Poin Penting
- KPEI menggelar RUPS Tahunan 2026 yang menetapkan Antonius Herman Azwar sebagai Direktur Utama menggantikan Iding Pardi untuk periode 2026–2030
- Kinerja operasional 2025 KPEI meningkat, dengan RNTH naik 40,64 persen menjadi Rp18,07 triliun dan lonjakan aktivitas kliring di berbagai layanan
- Kinerja keuangan KPEI tumbuh kuat, laba bersih naik 75,79 persen menjadi Rp262,22 miliar (rekor tertinggi), didukung pendapatan dan penguatan ekuitas.
Jakarta – PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan pada Senin (22/6/2026) yang membahas kinerja operasional dan keuangan perseroan, sekaligus menetapkan perubahan jajaran direksi.
Dalam RUPS tersebut, pemegang saham menyetujui pengangkatan Antonius Herman Azwar sebagai Direktur Utama KPEI periode 2026–2030, menggantikan Iding Pardi yang ditunjuk sebagai calon anggota Direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan hal itu, maka susunan Direksi KPEI menjadi sebagai berikut:
- Direktur Utama: Antonius Herman Azwar
- Direktur Kliring, Penjaminan, dan Pengawasan: Satya Birawa
- Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen: Irmawati
- Direktur Keanggotaan, Riset, dan Dukungan Bisnis: Ignatius Denny Wicaksono.
Kinerja KPEI 2025
KPEI mencatat kinerja operasional dan keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan di pasar modal.
Direktur Utama KPEI periode 2022–2026, Iding Pardi, menyampaikan bahwa Rata-Rata Nilai Transaksi Harian Bursa (RNTH) sepanjang 2025 mencapai Rp18,07 triliun, meningkat 40,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: BEI Bersama KPEI dan KSEI Kenalkan Kontrak Berjangka Indeks Asing
“Sejalan dengan peningkatan aktivitas perdagangan, KPEI mencatat nilai penyelesaian transaksi sebesar Rp5,47 triliun dengan tingkat efisiensi transaksi mencapai 63,34 persen,” ucap Iding dalam keterangan resmi di Jakarta, 23 Juni 2026.
Pada layanan lainnya, nilai transaksi Pinjam Meminjam Efek (PME) mencapai Rp118,90 miliar, sementara nilai transaksi Triparty Repo tercatat sebesar Rp544,98 miliar.
Sementara itu, layanan kliring Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) melalui Electronic Bond Clearing System Penyelenggara Pasar Alternatif (eBOCS PPA) membukukan nilai transaksi sebesar Rp178,29 triliun dengan total 2.838 transaksi sepanjang 2025.
Kinerja Keuangan Tumbuh Signifikan
Sejalan dengan peningkatan aktivitas tersebut, KPEI mencatat pendapatan sebesar Rp949,55 miliar pada 2025, tumbuh 36,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh penguatan transaksi di pasar modal.
Kinerja tersebut turut mendorong laba bersih KPEI mencapai Rp262,22 miliar, tertinggi sepanjang sejarah perseroan, atau meningkat 75,79 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba juga memperkuat posisi keuangan KPEI, dengan ekuitas yang mencapai Rp2,81 triliun atau naik 11,77 persen dibandingkan tahun 2024.
Dari sisi manajemen risiko, hingga akhir 2025 KPEI mengelola total agunan sebesar Rp138,82 triliun, terdiri atas Rp130,69 triliun agunan online dan Rp8,13 triliun agunan offline.
Baca juga: BEI Kedatangan 4 Emiten Baru Juli 2026, 3 dari Sektor Kesehatan
Pada segmen Pasar Uang dan Valuta Asing (PUVA) melalui layanan Central Counterparty (CCP) untuk transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), KPEI mencatat nilai nosional transaksi sebesar USD2,45 miliar dengan nosional net posisi USD2,3 miliar, menghasilkan efisiensi netting sebesar 6,11 persen.
Sepanjang 2025, KPEI juga membukukan 586 transaksi DNDF dengan 518 net posisi, serta penambahan tiga anggota kliring sehingga total menjadi 11 anggota kliring CCP PUVA hingga akhir tahun. (*)


