Poin Penting
- Bank Lampung membukukan laba Rp133,62 miliar hingga Juni 2026 atau tumbuh 22,85 persen secara tahunan
- Kinerja ditopang lonjakan pendapatan bunga bersih 20,31 persen, NIM naik ke 7,01 persen, dan BOPO turun ke 72,94 persen
- Kredit, DPK, aset, dan modal inti sama-sama bertumbuh, disertai perbaikan kualitas kredit dan permodalan.
Jakarta – Bank Lampung membukukan laba bersih Rp133,62 miliar hingga Juni 2026, tumbuh 22,85 persen secara tahunan atau dari Rp108,77 miliar.
Capaian tersebut menunjukkan kinerja bank yang dipimpin Indra Merviana sebagai direktur utama ini tumbuh solid dan berkualitas di tengah dinamika industri perbankan.
Kenaikan laba tidak lepas dari perbaikan struktur pendapatan bunga. Mengutip laporan keuangan publikasi Bank Lampung per Juni 2026 pada Kamis (23/7), pendapatan bunga meningkat 6,60 persen menjadi Rp528,04 miliar, sementara beban bunga susut 15,22 persen menjadi Rp161,95 miliar.
Kombinasi itu mencerminkan strategi funding yang makin efektif sehingga biaya dana dapat ditekan tanpa menghambat pertumbuhan bisnis.
Efisiensi itu kemudian mendorong pendapatan bunga bersih atau net interest income Bank Lampung melonjak 20,31 persen menjadi Rp366,09 miliar dari Rp304,30 miliar pada Juni 2025.
Baca juga: OJK Restui Penggabungan BPRS Rizky Barokah ke BPRS PNM Mentari

Sementara, NIM naik dari 6,29 persen menjadi 7,01 persen. NIM yang semakin tinggi menjadi sinyal bahwa bisnis inti penyaluran dana Bank Lampung berjalan semakin efisien dan mampu menghasilkan keuntungan yang lebih baik.
Di sisi biaya, beban operasional lainnya memang naik 19,04 persen menjadi Rp193,31 miliar sejalan dengan meningkatnya aktivitas usaha. Tapi, efisiensi bank ini tetap terjaga, terlihat dari rasio BOPO yang turun dari 76,17 persen menjadi 72,94 persen.
Penurunan BOPO menunjukkan kemampuan Bank Lampung mengendalikan biaya operasional semakin baik sehingga berdampak positif terhadap pertumbuhan laba.
Lebih jauh, fungsi intermediasi Bank Lampung juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,36 persen menjadi Rp8,93 triliun.
Pertumbuhan ditopang kenaikan dana murah atau CASA yang berasal dari giro dan tabungan sebesar 5,96 persen menjadi Rp4,54 triliun, menandakan basis pendanaan yang semakin kuat dan lebih efisien.
Dari sisi penyaluran dana, kredit meningkat 9,89 persen menjadi Rp7,91 triliun. Pertumbuhan kredit diikuti dengan perbaikan kualitas aset, tercermin dari NPL gross yang turun dari 3,04 persen menjadi 2,86 persen dan NPL Net yang membaik dari 1,65 persen menjadi 1,47 persen.
Posisi NPL tersebut masih jauh di bawah ambang batas aman regulator sebesar 5 persen, sehingga menggambarkan portofolio kredit Bank Lampung semakin sehat.
Pertumbuhan bisnis turut memperkuat posisi neraca perseroan. Total aset Bank Lampung meningkat 6,38 persen menjadi Rp11,56 triliun, sementara modal inti melonjak 19,34 persen menjadi Rp1,60 triliun.
Rasio CAR juga naik dari 27,15 persen menjadi 29,27 persen, mencerminkan permodalan yang sangat kuat untuk mendukung ekspansi usaha pada periode berikutnya.
Baca juga: Kinerja BPD Tetap Solid di Tengah Persaingan Industri Perbankan, Ini Buktinya
Berbagai rasio keuangan turut memperlihatkan perbaikan yang konsisten. ROA meningkat dari 2,61 persen menjadi 3,03 persen, yang berarti bank ini makin produktif dalam mengelola seluruh asetnya untuk menghasilkan laba.
ROE juga naik dari 16,29 persen menjadi 17,25 persen, menunjukkan kemampuan manajemen dalam mengoptimalkan modal semakin baik.
Sementara, LDR berada di level 88,55 persen, masih berada dalam kisaran ideal 78 persen hingga 92 persen, sehingga likuiditas tetap terjaga dengan baik.
Adapun rasio CIR berada di level 55,41 persen, yang tetap mencerminkan pengelolaan biaya yang cukup terkendali meski aktivitas bisnis meningkat. (*) Ari Nugroho


