Poin Penting:
- Muliaman D. Hadad mengusulkan sertifikasi agen sebagai fondasi interoperabilitas dan percepatan inklusi keuangan.
- Interoperabilitas antarbank dinilai perlu dilakukan secara bertahap untuk menjaga stabilitas dan mitigasi risiko.
- Penguatan kualitas jaringan dan infrastruktur desa menjadi syarat penting keberlanjutan branchless banking.
Jakarta – Upaya mempercepat inklusi keuangan kembali mengemuka dalam peluncuran buku Branchless Banking karya Osbal Saragi Rumahorbo. Dalam sambutannnya, Wakil Ketua Dewan Pembina Danantara Indonesia, Muliaman D. Hadad menegaskan perlunya koreksi kebijakan agar model agen perbankan tetap relevan di tengah pesatnya digitalisasi.
Ia menyoroti tiga rekomendasi inti, yakni sertifikasi agen, jaminan kualitas jaringan di desa, dan pembukaan interoperabilitas antarbank secara bertahap.
Menurut Mulyaman, model agen seperti BRILink milik Bank Rakyat Indonesia (BRI) terbukti mampu bertahan bahkan tumbuh di tengah ekspansi layanan digital. Namun, momentum tersebut dinilai perlu dijaga melalui penguatan struktur kebijakan.
Tanpa perbaikan menyeluruh, menurutnya, branchless banking akan terus tertinggal dari bank digital yang berkembang agresif.
Baca juga: Volume Transaksi BRILink Capai Rp1.592 Triliun per November 2025
Karena itu, ia menyodorkan strategi “jalan tengah” sebagai pendekatan realistis, terutama untuk menjawab persoalan kesiapan agen, infrastruktur, serta tata kelola risiko.
Sertifikasi Agen sebagai Fondasi Baru Inklusi Keuangan
Dalam pandangan Muliaman, sertifikasi agen menjadi syarat mutlak untuk penguatan layanan, sekaligus langkah awal menuju interoperabilitas.
“BI maupun OJK bisa melakukan program sertifikasi agen agar dia bisa memenuhi interoperability dengan yang lain,” katanya di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (22/5/2026). Pernyataan ini ditujukan kepada dua otoritas utama, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI).
Menurutnya, sertifikasi memungkinkan pemetaan kualitas agen dalam beberapa level—dari kesiapan dasar hingga tingkat lanjutan. Agen bersertifikat akan menjadi kandidat pertama untuk mengakses interoperabilitas, sehingga peningkatan mutu berjalan berjenjang dan terukur.
Baca juga: Muliaman Hadad Bicara Tantangan dan Masa Depan Branchless Banking
Lebih jauh, strategi ini menjaga agar inklusi keuangan tetap merata, tidak hanya bergantung pada satu bank atau satu model layanan. Muliaman menekankan bahwa interoperabilitas tidak boleh dibuka secara tiba-tiba karena masih banyak agen yang belum siap, baik dari sisi kapasitas, keamanan, maupun literasi digital.
BRILink Sebagai Model Phygital: Bukti Agen Masih Relevan
Muliaman menilai BRILink menjadi contoh “anomali positif” di tengah disrupsi digital.
“Di tengah disrupsi digital, agen BRILink justru meledak,” ujarnya. Dengan lebih dari satu juta agen di 62.000 desa, jaringan BRILink bahkan mencatat volume transaksi di atas Rp1.000 triliun.
Baca juga: Osbal Saragi Rumahorbo Luncurkan Buku Branchless Banking, Ini Pesan Misbakhun
Model phygital—menggabungkan kehadiran fisik dan kapabilitas digital—dianggap menjadi kunci. Budaya masyarakat desa yang masih mengutamakan tatap muka membuat kehadiran agen tetap relevan meskipun layanan digital berkembang cepat.
Keberhasilan ini ditopang oleh komisi yang menarik, ekosistem usaha satu atap, serta peran agen sebagai pusat transaksi dan penyalur kredit mikro. Bagi Muliaman, fakta tersebut menunjukkan branchless banking tidak mati, tetapi harus terus ditingkatkan kualitasnya.


