Poin Penting
- MSCI menilai perubahan indeks Agustus menjadi sinyal serius bagi daya tarik pasar modal Indonesia
- Risiko utama bukan GOTO dan CPIN, tetapi potensi berkurangnya keterwakilan saham Indonesia di indeks global.
- Review MSCI November menjadi ujian kredibilitas dan daya tarik pasar modal Indonesia.
Jakarta – Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menghapus sejumlah saham RI dari indeks global dinilai tak hanya menjadi tekanan teknis dalam jangka pendek.
Di balik itu, terdapat sinyalemen serius terhadap daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.
“Dalam jangka pendek, perubahan komposisi Agustus terutama merupakan tekanan teknis; tetapi dalam konteks yang lebih luas, saya menilainya sebagai tanda peringatan yang cukup serius bagi daya tarik pasar modal Indonesia,” ujar Chief Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, saat dikonfirmasi Infobanknews, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurut Josua, perubahan indeks MSCI tersebut tak terjadi secara terpisah. Sebelumnya, MSCI telah menurunkan penilaian Indonesia untuk kriteria keterbukaan dan arus informasi menjadi negatif lantaran kekhawatiran mengenai transparansi dan kemudahan berinvestasi bagi pemodal global.
MSCI sendiri masih meninjau Indonesia hingga November 2026 dengan perhatian utama pada keterbukaan struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
Bahkan, MSCI secara resmi menyatakan bahwa apabila kemajuan yang memadai belum terlihat menjelang peninjauan November, lembaga tersebut dapat mempertimbangkan perlakuan lebih lanjut terhadap Indonesia.
Baca juga: GOTO Keluar dari MSCI dan CPIN Turun Kelas, Ini Catatan untuk Pasar Modal RI
“Termasuk kemungkinan konsultasi untuk menurunkan klasifikasi Indonesia dari kelompok pasar berkembang ke kelompok pasar yang lebih rendah,” jelasnya.
Selain itu, kata Josua, dalam peninjauan Agustus, MSCI masih membekukan kenaikan porsi saham Indonesia yang dapat diperhitungkan. Lembaga tersebut juga tak mengizinkan penambahan baru ke kelompok indeks investasinya, dan tidak memperbolehkan perpindahan naik dari kelompok kapitalisasi kecil ke indeks standar.
“Jadi, persoalan yang lebih besar bukan dua saham yang keluar pada Agustus, tetapi risiko menyusutnya keterwakilan Indonesia dalam indeks global apabila persoalan transparansi dan akses pasar tidak segera diselesaikan,” bebernya.
Diketahui, dalam hasil review MSCI Agustus 2026, Indonesia tetap bertahan dalam kelompok emerging markets.
Namun, terjadi penyesuaian komposisi saham Indonesia dalam indeks tersebut. MSCI mengeluarkan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari MSCI Global Standard Indexes. Sementara itu, CPIN masuk ke kategori MSCI Global Small Cap Indexes.
Bukan Sekadar Menahan IHSG
Lebih lanjut, Josua menilai respons pemerintah dan otoritas pasar modal tak seharusnya diarahkan untuk menahan penurunan harga saham menjelang pelaksanaan perubahan indeks MSCI pada 31 Agustus 2026.
Baca juga: MSCI Hapus Saham RI, Bagaimana Nasib Rupiah dan Aliran Modal Asing?
Menurutnya, prioritas utama adalah memulihkan kepercayaan sebelum peninjauan MSCI November 2026. Di lain sisi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dinilai perlu mempercepat penerapan keterbukaan pemegang saham hingga kepemilikan akhir.
Selain itu, porsi saham publik harus benar-benar mencerminkan saham yang tersedia untuk diperdagangkan dan melakukan pengawasan terhadap transaksi yang terindikasi terkoordinasi perlu diperkuat.
“Memastikan data kepemilikan dan transaksi dapat diverifikasi secara konsisten oleh pemodal global,” tambahnya.
Josua bilang, arah reformasi tersebut sebenarnya sudah dimulai melalui peningkatan transparansi kepemilikan saham, perbaikan ketentuan porsi saham publik, dan penguatan pengawasan pasar.
Namun yang kini dinilai MSCI bukan lagi sekadar pengumuman kebijakan, melainkan bukti penerapan yang konsisten dan terlihat hasilnya.
Dampak Langsung Diperkirakan Terbatas
Ia menegaskan, penghapusan dua saham RI yakni GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), penurunan kelompok Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), serta keluarnya sejumlah saham kapitalisasi kecil dari indeks dinilai tak secara otomatis mengguncang seluruh pasar.
“Dampak langsungnya kemungkinan terkonsentrasi pada saham terkait dan arus asing menjelang 31 Agustus, sedangkan dampak terhadap rupiah masih dapat diredam selama aliran dana ke SBN dan SRBI tetap positif,” imbuhnya.
Josua menambahkan, pesan paling penting dibalik perubahan tersebut yakni keterwakilan Indonesia dalam indeks global sedang menghadapi tekanan ketika arus dana asing ke saham sepanjang 2026 juga masih negatif.
Josua juga memperkirakan peninjauan klasifikasi MSCI berpotensi membatasi masuknya dana asing ke saham. Sementara itu, keberlanjutan arus modal dalam jangka menengah akan sangat bergantung pada reformasi yang memperkuat kepercayaan dan iklim investasi.
“Jadi, Agustus adalah tekanan jangka pendek, tetapi November merupakan ujian yang jauh lebih strategis bagi kredibilitas dan daya tarik pasar modal Indonesia,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


