Poin Penting
- Laba bersih Indofood turun 19 persen menjadi Rp4,72 triliun pada semester I 2026.
- Penjualan bersih naik 9 persen menjadi Rp65,53 triliun, disertai kenaikan laba usaha 14 persen.
- Pelemahan rupiah memicu rugi selisih kurs yang menekan laba bersih perseroan.
Jakarta – Perusahaan consumer goods raksasa PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood; IDX: INDF), menutup semester-I 2026 dengan capaian laba bersih Rp4,72 triliun. Angka tersebut rupanya turun 19 persen secara tahunan (yoy) dari Rp5,84 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejatinya, hingga Juni 2026, Indofood mengalami kinerja bisnis yang cukup baik. Pada periode tersebut, perseroan mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 9 persen (yoy) ke posisi Rp65,53 triliun.
Baca juga: Laba Indofood Turun 17% Jadi Rp6,35 Triliun
Selain itu, laba usaha meningkat sebesar 14 persen (yoy) menjadi Rp13,29 triliun dari Rp11,69 triliun. Core profit, yang mencerminkan kinerja operasional Indofood, naik 7 persen (yoy) menjadi Rp6,18 triliun. Margin laba usaha juga masih sehat, berada di kisaran 20,3 persen.
Rupanya, penurunan laba bersih yang Indofood alami berasal dari lebih tingginya rugi selisih kurs yang belum terealisasi yang timbul dari kegiatan pendanaan. Hal ini terjadi akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Meski begitu, Anthoni Salim, Direktur Utama dan Chief Executive Officer (CEO) Indofood, tetap mensyukuri capaian perseroan di tengah kondisi ekonomi Tanah Air yang tengah menantang.
“Di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, Indofood membukukan kinerja yang solid pada semester pertama di tahun 2026 ini,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.
Baca juga: Strategi Indofood Genjot Penjualan Makanan Ringan
Ke depan, Anthoni memastikan, Indofood akan tetap fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan. Dalam prosesnya, perseroan berupaya menyeimbangkan pangsa pasar dan profitabilitas sembari menjaga neraca tetap sehat.
“Kami tetap fokus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat,” tutupnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


