Poin Penting:
- IMF memperingatkan Uni Eropa dapat mendekati resesi jika guncangan energi dan pengetatan keuangan terus berlanjut.
- Harga energi industri Eropa kini dua kali lipat dibanding sebelum 2022 dan jauh lebih tinggi daripada di AS.
- Proyeksi pertumbuhan Inggris diturunkan IMF, sementara inflasi negara itu diperkirakan mencapai 3,2 persen tahun ini.
Jakarta – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa Uni Eropa berada dalam bayang-bayang resesi seiring tekanan inflasi yang mendekati 5 persen. Potensi pelemahan ekonomi ini dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu guncangan pasokan energi dan memperketat kondisi keuangan.
Kepala Departemen Eropa IMF Alfred Kammer menyatakan kondisi tersebut dapat berkembang menjadi tekanan ekonomi yang lebih dalam jika gangguan suplai berlangsung lama. Ia menegaskan bahwa tidak ada negara Eropa yang akan terbebas dari efek rambatan situasi geopolitik ini.
IMF juga menyoroti kebijakan moneter kawasan, terutama langkah bank sentral dalam merespons kenaikan inflasi yang masih menekan daya beli dan aktivitas ekonomi.
Baca juga: Purbaya Tegaskan Indonesia Tak Butuh Bantuan Pinjaman dari IMF
IMF: Uni Eropa Terancam Resesi Jika Guncangan Energi Berlanjut
Dalam penjelasannya, Kammer menegaskan kembali bahwa tekanan ekonomi tidak akan mengecualikan negara mana pun di kawasan. “Kami melihat dalam skenario yang lebih parah, guncangan pasokan yang berkelanjutan dan pengetatan kondisi keuangan bisa mendorong UE mendekati resesi dengan inflasi hampir 5 persen,” katanya, dikutip Antara, Jumat (17/4).
Lembaga tersebut turut memperkirakan Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin hingga akhir 2026, mengikuti meningkatnya ekspektasi inflasi jangka pendek. Kammer menjelaskan bahwa respons kebijakan dapat berubah tergantung perkembangan pasar energi global dalam beberapa minggu ke depan.
Meski inflasi zona euro mulai mendekati target dan ekspektasi jangka menengah relatif stabil, IMF menilai ECB masih punya ruang untuk mengamati dampak konflik sebelum menentukan langkah lanjutan. Fokus utama tekanan inflasi saat ini datang dari lonjakan harga energi.
Kammer menegaskan, “Harga energi industri di UE kini sekitar dua kali lipat dibanding sebelum 2022 dan jauh lebih tinggi daripada di AS.” Faktor utama yang memperburuk situasi ini adalah ketergantungan kawasan pada impor energi serta fragmentasi pasar energi di Eropa.
Selain itu, IMF juga menilai Inggris masih memerlukan kebijakan moneter yang ketat untuk menahan laju inflasi. Proyeksi pertumbuhan ekonomi negara tersebut untuk 2026 bahkan diturunkan lebih tajam dibandingkan anggota Group of Seven (G7) lainnya. Inflasi Inggris tahun ini diperkirakan mencapai 3,2 persen.
Baca juga: Purbaya: IMF, Bank Dunia hingga Investor Global Nilai Positif Arah Fiskal RI
Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves (Rachel Reeves) mengatakan bahwa eskalasi konflik Timur Tengah menimbulkan tantangan signifikan bagi perekonomian negaranya.
Dengan tekanan inflasi, gangguan energi, dan ketidakpastian geopolitik, peringatan IMF menjadi sinyal kuat bahwa kawasan Eropa harus mempersiapkan diri menghadapi potensi resesi yang semakin nyata. (*)
Editor: Galih Pratama







