Poin Penting
- Mandiri Sekuritas menargetkan IHSG 9.050 di akhir 2026, meski masih ada risiko revisi turun akibat tekanan global dan margin emiten
- Investor asing dinilai belum meninggalkan Indonesia, tetapi mengalihkan dana dari saham ke obligasi di tengah tingginya risk aversion
- Saham komoditas menopang IHSG saat saham perbankan dan konsumer tertekan, sementara investor ritel tetap menjadi penyangga pasar.
Jakarta – Mandiri Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan mencapai level psikologis di 9.050 pada akhir 2026. Meskipun secara year to date (ytd) IHSG sudah mengalami penurunan sebesar 17 persen.
Di tengah optimisme tersebut, Equity Research Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat mengakui bahwa masih terdapat potensi revisi ke bawah, lantaran masih ada risiko global dan profitabilitas menurun.
“IHSG ke depannya kami masih menjaga target IHSG kami di 9.050 point. Tetapi kembali memang kami melihat potensi revisi ke bawah, mengingat adanya potensi tekanan margin akibat dari volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban energi ke depannya,” kata Kresna dalam Mandiri Macro and Market Brief, dikutip, Selasa, 12 Mei 2026.
Baca juga: Valuasi Saham Blue Chip Tertekan, Bos Danantara: Bangun Kepercayaan Investor jadi Kunci
Kresna menilai pelemahan performa pasar saham Indonesia sepanjang awal tahun ini berkolerasi dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pasalnya, investor asing melihat risiko di emerging markets tengah meningkat.
Meski demikian, Kresna menyoroti, para investor asing tersebut tidak benar-benar ‘kabur’ dari Indonesia. Namun, saat ini mereka lebih memilih memindahkan dananya dari saham ke obligasi.
“Dalam dua bulan terakhir kami mencatat adanya arus investasi asing ke pasar obligasi nasional kita. Dan menurut kami itu merupakan salah satu strategi investor asing untuk merotasi aset dari equity ke bonds kita ya, mengingat risk aversion behavior tersebut,” jelasnya.
Kresna menyebut, kinerja IHSG jauh lebih buruk dibanding negara peers lainnya dikarenakan tekanan jual asing yang tinggi, terutama di saham bank dan konsumer yang memiliki bobot besar. Sebaliknya, saham-saham sektor komoditas seperti emas, batu bara, dan yang lainnya relatif kuat.
“Jadi sebenarnya Indonesia tidak sebenarnya ditinggalkan, karena emiten-emiten komoditas ini salah satu menjadi sektor penopang performa IHSG sepanjang tahun ini,” imbuh Kresna.
Lebih lanjut, Mandiri Sekuritas juga melihat terdapat sejumlah katalis potensi reversal saham-saham perbankan dan konsumer. Terlebih, dengan adanya upaya reformasi pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca juga: BEI Catat 5 Saham Ini jadi Penopang Kenaikan IHSG Sepekan
Menurutnya, investor ritel masih menjadi penopang penting bagi IHSG, tercermin dari kepemilikan investor individu di pasar saham yang mencapai 50 persen. Hal ini turut membantu pasar modal kala investor asing keluar.
Sementara, investor asing masih cenderung wait and see karena mengikuti indeks MSCI. Dengan begitu, Kresna menyebut adanya ketidaksesuaian antara kondisi fundamental pasar saham Indonesia yang valuasinya rendah, dengan aliran dana asing yang enggan masuk. (*)
Editor: Galih Pratama


