Poin Penting
- Likuiditas perbankan membaik memasuki semester II 2026, didukung penempatan dana pemerintah di Himbara dan dukungan kebijakan moneter BI
- SRBI ikut menopang likuiditas, seiring penurunan yield dan volume SRBI yang membuat sebagian dana kembali mengalir ke sistem perbankan
- BNI menjaga LDR 85–86 persen per Juni-Juli 2026 dengan memperkuat CASA, memperluas basis nasabah, dan mempertahankan buffer likuiditas yang memadai.
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menilai kondisi likuiditas perbankan secara nasional menunjukkan tren perbaikan memasuki paruh kedua tahun 2026.
Hal tersebut didukung oleh kebijakan Penempatan Uang Negara (PUN) atau Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah yang turut menopang likuiditas.
Head of Investor Relations BNI Yohan Setio menjelaskan, pemerintah masih memberikan dukungan melalui penempatan dana di bank-bank Himbara dengan jadwal jatuh tempo yang telah ditetapkan. Sebagian dana tersebut akan jatuh tempo pada September, Oktober, dan Desember 2026, sementara sebagian lainnya baru jatuh tempo pada Juli tahun depan.
“Pertama kita lihat dari sisi support dari pemerintah di mana Kementerian Keuangan masih memberikan dana SAL di bank Himbara dengan jatuh tempo yang jelas,” kata Yohan dalam Pubex Live, Rabu, 9 September 2026.
Baca juga: BNI Targetkan Kredit Tumbuh hingga 10 Persen di 2026
Yohan menyatakan, kepastian mengenai jadwal jatuh tempo pengembalian dana tersebut dinilai membantu bank dalam mempersiapkan dan mengelola likuiditas.
Selain itu, kata Yohan, kondisi likuiditas juga ditopang oleh perkembangan instrumen moneter Bank Indonesia, khususnya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang berada dalam tren penurunan yield maupun volumenya.
“Instrumen SRBI juga trennya menurun, dari sisi yield yang diberikan dan juga dari sisi volume yang dipegang di bank sentral. Dengan kata lain, sebagian dari uang tersebut kembali ke sistem perbankan. Dengan penurunan volume SRBI ini menunjukkan bahwa ada support dari central bank juga terhadap likuiditas perbankan,” ungkapnya.
Faktor lainnya yang mendukung likuiditas adalah aktivitas ekonomi yang secara tren cenderung lebih kuat pada semester II 2026 seiring dengan berjalannya proyek-proyek pemerintah dan meningkatnta aktivitas bisnis.
“Jadi secara umum kita lihat kondisi likuiditas cukup baik di semester kedua ini,” tambahnya.
Sementara pada 2027, Yohan menyatakan, tantangan yang perlu diwaspadai adalah perkembangan perekonomian global. Salah satu risiko yang menjadi perhatian, yaitu arah suku bunga kebijakan Amerika Serikat (AS) yang berpotensi meningkat. Secara umum, kenaikan suku bunga AS dapat memberikan tekanan terhadap likuiditas perbankan di Indonesia.
“Untuk tahun depan, mungkin kita harus lihat tren global dulu. Secara umum memang masih ada tantangan. Terutama karena banyak analis masih memprediksi bahwa tren suku bunga di Amerika masih akan meningkat. Dan biasanya kenaikan suku bunga acuan di Amerika berdampak negatif terhadap likuiditas perbankan di Indonesia,” jelasnya.
Meski demikian, terdapat juga faktor domestik yang dapat memengaruhi likuiditas, seperti arah kebijakan pemerintah di tahun depan.
Yohan menyebut, BNI akan fokus pada aspek yang dapat dikendalikan, termasuk memperkuat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) hingga memperluas basis nasabah.
“Kita fokus apa yang bisa kita lakukan, apa yang kita bisa kontrol terlepas dari aspek global tadi. Di sisi BNI, untuk likuiditas tentunya kita akan terus dorong pertumbuhan CASA melalui aplikasi BNI Direct dan juga melalui aplikasi wondr,” imbuhnya.
Baca juga: Harpelnas 2026, BNI Usung Semangat 80 Tahun Melayani Sepenuh Hati
“Kita juga perluas basis nasabah kita, semakin baik kita menggarap nasabah kredit semakin banyak juga DPK yang kita bisa collect sehingga akan mendukung likuiditas BNI,” tambahnya.
Yohan memastikan BNI akan menjaga rasio likuiditas di level yang sehat. Per Juni-Juli 2026, rasio loan to deposit ratio (LDR) perseroan tercatat konsisten di bawah 90 persen atau di kisaran 85-86 persen.
“Artinya apa? Dari 100 deposit yang kita collect hanya 85 yang kita berikan sebagai kredit sisa 15 menjadi buffer liquidity. Yang artinya apa? Jika ada permintaan kredit mendadak kita bisa memberikan kredit tersebut atau jika tiba-tiba likuiditas mendadak seret dari sisi kita juga masih aman karena buffer likuiditasnya masih banyak,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


