Oleh R.K. Ariyandi, Praktisi Perbankan
DI tengah laju digitalisasi perbankan yang semakin cepat, kita terbiasa berbicara tentang efisiensi, integrasi sistem, dan kecanggihan teknologi. Kita terpukau pada angka; jumlah pengguna, volume transaksi, dan capaian transformasi digital. Namun jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya, di tengah semua percepatan ini, apakah perbankan masih benar-benar hadir untuk manusia?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat posisi Bank Pembangunan Daerah (BPD). Sejak awal, BPD tidak lahir semata dari logika bisnis, tetapi dari amanah Pembangunan. Hadir dekat dengan masyarakat daerah, memahami dinamika lokal, dan tumbuh bersama realitas yang tidak selalu sederhana.
Hari ini, BPD tidak hanya berada di persimpangan. Ia sedang menghadapi dilema yang tidak sederhana, menjadi cepat agar tidak tertinggal, atau tetap dekat agar tidak kehilangan kepercayaan. Dan seringkali, dua hal ini berjalan dalam arah yang tidak selalu sejalan.
Digitalisasi memang tidak bisa ditawar. Perilaku nasabah berubah. Ekspektasi meningkat. Loyalitas tidak lagi dibangun oleh sejarah panjang, tetapi oleh pengalaman yang dirasakan hari ini. Namun pada saat yang sama, tidak semua masyarakat bergerak dalam ritme yang sama dengan percepatan digital.
Inklusi keuangan di berbagai daerah masih menghadapi tantangan yang nyata. Literasi digital yang belum merata, keterbatasan infrastruktur, serta preferensi masyarakat yang masih mengandalkan interaksi tatap muka. Di banyak tempat, kehadiran fisik masih menjadi bentuk kepercayaan yang paling nyata.
Suatu pagi, seorang petani datang ke kantor bank dengan wajah ragu. Ia menggenggam buku tabungannya dengan hati-hati, seolah itu bukan sekadar catatan angka, tetapi tempat ia menyimpan harapan. Ia tidak bertanya tentang suku bunga atau fitur digital. Ia hanya ingin memastikan satu hal sederhana, apakah uang yang ia titipkan aman, dan apakah ia masih bisa datang ke tempat yang sama ketika ia membutuhkan bantuan. Di momen seperti itu, kita diingatkan bahwa kepercayaan tidak lahir dari sistem, tetapi dari rasa dimengerti.
Bagi banyak orang, bank bukan sekadar aplikasi. Ia adalah tempat bertanya tanpa rasa takut, tempat merasa aman, dan tempat berharap untuk dipahami. Petani, pelaku UMKM, hingga ASN daerah masih menggantungkan kepercayaan pada interaksi yang nyata—pada wajah yang dikenalnya, pada suara yang ia pahami, dan pada kehadiran yang terasa tulus.
Baca juga: Keterbatasan Akses Pembiayaan Masih jadi Tantangan UMKM
Di sinilah BPD diuji, bukan hanya oleh teknologi, tetapi oleh kemampuannya menjaga makna dari pelayanan itu sendiri.
Di tengah arah kebijakan regulator yang mendorong digitalisasi, penguatan permodalan, serta tata kelola yang semakin baik, BPD memang dituntut untuk adaptif. Sistem harus andal. Proses harus cepat. Layanan harus terintegrasi.Namun adaptif tidak berarti harus kehilangan jati diri. Justru di situlah kekuatan BPD yang sesungguhnya.
BPD memiliki posisi strategis yang tidak dimiliki banyak bank lain. Kedekatannya dengan pemerintah daerah menjadikannya bagian dari ekosistem pembangunan, bukan sekadar lembaga intermediasi. Ia hadir dalam pengelolaan keuangan daerah, penyaluran belanja publik, serta pembiayaan sektor produktif yang menjadi denyut ekonomi lokal.
Melalui pembiayaan kepada UMKM, dukungan kepada pelaku usaha lokal, hingga keberanian memahami usaha yang tidak selalu “rapi secara administratif”, BPD bekerja dalam senyap, namun dampaknya terasa nyata.
Tantangan muncul ketika pertumbuhan dimaknai sebagai penyeragaman. Tidak sedikit BPD merasa perlu “mengejar” bank besar, meniru model bisnisnya, bahkan menyalin pendekatan pelayanannya. Padahal sejak awal, BPD tidak didesain untuk menjadi replika bank nasional. Perbedaan bukanlah kelemahan. Ia adalah keunggulan.
Di sinilah kearifan lokal menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar nilai yang sering disebut dalam forum resmi, tetapi sebuah pendekatan nyata dalam melayani. Sebuah cara untuk memahami bahwa setiap daerah memiliki ritme, karakter, dan cara berinteraksi yang berbeda.
Kearifan lokal, dalam konteks ini, bukan berarti mempertahankan cara lama tanpa perubahan. Ia adalah kemampuan untuk menyaring, mengambil yang baik dari modernitas tanpa kehilangan akar yang membuat kita tetap dekat dengan masyarakat.
Pendekatan ini dapat kita pahami sebagai Humanized Local Banking, sebuah cara melayani yang tidak hanya cepat, tetapi juga memahami; tidak hanya efisien, tetapi juga memanusiakan. BPD tidak harus menjadi yang paling digital. Tetapi ia harus menjadi digital yang membumi, teknologi yang tidak menjauhkan, tetapi justru mendekatkan.
Dalam praktiknya, hal ini tercermin dari komposisi sumber daya manusia BPD yang didominasi oleh putra daerah. Mereka tidak hanya memahami prosedur, tetapi juga memahami konteks. Mereka berbicara dengan bahasa yang sama, memahami norma yang sama, dan merasakan dinamika sosial yang sama.
Komunikasi yang terjadi tidak berhenti pada administrasi. Ia bergerak ke ranah emosional, membangun rasa percaya yang tidak mudah tergantikan oleh sistem sebaik apa pun.
Lebih dari itu, pemahaman terhadap karakter lokal juga memengaruhi kualitas pengambilan keputusan. BPD tidak hanya membaca angka, tetapi memahami konteks, pola usaha, siklus ekonomi, hingga dinamika sosial masyarakat.
Pendekatan ini tidak hanya menjaga kualitas pembiayaan, tetapi juga memperkuat loyalitas. Karena pada akhirnya, kepercayaan tidak dibangun oleh algoritma, tetapi oleh rasa dipahami.
Dalam berbagai tekanan ekonomi, mulai dari krisis moneter, krisis keuangan global, hingga pandemi, keterkaitan BPD dengan ekonomi daerah terbukti menjadi bantalan yang menjaga stabilitas. Ketika ekonomi bergejolak, kedekatan dengan sektor riil lokal menjadi penopang yang tidak tergantikan.
Di sisi lain, relasi dengan pemerintah daerah memperkuat fondasi tersebut. Pengelolaan keuangan daerah, penyaluran belanja, serta sinergi program pembangunan menjadikan BPD tumbuh dalam ekosistem yang saling menguatkan.
Namun kita juga perlu jujur. Kearifan lokal tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan. Ia tidak boleh menjadi pembenaran untuk lambat, atau bahkan tertinggal. Karena tidak semua yang cepat itu relevan, dan tidak semua yang modern itu memahami manusia.
Kompetisi dengan bank digital dan fintech semakin nyata, bukan hanya dalam hal teknologi, tetapi juga dalam pengalaman dan kemudahan yang dirasakan nasabah. Tantangan BPD bukan memilih antara teknologi atau manusia. Tantangan sesungguhnya adalah menyatukan keduanya.
Risiko terbesar BPD hari ini bukan sekadar tertinggal secara teknologi, tetapi kehilangan identitasnya sendiri.
Ketika terlalu fokus mengejar kecepatan, BPD berisiko menjadi institusi yang efisien namun terasa jauh. Sebaliknya, ketika terlalu bertahan pada pendekatan lama, BPD berpotensi menjadi dekat namun tidak lagi relevan. Di titik inilah banyak institusi terjebak: tidak cukup cepat untuk bersaing, namun juga tidak lagi cukup dekat untuk dipercaya.
Mungkin yang sedang kita kejar selama ini bukan hanya kecepatan. Mungkin yang diam-diam kita butuhkan adalah rasa dipahami.
Keseimbangan menjadi kunci. Teknologi mempercepat langkah. Kearifan lokal menjaga arah. Tanpa budaya melayani yang kuat, teknologi hanya menjadi etalase yang dingin. Namun dengan pemahaman yang mendalam terhadap masyarakat, keterbatasan justru dapat menjadi keunggulan yang autentik.
Pada akhirnya, masa depan BPD tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia bertransformasi, tetapi oleh seberapa mampu ia menjaga makna dari keberadaannya.
Baca juga: Kredit Bermasalah Pindar Naik di Awal 2026, OJK Ungkap Penyebabnya
Karena dalam dunia yang semakin digital, justru yang semakin langka adalah sentuhan manusia. Dan di situlah peluang BPD sebenarnya berada. Melayani dengan kearifan lokal di era digital bukan sekadar strategi bertahan. Ia adalah arah masa depan.
Karena ketika banyak institusi berlomba menjadi paling cepat, yang akan bertahan bukanlah yang paling canggih, melainkan yang paling mampu membuat manusia merasa dipahami.
Dan di dunia yang semakin digital, justru yang semakin langka adalah hal yang paling sederhana, kehadiran yang tulus. Di sanalah BPD memiliki peluang besar. Bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk memimpin, dengan caranya sendiri, dengan akarnya sendiri, dan dengan satu hal yang tidak pernah usang oleh zaman: kemampuan untuk memanusiakan manusia. (*)







