Poin Penting
- DBS Indonesia merekomendasikan lima langkah untuk memperkuat ekosistem pembiayaan berkelanjutan
- Investasi energi terbarukan menjadi salah satu fokus utama, dengan tantangan memastikan infrastrukturnya reliable, marketable, dan bankable
- Konsep keberlanjutan perlu terintegrasi dengan kegiatan komersial, termasuk memastikan pembiayaan mengalir ke sektor yang mendukung ketahanan dan pertumbuhan berkelanjutan.
Jakarta – Seiring meningkatnya tren pembiayaan berkelanjutan di Indonesia, Bank DBS Indonesia menghadirkan riset terbaru bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape In Five Key Sectors, Opportunities and Risks.
Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra menyampaikan sejumlah rekomendasi bagi pemerintah, regulator, dan pelaku industri untuk menciptakan ekosistem pembiayaan berkelanjutan yang optimal.
“Yang pertama move up the value chain. Jadi, ke depannya Indonesia akan terus berinovasi dan berinvestasi dalam memberikan nilai tambah terhadap ekspor,” ujar William pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut William, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing membuat peningkatan nilai tambah produk ekspor menjadi semakin penting. Langkah tersebut juga dapat mempertegas posisi Indonesia sebagai eksportir di mata negara-negara importir.
Baca juga: DBS Beberkan 5 Sektor Potensial untuk Pembiayaan Berkelanjutan, Apa Saja?
Kedua, DBS Indonesia mendorong stakeholders untuk berinvestasi pada infrastruktur yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan, salah satunya pembangunan infrastruktur energi terbarukan.
“Energi terbarukan ini jadi suatu kewajiban, yang mana how to make the renewable energy reliable, marketable dan juga bankable,” beber William.
Ketiga, konsep keberlanjutan perlu diintegrasikan ke dalam kegiatan komersial. William menilai agenda keberlanjutan tidak lagi dapat dipisahkan dari kebutuhan bisnis, terlebih perhatian terhadap isu tersebut terus meningkat di pasar internasional.
Keempat, pelaku sektor keuangan perlu memastikan pembiayaan diarahkan ke sektor-sektor yang mendukung ketahanan dan keberlangsungan ekosistem berkelanjutan.
Baca juga: DBS Indonesia dan Mandiri Investasi Rilis Wealth Management Berdenominasi SGD
“Yang terakhir adalah membangun ekosistem terintegrasi. Ini berarti kita tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari berbagai faktor, mulai dari pendanaan hingga rantai nilai ideologi, yang pada dasarnya harus saling terkait satu sama lain,” kata William.
Pada akhirnya, William menilai seluruh aspek tersebut dapat memberikan dampak bisnis dan komersial terhadap kinerja perusahaan dalam ekosistem pembiayaan berkelanjutan. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


