Poin Penting:
- Latsarmil untuk calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dihentikan setelah lima peserta meninggal dunia.
- Kemhan mengubah program menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.
- Evaluasi dilakukan pada aspek kesehatan, metode pembelajaran, dan penanganan medis peserta.
Jakarta – Program latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) dihentikan.
Keputusan itu diambil setelah lima peserta meninggal dunia ketika mengikuti latsarmil.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) kini mengubah pendekatan pelatihan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial sebagai tindak lanjut hasil evaluasi.
Perubahan dilakukan atas arahan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin setelah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program.
Baca juga: Kopdes Merah Putih Beda Segmen, Alfamart Tetap Targetkan 800 Gerai Baru di 2026
Latsarmil Diubah Jadi Pembekalan Bela Negara
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan istilah latsarmil tidak lagi digunakan dalam program tersebut.
“Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan Latsarmil lagi,” kata Rico saat dikonfirmasi di Jakarta, seperti dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan materi yang bersifat taktis dan teknis militer akan dikurangi.
“Dengan penyesuaian tersebut, kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini,” kata Rico.
Fokus pelatihan kini diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi.
Evaluasi Kesehatan dan Materi Pelatihan
Kemhan juga memperkuat evaluasi terhadap kondisi kesehatan seluruh peserta latsarmil agar proses pendidikan berlangsung aman.
Rico mengatakan kondisi kesehatan peserta akan menjadi perhatian selama pelatihan berlangsung.
Baca juga: Prabowo Hadiri Penutupan Retret Kepala Daerah, Pimpin Parade Senja-Beri Pengarahan
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia mengatakan evaluasi dilakukan atas arahan Menteri Pertahanan.
“Atas arahan Menteri Pertahanan, penyelenggara telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan,” kata Ketut saat jumpa pers di Kantor Kemhan, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6).
Menurut Ketut, pemeriksaan kesehatan menyeluruh diperlukan untuk mengetahui kondisi fisik setiap peserta.
Porsi latihan fisik juga akan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta oleh satuan TNI yang menjadi pelatih.
Kemhan turut meminta penanganan medis terhadap peserta yang sakit dilakukan secara cepat dan maksimal.
Materi Dibuat Lebih Adaptif
Selain aspek kesehatan, evaluasi juga mencakup materi pembelajaran dalam latsarmil.
“Kegiatan juga diarahkan agar lebih adaptif, edukatif, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta,” kata Ketut.
Baca juga: OJK Wanti-wanti Bank Soal Risiko Kredit Macet Pembiayaan Kopdes Merah Putih
Ia menegaskan perubahan metode tersebut tetap mempertahankan tujuan utama pelatihan, yakni membangun kedisiplinan dan jiwa kepemimpinan peserta.
Dengan perubahan skema ini, latsarmil resmi digantikan oleh program pembekalan yang lebih menekankan bela negara, kepemimpinan, dan kemampuan manajerial dengan memperhatikan keselamatan peserta. (*)
Editor: Yulian Saputra


