Poin Penting
- 27 BPD perkuat sinergi nasional melalui Munas Asbanda ke-25 untuk mendorong ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
- BPD didorong naik kelas menjadi penggerak ekonomi daerah, tidak hanya sebagai pengelola dana, tetapi juga orkestrator keuangan regional.
- Kinerja BPD tetap tumbuh positif, tercermin dari peningkatan kredit, DPK, dan aset hingga akhir 2025.
Surakarta – Sebanyak 27 Bank Pembangunan Daerah se-Indonesia (BPDSI) menghadiri acara Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) ke-25 yang digelar di Hotel Alila, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat, 17 April 2026.
Mengusung tema “Meningkatkan Kerja Sama dan Sinergi antar BPD untuk Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan”, Munas Asbanda 2026 membahas sejumlah agenda strategis dalam meningkatkan peran BPD sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asbanda, Rokidi mengatakan, pertemuan BPDSI dalam Munas Asbanda kali ini menjadi momentum konsolidasi nasional untuk menyatukan langkah, menyamakan arah, dan memperkuat sinergi. “Kita harus bergerak sebagai satu kekuatan kolektif yang saling mendukung, saling memperkuat dan bersama-sama menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” ujar Rokidi.
Oleh karenanya, dalam Munas Asbanda ke-25, salah satu agenda penting yang akan dibahas adalah Pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Keuangan Asbanda Tahun 2026. Kata Rokidi, agenda ini memiliki peran sebagai fondasi arah strategis organisasi dalam satu tahun ke depan.
“Rencana kerja dan anggaran keuangan ini akan mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat kinerja BPD agar lebih adaptif, kompetitif, dan berkontribusi optimal terhadap pembangunan ekonomi daerah,” jelas Rokidi.
Peran Krusial BPD
Asbanda terus mempertegas perannya dalam mendorong transformasi BPD agar semakin berdaya saing dan adaptif di tengah dinamika industri keuangan. Melalui berbagai inisiatif strategis, Asbanda menargetkan BPD tidak hanya menjadi lembaga intermediasi, tetapi juga berfungsi sebagai agent of regional development yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
“BPD tidak boleh hanya menjadi tempat parkir dana pemerintah daerah. BPD harus naik kelas menjadi orkestrator pengelolaan keuangan daerah, penjaga stabilitas likuiditas, sekaligus akselerator pertumbuhan ekonomi regional,” tegas Rokidi.
Baca juga: Ketua Asbanda: BPD Harus jadi Orkestrator Keuangan Daerah, Bukan Sekadar Penyalur Dana
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Asbanda menjalankan sejumlah mandat penting yang berfokus pada penguatan kolaborasi dan peningkatan kapabilitas BPD secara nasional. Salah satu langkah utama adalah mendorong sinergi antar-BPD yang saling menguntungkan, sekaligus memperkuat kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Sinergi ini dinilai krusial untuk menciptakan skala ekonomi yang lebih besar serta memperluas akses layanan keuangan di daerah,” jelas Rokidi yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat (Bank Kalbar).
Selain itu, kata Rokidi, Munas Asbanda 2026 juga akan melaporkan pertanggungjawaban pengurus Asbanda terkait kegiatan dan keuangan Asbanda tahun 2025 dan membahas rencana Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) BPDSI.
Melalui rangkaian langkah strategis tersebut, Asbanda optimistis BPD dapat memainkan peran yang semakin signifikan dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Rangkaian Munas Asbanda ke-25
Sebagai rangkaian dari Munas Asbanda ke-25, Asbanda juga menggelar Seminar Nasional BPD se-Indonesia dengan tema “Memperkuat Peran BPD sebagai Mitra Strategis Pemerintah Daerah melalui Inovasi Pembiayaan dan Pinjaman Daerah” dan ditutup dengan acara puncak penarikan undian Tabungan Simpeda BPDSI ke-2 Tahun XXXVI 2026 yang berhadiah total Rp3 miliar.
“Tabungan Simpeda BPD ini adalah benar-benar sebagai pemersatu BPD se-Indonesia, dan program ini adalah bagian dari transformasi BPD, yakni dalam rangka penguatan produk dan layanan BPD agar semakin bersaing dengan produk-produk bank lainnya,” jelas Rokidi.
Baca juga: Seminar Nasional BPD: Peran Strategis BPD di Tengah Penurunan TKD
Kinerja BPDSI
Dalam perkembangannya, Asbanda mencatat saat ini terdapat ada 27 BPD yang tersebar di wilayah Indonesia. Rinciannya, terdiri dari 24 BPD konvensional dan 3 BPD syariah.
Sementara dari sisi kinerja, BPDSI konsisten mencatatkan kinerja positif setiap tahunnya. Sebagai motor penggerak ekonomi daerah, BPD mampu membantu menggerakkan roda bisnis UMKM dan lainnya di daerah lewat penyaluran kredit atau pembiayaan. Hingga Desember 2025, realisasi kredit dan pembiayaan BPDSI mencapai Rp661,54 triliun. Angka ini tumbuh 2,07 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp648,09 triliun. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BPDSI juga mengalami kenaikan 5,36 persen dari Rp751,45 triliun pada 2024 menjadi Rp791,73 triliun di 2025. Sejalan dengan kinerja intermediasi yang solid, total aset BPDSI ikut terdongkrak 4,08 persen menjadi Rp1.060,70 trilun per Desember 2025. (*)







