Poin Penting
- Ekonomi digital RI tembus USD100 miliar, namun masih ditopang konsumsi, bukan wirausaha digital
- Pembeli online melonjak, sementara jumlah pelaku usaha digital cenderung stagnan
- Transformasi digital perlu fokus mencetak lebih banyak wirausaha berbasis internet.
Jakarta – Nilai ekonomi digital Indonesia terus melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Disokong kenaikan jumlah pengguna internet dan transaksi e-commerce, nilai nilai ekonomi digital nasional kini disebut sudah mencapai USD100 miliar.
Sayangnya, di balik lonjakan itu, jumlah masyarakat Indonesia yang memanfaatkan internet untuk berwirausaha cenderung stagnan. Kenaikan nilai ekonomi digital di Indonesia lebih banyak ditopang konsumi.
Menurut peneliti NEXT Indonesia Center, Rezky Reza Pratama, tren pertumbuhan konomi digital Indonesia saat ini belum sepenuhnya mencerminkan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan internet untuk kegiatan produktif.
“Manfaat ekonomi digital masih lebih banyak dinikmati sebagai sarana konsumsi dibandingkan sebagai sumber penghasilan. Sementara ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari besarnya transaksi, tetapi juga dari berapa banyak masyarakat yang mampu memperoleh penghasilan melalui platform digital,” kata Reza dalam riset Next Indonesia Center bertajuk “Perilaku Digital Kelas Menengah”, dikutip Senin, 6 Juli 2026.
Riset itu menunjukkan, pertumbuhan ekonomi digital nasional utamanya ditopang meningkatnya jumlah masyarakat yang berbelanja online (daring) dibandingkan bertambahnya pelaku usaha digital.
Menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, riset Next Indonesia Center menunjukkan, jumlah masyarakat yang membeli barang atau jasa secara online melonjak dari 14,9 juta orang pada 2019 menjadi 54 juta orang pada 2025. Artinya, dalam enam tahun terakhir, ada lonjakan 39,1 juta pembeli online.
Baca juga: Mendag Wajibkan Pedagang E-Commerce Punya Nomor Induk Berusaha, Ini Alasannya
Sebaliknya, pertumbuhan pelaku usaha digital atau masyarakat yang memanfaatkan internet untuk berjualan jauh lebih lambat. masih jauh lebih lambat.
Jumlahnya hanya naik dari 5,9 juta pada 2019 menjadi 9,7 juta pada 2025. Dalam tiga tahun terakhir, jumlahnya memang relatif stagnan, di kisaran 9 juta orang.
Reza menyebut, kondisi itu menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi digital Indonesia masih lebih kuat sebagai pasar konsumsi dibandingkan sebagai ruang lahirnya pelaku usaha baru.
“Manfaat ekonomi digital masih lebih banyak dinikmati sebagai sarana konsumsi dibandingkan sebagai sumber penghasilan. Sementara ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari besarnya transaksi, tetapi juga dari berapa banyak masyarakat yang mampu memperoleh penghasilan melalui platform digital,” lanjutnya.
Kondisi ini menunjukkan keberhasilan platform digital memudahkan masyarakat berbelanja, tapi belum sepenuhnya diikuti peningkatan jumlah masyarakat yang mampu memanfaatkan internet sebagai sumber pendapatan.
“Platform digital berhasil memudahkan masyarakat berbelanja, namun jumlah masyarakat yang mampu naik kelas menjadi pelaku usaha digital belum bertambah secepat pertumbuhan konsumennya. Ini menjadi tantangan besar bagi agenda ekonomi digital Indonesia,” tegasnya.
Riset itu juga memperlihatkan bahwa pemanfaatan internet untuk kegiatan ekonomi masih dipengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang, semakin besar peluangnya memanfaatkan internet untuk menghasilkan nilai ekonomi.
Pada kelompok masyarakat miskin, hanya sekitar 11,43 persen pengguna internet yang berbelanja secara daring. Sedangkan yang menggunakan internet untuk berjualan hanya 2,07 persen.
Sementara, pada kelompok masyarakat kelas atas, lebih dari separuh pengguna internet atau 54,49 persen sudah melakukan pembelian secara daring. Adapun sekitar 11,64 persen kelompok ini memanfaatkan internet sebagai sarana menjual barang maupun jasa.
Temuan ini menegaskan bahwa tantangan transformasi digital Indonesia kini tidak lagi sekadar memperluas akses internet. Tapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat memanfaatkan internet sebagai alat untuk menciptakan pendapatan dan memperluas kesempatan ekonomi.
“Sebagian besar masyarakat Indonesia memang sudah terhubung ke internet. Persoalannya sekarang bukan lagi siapa yang terkoneksi, melainkan siapa yang mampu mengubah koneksi itu menjadi peluang ekonomi. Di sinilah pekerjaan besar kita masih ada,” bebernya.
Baca juga: Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli Resmi Pungut Pajak Pedagang Online Mulai Agustus
Reza menyebut, kelompok menuju kelas menengah menjadi penentu masa depan ekonomi digital Indonesia. Jumlahnya mencapai sekitar 142 juta penduduk dengan lebih dari 108 juta pengguna internet, sekaligus menjadi basis pengguna e-commerce terbesar di Indonesia.
Jika semakin banyak masyarakat dalam kelompok tersebut mampu memanfaatkan platform digital untuk berwirausaha, dampaknya diyakini tidak hanya meningkatkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga memperluas basis pelaku usaha nasional.
“Agenda ekonomi digital ke depan perlu bergeser dari sekadar memperluas akses, menuju memperdalam pemanfaatan. Internet harus semakin banyak digunakan untuk bekerja, berusaha, memperluas pasar, dan menciptakan nilai tambah,” pungkasnya. (*) Ari Astriawan


