Poin Penting
- Milenial dan Gen Z mendorong perubahan pola ekonomi Indonesia melalui konsumsi dan aktivitas usaha yang semakin terdigitalisasi
- Sebanyak 62,4 persen UMKM telah berjualan secara daring. BI menegaskan digitalisasi kini menjadi kebutuhan utama agar UMKM naik kelas
- BI mendorong UMKM go digital melalui e-Farming, e-Commerce, dan e-Financing Support yang ditopang ekosistem pembayaran digital seperti QRIS dan BI-FAST.
Jakarta – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta menyatakan generasi milenial dan Z telah mengubah pola perekonomian Indonesia melalui konsumsi yang semakin terdigitalisasi.
Filianingsih menjelaskan pola tersebut tercermin dari perubahan perilaku pelaku usaha yang mayoritas menawarkan produknya secara daring (online).
“Generasi milenial dan Generasi Z sebagai kelompok yang paling dominan, kita lihat generasi ini sudah mulai mempengaruhi pola perekonomian di Indonesia. Perubahan itu juga terlihat pada perilaku-pelaku usahanya sendiri,” ujar Filianingsih dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, Jumat, 21 Agustus 2026.
Baca juga: Begini Jurus BI Mitigasi Risiko Inflasi Akibat El Nino
Berdasarkan survei laporan keuangan UMKM Bank Indonesia 2025, mayoritas UMKM telah melakukan penjualan secara daring yaitu sebesar 62,4 persen.
Filianingsih menyebutkan, dengan perekembangan tersebut maka digitalisasi bukan lagi menjadi sebagai pilihan melainkan menjadi kebutuhan utama bagi UMKM untuk naik kelas.
“Bisa dipastikan digitalisasi itu tidak lagi sebagai pilihan pelengkap Tetapi telah menjadi kebutuhan utama untuk UMKM agar UMKM mampu naik kelas atau naik level,” ungkapnya.
Dia menegaskan, BI akan mendukung UMKM untuk naik kelas melalui kerangka kebijakan inklusi ekonomi dan keuangan melalui penguatan kapasitas UMKM yang mencakup, sustainability, digitalisasi, peningkatan produksi, dan pengelolaan keuangan hingga perluasan akses pasar.
“BI menjalankan tiga strategi untuk mempersiapkan UMKM go digital,” jelasnya.
Stategi pertama adalah e-Farming melalui digital farming yang meningkatkan produktivitas dan efisisensi. Kedua, e-commerce melalui onboarding UMKM untuk memperluas akses pasar digital.
Baca juga: Ekonomi RI Ditarget 6 Persen, Energi Hijau Jadi Taruhan
Ketiga, e-financing support melalui apliaso SI APIK yang membantu UMKM menyusun laporan keuangan sebagai rujukan bank dalam menganalisa UMKM layak diabayai atau tidak.
“Tentunya ketiga upaya tersebut ditopang oleh ekosistem pembayaran digital yang juga kami bangun bersama-sama dengan pelaku industri sistem pembayaran sebagai contoh salah satunya QRIS dan BI Fast,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


