Oleh Paul Sutaryono, Pengamat Perbankan, Assistant Vice President BNI (2005-2009), Staf Ahli Pusat Studi Bisnis (PSB) Universitas Prof. Dr. Moestopo Jakarta dan Advisor Pusat Pariwisata Berkelanjutan Indonesia (PPBI) Unika Atma Jaya, Jakarta
SUNGGUH, ini merupakan kabar baik. Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, kinerja bank pelat merah tetap unggul. Apa rahasianya? Apa saja tantangan bank pelat merah ke depan?
Tentu terdapat pelbagai faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kinerja bank pelat merah. Sebagai informasi, bank pelat merah yang ada di Tanah Air saat ini antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau Bank Mandiri, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN.
Kondisi geopolitik saat ini masih membara, seperti perang Rusia-Ukraina dan perang AS-Israel dengan Iran. Salah satu dampak perang tersebut, harga minyak mentah dunia pun terus membubung. Kini, harga minyak dunia jenis Brent kembali mencapai di atas USD100 per barel, tepatnya USD100,07 pada 9 September 2026.
Di dalam negeri sendiri harga BBM naik gila-gilaan. Tengok, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax naik signifikan 32,11 persen dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada Juni 2026. Memang, harganya kemudian turun walau tidak seberapa, yaitu menjadi Rp15.950 per liter pada 1 Agustus 2026.
BBM nonsubsidi lainnya malah mengalami kenaikan per 1 September 2026. Pertamax Turbo (RON 98) naik 7,10 persen dari Rp18.300 menjadi Rp19.600. Dexlite naik 20,30 persen dari Rp19.700 menjadi Rp23.700. Pertamax Dex naik 19,15 persen dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.
Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik Sejak Awal September 2026, Ini Daftarnya
Kembali ke soal kinerja bank pelat merah. Kendati geopolitik masih membara dan ekonomi global masih mengalami ketidakpastian, keempat bank pemerintah yang disebutkan di atas tetap mampu meningkatkan kinerja unggul. Kita coba membedahnya. Apa rahasianya sehingga mereka tetap dapat menampilkan kinerja keuangan yang unggul.
Aneka Jurus Ampuh
Ada sejumlah jurus ampuh yang diterapkan bank-bank pelat merah tersebut sehingga tetap memiliki kinerja unggul.
Pertama, dengan memiliki modal yang perkasa dan puluhan-ratusan kantor cabang hingga kantor cabang pembantu bahkan kantor unit di kecamatan, bank pelat merah mampu menyalurkan triliunan rupiah dari nasabah gurem hingga korporasi. Masing-masing bank memiliki fokus bisnis yang terang benderang.
Bank Mandiri, misalnya, berfokus ke kredit korporasi sehingga menghasilkan pendapatan bunga (interest income) yang besar dan gurih sekali. Sebaliknya, BRI berfokus ke kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jangan lupa, segmen UMKM bukan hanya menawarkan “daging” yang gurih dan empuk tetapi juga “lemak” yang tebal dan nikmat. Tidak mengherankan ketika kredit UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau 70 persen dari total kredit!
Sementara itu, BNI berfokus ke transaksi perdagangan internasional (trade finance) yang tak kalah gurih karena membuahkan pendapatan dari komisi (feebased income) yang tinggi. Trade finance meliputi transaksi ekspor, impor, bank garansi, dan transaksi derivatif lainnya.
Amati pula BTN yang berfokus ke bisnis perumahan (mortgage). Setiap orang ingin memiliki rumah. Kini, pemerintah – dalam hal ini Kementerian Perumahan dan Kawasan Pemukiman – menargetkan untuk membangun 3 juta unit rumah per tahun. Program raksasa itu tiga kali program Sejuta Rumah pada era pemerintah sebelumnya. Mengingat program perumahan merupakan menu BTN sehari-hari, tentu saja BTN menyambut hangat program akbar itu untuk digarap dengan cepat.
Kedua, bagaimana kinerja bank pelat merah hingga semester I-2026? Secara kuantitatif, BRI menjadi nomor wahid dengan laba bersih Rp31,18 triliun. BRI dibayangi Bank Mandiri dengan laba bersih Rp30,41 triliun, disusul BNI Rp10,81 triliun dan BTN Rp2,40 triliun.
Namun, secara kualitatif, BTN menjadi juara pertama dengan kenaikan laba tertinggi, yaitu 40,8 persen. Di bawahnya ada Bank Mandiri 24,49 persen, BRI 17,5 persen, dan BNI 5,94 persen.
Mengapa profitabilitas BTN makin memesona? Ternyata BTN telah memperkokoh pertumbuhan anorganik dengan melakukan akuisisi portofolio kredit pensiunan PT Bank SMBC Indonesia senilai Rp12,6 triliun.
Namun, hal itu bukan berarti BTN meninggalkan bisnis intinya, perumahan. Akuisisi itu justru bertujuan untuk memperkuat komposisi portofolio kredit nonperumahan sebagai sumber pertumbuhan baru. Ujungnya, akuisisi telah mengerek jumlah nasabah sekaligus profitabilitas BTN.
Harap dicatat bahwa keempat bank pemerintah itu juga mengalami penurunan pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM). Meski turun, NIM BRI tetap yang paling tinggi yaitu 6,40 persen, diikuti Bank Mandiri 4,34 persen, BNI 3,55 persen, dan BTN 3,46 persen.
Mengapa NIM turun? Sebab, transmisi kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 5,75 persen terlambat diikuti kenaikan suku bunga kredit perbankan. Dengan bahasa lebih bening, suku bunga kredit perbankan belum naik padahal biaya dana (cost of fund) sudah mendaki sebagai akibat kenaikan suku bunga acuan BI. Kondisi itu menekan NIM.
Selain itu, penurunan NIM disebabkan oleh kewajiban untuk melakukan hapus buku dan hapus tagih kredit macet pada 2025. Hal itu tertuang pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2024 tentang Penghapusan Piutang Macet UMKM.
Dari sisi pertumbuhan kredit, secara kuantitatif, Bank Mandiri juaranya dengan kredit Rp1.677,45 triliun. Jumlah itu melebihi pertumbuhan kredit BRI Rp1.616 triliun, BNI Rp968,5 triliun, dan BTN Rp418,11 triliun. Tetapi, secara kualitatif, BNI giliran menjadi juaranya dengan kenaikan kredit 24,4 persen. Hal itu jauh lebih tinggi daripada Bank Mandiri 18,8 persen, BRI 16,29 persen, dan BTN 11,29 persen.
Ketiga, bagaimana laju dana pihak ketiga (DPK)? Secara kuantitatif, Bank Mandiri menjadi juara dengan DPK tertinggi yaitu Rp1.763,17 triliun, disusul BRI Rp1.581 triliun, BNI Rp1.100,18 triliun, dan BTN Rp433 triliun. Secara kualitatif, kembali BNI menjuarai dengan kenaikan DPK 28 persen, dibayangi Bank Mandiri 17,1 persen, BRI 6,7 persen, dan BTN 6,6 persen.
Seberapa tinggi pengucuran kredit yang tersirat dari loan to deposit ratio (LDR)? Dalam hal ini BTN terdepan dengan LDR 96,49 persen, mengungguli Bank Mandiri 92,73 persen, BRI 91,30 persen, dan BNI 87,73 persen dengan ambang batas 78 persen-92 persen.
Sekadar informasi, LDR di atas ambang batas 92 persen berarti bank menyalurkan kredit dengan agresif. Sebaliknya, LDR di bawah 92 persen berarti laju pengucuran kredit pada tingkat moderat.
Keempat, sejauh mana kemampuan total aset dalam menghasilkan imbal hasil yang tersurat pada rasio imbal hasil total aset (return on assets/ROA)? Kini BRI unggul dalam ROA yaitu 3,30 persen. Rasio itu melampaui ROA Bank Mandiri 3,10 persen, BNI 1,92 persen, dan BTN 1,06 persen dengan ambang batas 1,5 persen. Formulanya, kian tinggi ROA, kian tinggi kualitas aset.
Lalu, sejauh mana imbal hasil total ekuitas (return on equity/ROE)? Kembali Bank Mandiri menduduki posisi teratas dengan ROE tertinggi yaitu 24,28 persen. Diikuti BRI 22,59 persen, BNI 14,54 persen, dan BTN 13,36 persen, dengan ambang batas 12 persen. Makin tinggi ROE, makin tinggi kualitas ekuitas.
Kelima, salah satu kunci keunggulan sekaligus sebagai jurus ampuh bank pelat merah adalah likuiditas yang lebih tebal daripada kelompok bank lainnya. Saat ini, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menempatkan dana Rp400 triliun ke lima bank pemerintah. Kelima bank itu adalah Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Alhasil, dengan likuiditas yang melimpah, bank pemerintah lebih leluasa dalam mengucurkan kredit.
Dana itu bersumber dari saldo anggaran lebih (SAL) yang disimpan di BI. Penempatan dana itu bertujuan untuk menjaga likuiditas bank pemerintah yang dinilai mulai kering. Selain itu, untuk menjaga penyaluran kredit di tengah permintaan dari dunia usaha yang masih tinggi.
Keenam, meskipun likuiditas melimpah, bank BUMN wajib mengerek tingkat efisiensi sebagaimana tersurat pada rasio biaya operasional/pendapatan operasional (BO/PO). Mengapa? Lantaran, efisiensi tinggi merupakan salah satu jurus ampuh dalam memenangi persaingan yang kian sengit.
Terkait BO/PO, Bank Mandiri adalah juaranya dengan BO/PO paling rendah yakni 57,59 persen. Bank Mandiri dikuntit BRI dengan BO/PO 69,56 persen, lalu BNI 73,11 persen, dan BTN 84,15 persen, dengan ambang batas 70 persen-80 persen. Dengan demikian, Bank Mandiri, BRI, dan BNI termasuk bank efisien, sedangkan BTN kurang efisien.
Ketujuh, sejatinya, meskipun bank pelat merah penuh dengan likuiditas, mereka juga sedang tertekan oleh potensi risiko kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Lho? Tengok saja tiga bank pelat merah (Bank Mandiri, BRI, dan BNI) yang telah menggelontorkan kredit maksimal @ Rp3 miliar ke 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sehingga mencapai Rp240 triliun.
Bagaimana skema kredit likuiditas itu? Menteri Keuangan (Menkeu) mengucurkan dana ke bank pemerintah untuk disalurkan ke PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) untuk membiayai pembangunan gerai fisik dan pergudangan KDMP.
Berapa besar kredit bank pemerintah ke KDMP? BRI telah menyalurkan kredit kepada KDMP Rp46,69 triliun per Desember 2025 dan Rp55,81 triliun per Juni 2026. BNI menyusul dengan kredit Rp46,69 triliun per Desember 2025 dan Rp55 triliun per Juni 2026. Bank Mandiri telah mengucurkan kredit Rp46,69 triliun per Desember 2025 dan Rp55 triliun per Juni 2026 (Kompas, 13 Agustus 2026).
Kredit maksimal Rp3 miliar per koperasi dengan suku bunga 6 persen per tahun dengan tenor 6 tahun. Masa tenggang (grace period) pembiayaan dalam 6 bulan paling lama 12 bulan untuk pembayaran angsuran pokok dan bunga. Pembayaran angsuran dan bunga akan dilakukan melalui penyaluran dana alokasi umum (DAU) atau dana bagi hasil (DBH) atau dana desa. Hal itu sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15 Tahun 2026 Pasal 2.
Kredit maksimal Rp3 miliar per koperasi dengan suku bunga 6 persen per tahun dengan tenor 6 tahun. Masa tenggang (grace period) pembiayaan dalam 6 bulan paling lama 12 bulan untuk pembayaran angsuran pokok dan bunga. Pembayaran angsuran dan bunga akan dilakukan melalui penyaluran dana alokasi umum (DAU) atau dana bagi hasil (DBH) atau dana desa. Hal itu sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15 Tahun 2026 Pasal 2.
Pembayaran cicilan pokok dan bunga yang pertama akan jatuh tempo pada 25 September 2026 senilai Rp37,7 triliun. Nah, ketika terjadi keterlambatan pembayaran angsuran pokok plus bunga meski hanya 1 hari (hingga 90 hari), maka kredit lancar (kolektibilitas 1) itu akan langsung turun menjadi kredit dalam perhatian khusus atau kolektibilitas 2 (Paul Sutaryono, Infobanknews.com, 19 Agustus 2026).
Baca juga: Mitigasi Risiko Kredit Koperasi Merah Putih
Di situlah potensi risiko kenaikan NPL ketiga bank pemerintah itu. Saat ini, NPL gross Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing 0,98 persen, 1,04 persen, dan 1,93 persen per Juni 2026. Jauh di bawah ambang batas aman 5 persen.
Dengan bekal aneka jurus ampuh demikian dan dilengkapi dengan penerapan tata kelola (GCG), manajemen risiko dan kepatuhan (compliance) yang cantik, bank pelat merah akan tetap perkasa dan aman. (*)


