Poin Penting
- Diversifikasi saham global dapat membantu menyebar risiko portofolio sekaligus membuka akses ke sektor dan emiten yang belum tersedia di pasar domestik
- Investasi saham luar negeri memiliki sejumlah risiko, mulai dari fluktuasi nilai tukar, volatilitas saham, perbedaan zona waktu, hingga korelasi antarpasar
- Diversifikasi sebaiknya dilakukan bertahap dengan alokasi awal yang terukur, pencatatan kinerja terpisah, serta batas kerugian yang jelas agar strategi investasi dapat dievaluasi secara berkala.
Jakarta – Keputusan melakukan diversifikasi investasi ke instrumen saham luar negeri bisa menjadi salah satu cara memitigasi risiko portofolio. Akses investasi ke saham global yang semakin terbuka memang membuat banyak investor yang tertarik.
Terlebih lagi, di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian, keputusan tidak menempatkan seluruh dana investasi di satu market bisa menjadi pilihan bijak.
Tapi sebelum mengambil langkah diversifikasi investasi saham luar negeri, ada baiknya investor mempertimbangkan keuntungan dan risikonya. Diversifikasi itu bukan hanya soal menambahkan beberapa emiten asing ke dalam portofolio, ada sejumlah variabel baru yang ikut menentukan hasilnya. Mulai dari nilai tukar sampai perbedaan zona waktu.
Oleh sebab itu, investor sebaiknya mempertimbangkan potensi keuntungan dan risikonya dengan cermat.
Keuntungan Diversifikasi ke Instrumen Global
Pertama, terbukanya akses investasi di sektor-sektor yang tidak tersedia di pasar domestik. Bursa Amerika Serikat (AS) misalnya, memiliki ribuan emiten dari berbagai sektor global, termasuk perusahaan semikonduktor dan penyedia infrastruktur komputasi skala besar. Di bursa dalam negeri, belum ada emiten yang bergerak di sektor tersebut.
Kedua, kedalaman likuiditas. Ambil contoh emiten besar seperti NVDA misalnya. Dalam satu hari volume perdagangannya bisa tembus 143,94 juta lembar. Artinya, order bernilai besar bisa dilakukan tanpa menggeser harga terlalu jauh.
Ketiga, tambahan jam transaksi. Sesi reguler bursa AS berlangsung pada malam hingga dini hari waktu Indonesia. Dengan kata lain, di saat bursa domestik tutup, investor tetap punya peluang meraup cuan.
Baca juga: BTPN Syariah Umumkan Rencana Buyback Saham Rp1 Triliun
Apa Saja Risikonya?
Investasi tentu selalu membawa peluang sekaligus risiko, termasuk ketika memutuskan diversifikasi ke instrumen global seperti pasar saham AS. Paling tidak ada empat risiko yang paling sering menentukan selisih antara perkiraan dan hasil sebenarnya.
Pertama, risiko nilai tukar. Risiko ini berdampak pada setiap posisi. Jual ataupun beli. Hasil akhir dalam rupiah dipengaruhi pergerakan harga saham sekaligus pergerakan kurs.
Contohnya, rupiah ditutup melemah 0,11 persen ke Rp17.744 per dolar Amerika Serikat pada 27 Agustus 2026 setelah sempat menyentuh sekitar Rp17.781. Penguatan rupiah itu bisa menggerus hasil saat dana dikonversi kembali meski harga saham tidak berubah.
Kedua, risiko volatilitas emiten tunggal. Risiko ini seringkali diremehkan. Alasannya, nama besar kerap diasosiasikan dengan stabilitas. Padahal, saham dengan market cap besar sekalipun bisa bergerak sangat tajam.
NVDA, misalnya, pada 28 Agustus lalu turun 4,57 persen atau USD10,43 dolar dalam satu sesi, dengan rentang harian dari USD216,81 dolar sampai USD229,26.
Ketiga, risiko perbedaan zona waktu. Risiko ini bersifat operasional. Saat terjadi pergerakan tajam pada dini hari, penyesuaian posisi sering kali baru dapat dilakukan setelah pergerakan itu selesai. Tidak adanya batas auto rejection harian membuat dampaknya bisa lebih besar.
Tanpa rem otomatis seperti di Bursa Efek Indonesia, kerugian dapat berkembang lebih jauh dalam satu sesi.
Keempat, risiko korelasi antarpasar yang justru bisa melemahkan tujuan diversifikasi itu sendiri. Pasar global sering bergerak searah ketika sumber tekanannya sama.
Strategi Menyusun Portofolio yang Wajar
Hasil akhir investasi tentu tidak lepas dari strategi menyusun portofolio. Dalam konteks ini, menentukan porsi umumnya lebih berdampak pada hasil ketimbang memilih emiten mana yang dibeli.
Investor bisa mengambil langkah-langkah berikut dalam menyusun porsi yang wajar.
Pertama, membatasi alokasi awal pada porsi kecil. Tahap awal sebaiknya diperlakukan sebagai pengenalan karakter pasar.
Kedua, memisahkan catatatan hasil antara pasar domestik dan pasar luar negeri. Struktur biaya dan mata uangnya berbeda. Pencampuran catatan akan menyulitkan evaluasi.
Ketiga, menetapkan batas kerugian sendiri. Karena tidak ada batas harian per saham, rencana keluar harus disiapkan sebelum posisi dibuka.
Baca juga: BEI Catat 3 Saham Bank Jumbo Topang Penguatan IHSG Sepekan
Diversifikasi Selalu Mengurangi Risiko
Dalam investasi, tidak ada yang pasti atau selalu. Begitu juga dengan diversifikasi yang tidak selalu berarti positif. Diversifikasi bekerja optimal jika aset yang dimiliki merespons kondisi ekonomi secara berbeda.
Jika seluruh aset merespons sumber tekanan yang sama, penambahan jumlah emiten hanya memperbanyak posisi tanpa mengurangi risiko.
Di samping itu, diversifikasi ke pasar baru membuat investor harus memantau hal baru. Bagi investor dengan waktu terbatas, penyebaran perhatian justru bisa menurunkan kualitas keputusan.
Maka itu, diversifikasi idealnya dilakukan secara bertahap dan diikuti evaluasi berkala. Menambah satu pasar baru lalu mengukur hasilnya selama beberapa bulan umumnya lebih bermanfaat dibanding menambah banyak eksposur sekaligus.
Terlepas dari itu, diversifikasi lintas negara akan menjadi lebih sederhana ketika dilakukan lewat satu aplikasi. Seperti di Ajaib misalnya, ada bermacam instrumen dalam satu aplikasi. Mulai dari saham Amerika, saham Indonesia, aset kripto, reksa dana, hingga obligasi.
Dengan integrasi di satu aplikasi, investor bisa menyusun portofolio yang tersebar ke berbagai instrumen dan pasar tanpa harus memantau atau berpindah ke banyak aplikasi. (*) Ari Astriawan


