Poin Penting
- Rupiah menguat tipis ke Rp17.123 per dolar AS pada pembukaan perdagangan.
- Optimisme negosiasi AS-Iran menekan harga minyak dan dolar AS.
- Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.070–Rp17.150 hari ini.
Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan Rabu (15/4). Rupiah dibuka di level Rp17.123 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat tipis 0,02 persen dibandingkan penutupan kemarin di Rp17.127 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, sentimen investor terdorong oleh meningkatnya optimisme bahwa AS dan Iran dapat segera melanjutkan negosiasi. Kondisi ini memicu harapan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
“Washington dan Teheran dilaporkan menargetkan putaran kedua perundingan sebelum gencatan senjata dua minggu saat ini berakhir, setelah pembicaraan akhir pekan lalu mengalami kebuntuan,” kata Andry, Rabu, 15 April 2026.
Baca juga: BI Klaim Harga BBM Tak Naik Bisa Bantu Redam Tekanan Rupiah
Harga Minyak dan Dolar AS Melemah
Ekspektasi gencatan senjata dan potensi dibukanya kembali Selat Hormuz menekan harga minyak, Hal ini turut mengurangi tekanan inflasi dan menurunkan ekspektasi pengetatan agresif oleh Federal Reserve (The Fed).
Dari sisi data, harga produsen AS naik 0,5 persen pada Maret, lebih rendah dari perkiraan. Sementara itu, data ADP menunjukkan ekonomi AS menambah 39.250 lapangan kerja pada pekan yang berakhir 28 Maret, menandai empat pekan berturut-turut pertumbuhan tenaga kerja yang solid.
Baca juga: CORE: Rupiah Berpotensi Bertahan di Level Psikologis Rp17.000/USD hingga Akhir 2026
Sementara, indeks Dolar AS (DXY) turun ke level 98, memperpanjang pelemahan menjadi tujuh sesi berturut-turut dan mencapai level terendah sejak akhir Februari, sebelum konflik Iran dimulai.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Dengan kondisi tersebut, Andry memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.070 hingga Rp17.150 per dolar AS hari ini.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp17.070 dan Rp17.150 per dolar AS,” imbuh Andry. (*)
Editor: Yulian Saputra







