Poin Penting
- Tekanan finansial tidak menurunkan daya beli secara signifikan, tetapi menggeser pola konsumsi menjadi lebih selektif dan berbasis kebutuhan
- Sekitar 66 persen responden mengalami stres finansial, yang mendorong perubahan prioritas belanja, bukan pengurangan konsumsi secara langsung
- Konsumen kini lebih rasional, menghindari pembelian impulsif, dan memilih produk yang memiliki manfaat jelas untuk saat ini maupun masa depan.
Jakarta – Tekanan finansial yang dirasakan mayoritas kelas menengah Indonesia tidak serta-merta membuat daya beli anjlok. Sebaliknya, terjadi pergeseran arah konsumsi, dari yang semula konsumtif menjadi lebih selektif dan berbasis kebutuhan.
Temuan ini sejalan dengan hasil survei FWD yang mencatat sekitar 66 persen responden mengalami stres atau kecemasan finansial. Namun, kondisi tersebut lebih berdampak pada cara masyarakat membelanjakan uang, bukan pada penurunan daya beli secara langsung.
Associate Director Ipsos Indonesia, Oscar Simamora menegaskan bahwa perubahan yang terjadi lebih bersifat pergeseran prioritas.
“Kalau ngomongin daya beli, sebenarnya tidak impacting significantly. Tapi pertanyaannya bukan berpengaruh atau tidak, melainkan berpengaruh ke mana,” ujarnya dalam acara Media Briefing FWD Insurance di Jakarta, Senin (13/4).
Baca juga: Survei FWD: 66 Persen Masyarakat Kelas Menengah Hanya Mampu Penuhi Kebutuhan Harian
Menurutnya, tekanan finansial membuat masyarakat menjadi lebih berhati-hati dan rasional dalam menentukan pengeluaran. Sentimen kecemasan justru mendorong konsumen untuk menghindari pembelian yang tidak penting.
“Ketika mereka merasa anxiety terhadap kondisi finansialnya, mereka akan beralih ke produk-produk yang mereka rasa lebih aman untuk dibeli, seperti kebutuhan pokok,” jelas Oscar.
Tak hanya itu, masyarakat juga semakin selektif dalam memilih produk yang memberikan manfaat jelas, baik untuk saat ini maupun masa depan.
Baca juga: Purbaya Ungkap Alasan Tahan Harga BBM Subsidi demi Jaga Daya Beli
“Mereka cenderung membeli produk yang mereka tahu manfaatnya atau merasa yakin dengan manfaatnya. Bahkan untuk kebutuhan yang mungkin belum dipakai sekarang, tapi mereka tahu akan dibutuhkan ke depan,” tambahnya.
Konsekuensinya, pola konsumsi impulsif mulai ditinggalkan. Produk-produk yang tidak memiliki urgensi atau nilai manfaat jangka panjang berpotensi semakin ditinggalkan oleh kelas menengah. (*) Alfi Salima Puteri





