Poin Penting
- Midsummer dan Metalogika sepakat mengembangkan manufaktur panel surya di Indonesia.
- Fasilitas produksi akan dimulai dengan kapasitas 20 MW per tahun.
- Kapasitas tersebut berpotensi ditingkatkan hingga 200 MW per tahun.
Jakarta – Perusahaan teknologi energi surya asal Swedia, Midsummer AB, dan PT Metalogika Rekayasa Sistem (Metalogika) sepakat mengembangkan manufaktur sel surya film tipis (thin-film solar cells) dan modul fotovoltaik ringan di Indonesia.
Kerja sama tersebut dituangkan dalam perjanjian kerangka investasi dan industrialisasi yang mengikat.
Metalogika akan membangun fasilitas produksi panel surya film tipis dan fleksibel dengan kapasitas awal 20 MW per tahun. Kapasitasnya berpotensi ditingkatkan hingga 200 MW per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Dalam kerja sama ini, Midsummer akan menyediakan teknologi, mesin, manufaktur, serta dukungan teknis untuk pembangunan dan operasional fasilitas produksi.
Kedua perusahaan juga berencana membentuk perusahaan patungan (joint venture) BIPV OEM di Indonesia.
Baca juga: AI Kini Bisa Baca Gerak Manusia, Peluang Bisnis Makin Lebar
Chief Executive Officer Midsummer AB, Eric Jaremalm, mengatakan perusahaan ingin membangun kemitraan industri jangka panjang dengan Indonesia.
“Kami memulai dengan proyek manufaktur berkapasitas 20 MW sebagai fondasi bagi pengembangan yang lebih besar seiring pertumbuhan pasar,” ujar Eric, dalam keterangannya, Senin, 14 September 2026.
Menurutnya, kerja sama ini menggabungkan teknologi dan pengalaman manufaktur Midsummer dengan kemampuan industrialisasi serta pemahaman pasar Metalogika.
Dorong Industri Energi Surya Lokal
Presiden Direktur PT Metalogika Rekayasa Sistem Firrisky Nurtomo mengatakan kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk membangun kemampuan manufaktur energi surya berteknologi tinggi di Indonesia.
“Selain mendukung pengembangan industri nasional, proyek ini juga sejalan dengan upaya Indonesia dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi melalui pemanfaatan energi terbarukan,” katanya.
Baca juga: Indonesia-AS Perkuat Kerja Sama AI dan Pelindungan Anak di Ruang Digital
Ia bilang, fasilitas tahap awal ini merupakan fondasi bagi pengembangan kapasitas manufaktur yang lebih besar di masa depan, dengan potensi peningkatan kandungan lokal dan perluasan pasar ke tingkat regional.
“Hal ini selaras dengan inisiatif program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan total kapasitas 100GWp yang baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto senilai USD 73 Milyar terutama di area pedalaman,” tambah Nurtomo
Indonesia Punya Potensi Energi Surya Besar
Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan populasi sekitar 285 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Sebagai negara yang berada di kawasan khatulistiwa, Indonesia memiliki tingkat radiasi matahari yang tinggi sepanjang tahun, menjadikannya salah satu pasar dengan potensi pengembangan energi surya terbesar di dunia.
Saat ini, para pihak akan melanjutkan proses pembentukan perusahaan patungan, finalisasi struktur investasi dan tata kelola, penyelesaian perizinan dan insentif yang relevan, pengaturan pembiayaan proyek, serta penyusunan perjanjian teknologi dan mesin yang bersifat definitif.
Baca juga: Amar Bank Bidik Industri Film di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Kreatif
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia Yayan Ganda Hayat Mulyana, menyampaikan penandatanganan kerja sama ini tidak hanya menandai dimulainya kemitraan bisnis, tetapi juga mencerminkan komitmen bersama untuk mendorong pengembangan energi surya serta memperkuat transisi Indonesia menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa kerja sama ini hadir pada momentum yang penting bagi Indonesia, mengingat besarnya potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia.
“Energi surya memiliki peran yang semakin strategis dalam mendiversifikasi bauran energi nasional, mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional, serta mendukung pencapaian tujuan keberlanjutan Indonesia dalam jangka panjang. (*)
Editor: Yulian Saputra


