

Baca juga: OJK Buka-bukaan Soal Dampak Konflik Timur Tengah ke Perbankan RI

Dian mengatakan, di tengah ketidakpastian global, Himbara juga terus menunjukkan kinerja intermediasi yang stabil dan peran strategisnya dalam mendukung pembiayaan sektor riil dan program prioritas pemerintah.

“Dengan demikian, outlook negatif lebih merupakan sinyal kewaspadaan terhadap risiko eksternal dan fiskal, bukan indikasi langsung adanya tekanan pada kesehatan bank,” ungkapnya.

OJK menilai perubahan outlook sovereign dapat meningkatkan risk premium yang akan berdampak pada meningkatnya cost of fund secara moderat dan memicu volatilitas jangka pendek di beberapa saham Bank Himbara.

Namun demikian, akses keuangan Himbara ke pasar global masih tetap terjaga dan valuasi saham Bank Himbara tetap menarik yang dipertegas dengan peringkat kredit (rating) masing-masing Himbara tetap dipertahankan pada level investment grade, menunjukkan keyakinan yang kuat terhadap kondisi permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, kualitas aset yang terjaga, serta profitabilitas yang tetap resilien.

“Selain itu, investor global juga masih memiliki appetite terhadap emerging market seperti Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi global,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Himbara memiliki keunggulan struktural yang sangat kuat dan terdiversifikasi, yaitu jaringan yang luas dan terintegrasi, baik di dalam negeri maupun di beberapa pusat keuangan internasional.

Jaringan domestik yang menjangkau berbagai wilayah, sektor, dan lapisan masyarakat menjadi fondasi utama dalam memperluas inklusi keuangan dan mendukung pembiayaan sektor produktif.

Sementara itu, keberadaan jaringan internasional memperkuat kapasitas pembiayaan perdagangan, transaksi lintas negara, serta akses terhadap sumber pendanaan global.

Optimalisasi jaringan tersebut terbukti memperluas basis nasabah yang beragam sekaligus memperdalam penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK).

“Pertumbuhan dana murah (CASA) yang berkelanjutan mencerminkan tingkat kepercayaan publik yang tetap kuat terhadap Bank Himbara, sekaligus memperkuat struktur pendanaan yang efisien dan stabil,” tandasnya.

Dian menyebut, dengan fondasi jaringan yang kokoh, transformasi digital yang terus berjalan, serta penguatan model bisnis yang berorientasi jangka panjang, Bank Himbara memiliki ketahanan yang baik dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan.

“OJK memastikan bahwa seluruh pengembangan tersebut dilakukan secara prudent, sehingga ekspansi bisnis berjalan seimbang dengan pengelolaan risiko yang disiplin dan berkelanjutan,” paparnya.

Baca juga: Ekonom Ingatkan PR Besar Pimpinan Baru OJK, dari Pasar Modal hingga Risiko BPR

Dari sisi pengawasan, OJK memastikan bahwa tata kelola, manajemen risiko, dan pencadangan dilakukan secara prudent dan sesuai dengan standar internasional. ketahanan perbankan nasional, termasuk Bank Himbara, saat ini berada pada level yang kuat dengan rasio permodalan dan likuiditas yang memadai untuk mengantisipasi berbagai potensi risiko ke depan.

“OJK meyakini bahwa fundamental Himbara tetap kuat, kinerjanya terjaga, dan sistem perbankan nasional berada dalam kondisi yang sehat dan stabil,” imbuh Dian.

OJK juga menghormati metodologi dan pandangan setiap lembaga pemeringkat internasional serta memandang bahwa penyesuaian outlook ini bersifat dapat berubah kembali (reversible) seiring dengan perbaikan prospek perekonomian global dan domestik serta penguatan indikator fiskal dan eksternal, outlook tersebut berpotensi kembali stabil maupun positif.


Fundamental Himbara Solid

Hingga akhir tahun 2025, OJK menegaskan bahwa kinerja fundamental Himbara tetap solid, resilien, dan terkelola dengan baik. Struktur permodalan kuat, likuiditas memadai, serta kualitas aset yang terkendali menjadi fondasi utama ketahanan bank-bank tersebut di tengah dinamika ekonomi global.

Dari sisi intermediasi, mayoritas Himbara mencatatkan pertumbuhan kredit double digit, melampaui pertumbuhan kredit industri perbankan yang sebesar 9,6 persen (BNI tumbuh sebesar 10,13 persen; Bank Mandiri tumbuh sebesar 14,13 persen; BRI tumbuh sebesar 10,41 persen dan BTN tumbuh sebesar 11,90 persen).

Di sisi pendanaan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap tinggi (BNI tumbuh sebesar 14,72 persen; Mandiri tumbuh sebesar 26,21 persen; BRI tumbuh sebesar 7,35 persen dan BTN tumbuh sebesar 14,62 persen), terutama pada komponen CASA, yang menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat tetap kuat dan kondisi likuiditas berada pada level yang sangat terjaga. 

Ketahanan permodalan juga berada pada level yang sangat kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) Himbara berada di kisaran 18–21 persen, jauh di atas ketentuan minimum sesuai profil risiko masing-masing bank.

“Ini memberikan ruang ekspansi bisnis yang memadai sekaligus menjadi bantalan yang kuat dalam mengantisipasi potensi risiko ke depan,” bebernya.

Dari aspek kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL Gross) berada pada kisaran kurang dari 1 persen hingga 3 persen, dengan Loan at Risk (LaR) tetap terkendali dan didukung pembentukan cadangan yang memadai. Hal ini mencerminkan penerapan tata kelola dan manajemen risiko yang prudent, khususnya dalam menjaga kualitas penyaluran kredit.

Sepanjang 2025, Bank Himbara juga membukukan laba yang baik, mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan, efisiensi, kualitas aset, dan penguatan manajemen risiko.

Terkait eksposur surat utang dalam valuta asing, posisinya berada pada level yang terkelola dengan baik. Strategi lindung nilai (hedging) telah dilakukan secara memadai, dengan profil jatuh tempo surat berharga yang terdiversifikasi sehingga risiko pasar dan risiko nilai tukar dapat dimitigasi secara optimal. 

Memasuki tahun 2026, sesuai rencana bisnis yang telah disampaikan kepada OJK, Bank Himbara akan terus tumbuh secara sehat dengan memperkuat langkah-langkah antisipatif terhadap berbagai risiko, baik internal maupun eksternal. Fokus penguatan dilakukan pada pengelolaan likuiditas dan permodalan, pemeliharaan kualitas kredit/pembiayaan, serta peningkatan ketahanan operasional.

“Dengan kinerja, permodalan, dan manajemen risiko yang kuat tersebut, OJK memandang Bank Himbara tetap berada dalam kondisi sehat dan memiliki kapasitas yang memadai untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” ungkap Dian. (*)

Editor: Galih Pratama

Halaman12

Related Posts

News Update

Netizen +62