Poin Penting
- Penghapusan saham Indonesia dari indeks MSCI berpotensi memicu aksi jual investor yang mengikuti indeks.
- Dampak terhadap rupiah dinilai terbatas jika dana asing tetap bertahan di SBN dan SRBI.
- Risiko tekanan rupiah meningkat jika aksi jual saham meluas menjadi arus modal keluar dari aset Indonesia.
Jakarta – Perubahan komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menghapus 10 saham Indonesia berpotensi memengaruhi aliran modal asing hingga nilai tukar rupiah..
Chief Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengatakan penghapusan saham Indonesia dari indeks acuan MSCI berisiko mendorong aksi jual oleh dana yang mengikuti indeks tersebut.
“Terhadap aliran modal dan rupiah, arah dampaknya negatif, tetapi besarnya tidak boleh dilebih-lebihkan. Penghapusan saham dari indeks acuan akan mendorong penjualan oleh dana yang mengikuti MSCI,” ujar Josua, saat dihubungi Infobanknews, Kamis, 13 Agustus 2026.
Baca juga: Didepak dari Indeks MSCI, GOTO Tegaskan Kinerja Bisnis Tetap Positif
Menurutnya, apabila hasil penjualan saham kemudian dikonversi ke dolar AS dan dibawa keluar dari Indonesia, permintaan terhadap dolar AS akan melonjak sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah.
Namun, dua dokumen MSCI yang tersedia tidak mencantumkan bobot baru setiap saham maupun jumlah dana global yang mengikuti masing-masing indeks. Dengan demikian, potensi arus keluar akibat perubahan MSCI pada Agustus 2026 belum dapat dihitung secara akurat hanya berdasarkan dokumen tersebut.
“Besaran potensi arus modal keluar akibat perubahan MSCI pada Agustus 2026 belum dapat dihitung secara akurat. Pasalnya, dokumen MSCI yang tersedia tidak mencantumkan bobot baru masing-masing saham maupun jumlah dana global yang mengikuti setiap indeks,” bebernya.
Dampak MSCI ke Rupiah Tak Satu Banding Satu
Lebih lanjut, Josua menilai hubungan antara aksi jual saham oleh investor asing dan pergerakan rupiah tak bersifat satu banding satu.
Ia mencontohkan, hingga awal Agustus 2026, investor asing telah mencatatkan arus keluar sekitar 4,12 miliar dolar AS dari pasar saham. Namun, pada periode yang sama terdapat arus masuk sekitar 9,41 miliar dolar AS ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan 0,61 miliar dolar AS ke Surat Berharga Negara (SBN).
“Sehingga keseluruhan investasi portofolio asing masih mencatat arus masuk sekitar 5,90 miliar dolar AS,” jelasnya.
Baca juga: SRBI Makin Menarik, BI Catat Aliran Modal Asing Tembus Rp54,3 Triliun
Menurut Josua, selama tekanan akibat perubahan MSCI hanya terjadi di pasar saham dan dana asing tetap bertahan pada SBN dan SRBI, dampaknya terhadap rupiah kemungkinan relatif terbatas.
Sebaliknya, risiko akan meningkat tajam apabila perubahan MSCI memicu penilaian ulang yang lebih luas terhadap aset Indonesia. Kondisi tersebut dapat terjadi jika aksi jual saham diikuti keluarnya dana asing dari pasar obligasi dan SRBI.
Cadangan Devisa Jadi Bantalan Rupiah
Josua mengatakan rupiah masih memiliki bantalan dari sisi cadangan devisa. Namun, ruang penyangga tersebut tetap terbatas.
Cadangan devisa Indonesia tercatat turun dari 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni menjadi 145,3 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026.
Baca juga: IHSG Dibuka Bergerak Dua Arah usai Review MSCI, Sempat Menguat ke 6.388
Penurunan tersebut disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah.
Meski menurun, posisi cadangan devisa tersebut masih dinilai cukup memadai. Cadangan devisa setara dengan sekitar 5,5 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
“Karena itu, saya tidak melihat penyesuaian MSCI ini sendirian akan menyebabkan tekanan besar terhadap rupiah,” ujarnya.
Risiko Rupiah Jika Outflow Meluas
Meski demikian, Josua mengingatkan adanya risiko terhadap rupiah bisa melonjak jika aksi jual saham akibat perubahan MSCI terjadi bersamaan dengan sejumlah tekanan eksternal.
Faktor tersebut antara lain penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta berkurangnya arus modal asing ke SBN dan SRBI.
Dalam kondisi tersebut, tekanan terhadap rupiah dapat menjadi lebih besar karena BI perlu menggunakan cadangan devisa lebih besar untuk meredam volatilitas nilai tukar.
“Dengan kata lain, yang harus diawasi bukan sekadar besarnya penjualan saham akibat MSCI, tetapi apakah penjualan tersebut menular menjadi pengurangan kepemilikan aset Indonesia secara lebih luas,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


