Poin Penting
- IHSG ditutup melemah 0,10 persen ke level 6.534,69 pada perdagangan 14 September 2026.
- Saham BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BRIS kompak menguat.
- Analis menilai penguatan saham bank besar menjadi respons awal terhadap pergantian Menteri Keuangan.
Jakarta – Saham sejumlah bank dengan kapitalisasi pasar besar (big banks) kompak menguat meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Senin (14/9/2026).
IHSG ditutup di level 6.534,69, turun 0,10 persen dari posisi sebelumnya di 6.541,37.
Di sisi lain, dari 11 sektor yang diperdagangkan, hanya sektor keuangan dan industrial yang mencatat penguatan. Masing-masing naik 0,55 persen dan 0,45 persen.
Baca juga: IHSG Ditutup Merah di 6.534,69, Sektor Keuangan Menguat 0,55 Persen
Penguatan saham bank berkapitalisasi besar terlihat pada sejumlah emiten. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,77 persen menjadi Rp6.500.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga menguat 3,98 persen ke level Rp3.400. Kemudian, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 1,83 persen menjadi Rp4.440 per saham.
Penguatan juga terjadi pada saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 3,20 persen ke level Rp3.870. Sementara itu, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) naik 0,58 persen menjadi Rp1.730.
Baca juga: Purbaya Diganti Suahasil: Soal Fiskal atau Dividen Danantara?
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai penguatan saham big banks dapat menjadi respons awal yang relatif positif terhadap pergantian Menteri Keuangan (Menkeu).
Namun, menurutnya, penguatan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pasar telah memberikan endorsement penuh terhadap kebijakan Menkeu baru.
Nafan menyebut pasar saham pada dasarnya menyukai kepastian dan kesinambungan kebijakan fiskal. Jika setelah pengumuman reshuffle saham-saham bank besar justru menguat, investor untuk sementara menilai pergantian tersebut tidak menimbulkan risiko sistemik baru.
Kondisi tersebut juga dapat mencerminkan munculnya ekspektasi terhadap kebijakan fiskal yang lebih pro-pertumbuhan.
“Terlebih, perbankan merupakan sektor yang sangat sensitif terhadap ekspektasi pertumbuhan ekonomi, likuiditas, belanja pemerintah, serta kebijakan kredit,” kata Nafan dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Baca juga: IHSG Rebound Usai Suahasil Nazara Resmi Dilantik Jadi Menkeu Gantikan Purbaya
Investor Mulai Masuk Saham Bank Besar
Nafan menambahkan, penguatan big banks juga sejalan dengan pola ketika investor melakukan rotation into liquid large caps.
Sebelumnya, saham seperti BBRI dan BMRI juga masih mencatat akumulasi asing di tengah tekanan yang terjadi pada IHSG. (*)
Editor: Yulian Saputra


