Jakarta–Bank keempat terbesar di Asia Tenggara dari segi aset, Maybank mengumumkan laba bersih full year 2016 sebesar RM6,74 miliar (setara Rp20,22 triliun) atau turun tipis jika dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya, RM6,84 miliar (Rp20,52 triliun).
Sedangkan laba sebelum pajak (PBT) turun menjadi sebesar RM8,84 miliar (Rp26,52 triliun) dari RM9,15 miliar (Rp27,45 triliun) pada 2015, sehubungan penambahan provisi yang dilakukan sepanjang tahun menyusul langkah proaktif Maybank Group untuk melakukan penjadwalan ulang dan restrukturisasi fasilitas pinjaman konsumer yang dinilai berpotensi bermasalah sehubungan kondisi ekonomi global yang melemah.
Meski secara setahun penuh turun tipis, namun laba pada kuartal empat 2016 mencapai sebesar RM2,36 miliar (Rp7,08 triliun) atau meningkat 15,9 peren jika dibandingkan dengan perolehan kuartal yang sama tahun sebelumnya. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Hasil positif itu didukung oleh peningkatan pinjaman dan pendapatan fee yang kuat, serta didukung pengelolaan biaya secara disiplin yang menyebabkan biaya overhead hanya naik tipis. Selain itu, laba juga meningkat sehubungan penjualan surat berharga dalam periode tersebut.
Baca juga: Laba Maybank Indonesia Tumbuh 71% di 2016
Chairman Maybank Group, Tan Sri Megat Zaharuddin Megat Mohd Nor menyatakan, bahwa pencapaian kinerja Maybank Group memperlihatkan kekuatan dan ketahanan Maybank Group di tengah iklim operasional yang penuh tantangan sehubungan melemahnya harga komoditas dan dinamika politik yang terjadi.
“Saya gembira lini bisnis yang beraneka ragam dan jaringan yang kami miliki dapat terus bertumbuh dan memberikan nilai tambah bagi stakeholders,” kata Tan Sri Megat dalam siaran persnya, Senin, 27 Februari 2017. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Pendapatan operasional bersih Maybank dalam kuartal empat sendiri naik 8,1 persen sejalan dengan pendapatan nonbunga (fee based income) yang meningkat 14 persen dan pendapatan bunga (fund based income) naik 5,2 persen didukung pembiayaan korporasi di seluruh pasar utama Maybank Group, serta kekuatan perbankan konsumer di regional.
Baca juga: Maybank Indonesia Bidik Pertumbuhan Kredit 10%
Selama tahun 2016, Maybank Group mencatat perolehan pendapatan operasional bersih tertinggi sebesar RM22,26 miliar (Rp66,78 triliun) naik secara tahunan sebesar 4,8 persen didukung meningkatnya net fund based income sebesar 5,2 persen dan net fee based income sebesar 4 persen.
Pre-provisioning operating profit (PPOP) mencapai RM11,69 miliar (Rp35,07 triliun), naik 6,7 peren dibandingkan tahun sebelumnya, didukung oleh pertumbuhan yang kuat di semua sektor bisnis Maybank Group, terutama Maybank Indonesia. (Bersambung ke halaman berikutnya)
“Menghadapi tahun yang penuh ketidak pastian, kami terus berkomitmen untuk mendukung para nasabah dalam menghadapi kondisi tersebut, dan pada saat yang sama terus menjamin peluang pertumbuhan, khususnya di bidang infrastruktur yang diharapkan dapat menjadi pendorong utama ekonomi regional,” jelasnya.
Baca juga: Ini Tanggapan Maybank Indonesia Soal Lego Saham WOM Finance
Sementara itu, President & CEO Maybank Group, Datuk Abdul Farid Alias menyatakan, bahwa Maybank terus dapat membukukan keuntungan sehubungan langkah kehati-hatian yang ditempuh tahun lalu dalam mengelola kualitas aset dengan lebih baik dan menyediakan buffertambahan dalam mengantisipasi kemungkinan terburuk, disertai dengan tujuan meningkatkan pendapatan dan kedisipinan dalam mengelola biaya.
”Meskipun kita mencatat sedikit kenaikan pada kuartal keempat 2016, tetapi kami tetap telah memilih untuk melakukan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam melakukan penjadwalan ulang dan merestrukturisasi portofolio yang mungkin akan mengalami tekanan dalam jangka menengah, memperhatikan iklim yang penuh tantangan di depan,” kata Datuk Farid. (*)
Editor: Paulus Yoga


