Poin Penting
- Perkembangan inovasi AI diperkirakan terus berlangsung hingga mencapai puncaknya pada akhir 2027.
- Adopsi AI diprediksi mulai melambat pada 2028 jika investasi teknologi terkait AI dari perusahaan ikut menurun.
- Masifnya adopsi AI membuat aspek keamanan, etika, dan tata kelola semakin menjadi perhatian perusahaan.
Jakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus berlangsung pesat. Tidak hanya dari sisi kemampuan pemrosesan, berbagai fitur dan aplikasi baru berbasis AI juga terus bermunculan.
Di tengah tren yang membentuk apa yang disebut sebagai AI bubble, Country Managing Director Hitachi Vantara Indonesia Ming Sunadi menilai perkembangan inovasi AI saat ini belum mencapai puncaknya.
Menurut Ming, inovasi AI masih akan berkembang hingga akhir 2027 dan berpotensi mulai melambat pada 2028.
“Masih akan terus berkembang ke depan, bahkan sampai akhir 2027. Mungkin akan mulai slowdown di 2028. Namun, itu juga apabila perusahaan-perusahaan yang di luar sana tidak melakukan perkembangan pembelian related AI teknologi,” ujar Ming saat ditemui setelah acara media briefing peluncuran VSP One Block High-End di Jakarta, Rabu, 9 September 2026.
Baca juga: Teknologi AI Mulai Ubah Cara Investor Ritel Analisis Saham
Ming menilai AI ke depan akan menjadi fondasi bagi berbagai jenis teknologi. Pandangan tersebut didukung oleh makin banyaknya perusahaan besar global yang melakukan riset dan membangin infrastruktur AI secara masif.
“Jadi, ya pasti tidak akan berhenti (perkembangan AI) dalam waktu dekat ini,” ucapnya.
Sementara itu, Enterprise Solutions Consultant Lead Hitachi Vantara Indonesia Sony Chahyadi mengatakan masifnya adopsi AI oleh berbagai institusi di Indonesia membuat aspek keamanan dan etika penggunaan AI makin mendapat perhatian.
Hal tersebut terlihat dari banyaknya seminar, pelatihan, hingga komunitas AI yang bermunculan di Indonesia.
“Dan kalau kita lihat sekarang, terutama untuk perusahaan-perusahaan enterprise pastinya itu (keamanan dan etika) akan selalu menjadi acuan saat dia selalu mengadopsi teknologi AI,” jelas Sony.
Baca juga: Sederet Tantangan Pelaku Industri Terapkan Teknologi AI
Keamanan dan Etika Jadi Perhatian
Sony mengungkapkan banyak klien Hitachi Vantara Indonesia, sebagai penyedia solusi infrastruktur data, penyimpanan data (storage), dan analitik, telah menggunakan AI secara akuntabel dan prudent.
Menurutnya, setiap teknologi memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu, penerapan AI perlu disertai tata kelola yang baik dan dilakukan secara bertanggung jawab agar dapat memberikan manfaat bagi bisnis.
“Pastinya tak akan kita bisa hindari dampak negatif dari AI ke depannya seperti apa, kita belum bisa prediksi juga. Tapi, artinya apa yang sudah bisa kita gunakan use case-nya dan berguna bagi bisnis itu sudah banyak kami temukan di customer kami,” pungkasnya. (*) Steven Widjaja


