UMKM, terutama yang bergerak di bidang industri, apalagi yang bersifat padat karya, mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja. Selain itu, mampu mendistribusikan hasil-hasil pembangunan di Indonesia sehingga mengurangi gap kesejahteraan.
Kesimpulannya, kinerja dan kontribusi UMKM harus ditingkatkan dan pembiayaan UMKM harus diarahkan ke sektor produktif. Perlu dicatat bahwa aspek kinerja UMKM di Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan UMKM di negara-negara ASEAN lain. Terutama, dari segi produktivitas, kontribusi ekspor, partisipasi untuk produksi global dan regional, serta kontribusi terhadap nilai tambah.
Tanpa adanya dukungan, sulit bagi para pelaku UMKM untuk lebih berkembang di tengah mengguritanya konglomerasi di dunia usaha. Upaya meningkatkan kinerja dan kontribusi UMKM terhadap perekonomian harus menjadi keinginan bersama berbagai pihak, mulai dari pelaku UMKM, pemerintah, lembaga keuangan dan perbankan, lembaga penjaminan, perusahaan-perusahaan besar, hingga unsur-unsur politik di negeri ini. (*)
Penulis adalah Direktur Utama Jamkrindo dan Ketua Umum Asippindo
Poin Penting IHSG Melemah 0,53 persen dan ditutup di level 6.989,42 dengan mayoritas saham dan… Read More
Poin Penting Krom Bank mencatat laba Rp143 miliar pada 2025, naik 16 persen yoy dari… Read More
Poin Penting: Pemerintah mengalihkan impor LPG dari Timur Tengah ke AS dan Australia untuk menjaga… Read More
Poin Penting OCTO Biz telah menjangkau lebih dari 21.000 nasabah perusahaan, dengan pertumbuhan rata-rata sekitar… Read More
Poin Penting: BI memproyeksikan permintaan rumah di Balikpapan meningkat pada 2026 seiring kelanjutan pembangunan IKN.… Read More
Poin Penting Momentum HUT ke-55 dimanfaatkan Askrindo untuk memperkuat peran dalam inklusi keuangan, dengan fokus… Read More