Poin Penting
- Kenaikan BI Rate ke 5,50 persen menekan perbankan lewat naiknya biaya dana dan risiko kredit yang lebih tinggi
- Bank perlu lebih selektif menyalurkan kredit sambil menjaga keseimbangan ekspansi dan kualitas aset
- Diversifikasi portofolio menjadi kunci agar risiko tidak terkonsentrasi dan bank lebih tahan terhadap kenaikan suku bunga.
Jakarta — Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate menjadi 5,50 persen membuat industri perbankan menghadapi tantangan yang lebih besar. Bagaimana strategi bank dalam menjaga momentum pertumbuhan kredit?
Menurut analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, di tengah biaya dana yang berpotensi meningkat dan permintaan kredit yang lebih selektif, perbankan dituntut semakin disiplin dalam mengelola risiko kredit.
Dalam kondisi suku bunga yang lebih tinggi, kata Aditya, bank perlu menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas aset. Sebab, kenaikan bunga acuan dapat memengaruhi biaya pendanaan, pricing kredit, serta kemampuan bayar sebagian debitur, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga dan tekanan ekonomi global.
Baca juga: Bakal Gelar IDBS 2026, Konsep Universal Banking jadi Sorotan Utama AFTECH
Strategi pengelolaan portofolio, kata Aditya, menjadi faktor penting bagi bank untuk tetap menjaga kinerja. Bank dengan portofolio kredit yang terdiversifikasi dinilai memiliki daya tahan lebih baik karena risiko tidak terkonsentrasi pada satu sektor, satu jenis pembiayaan, atau satu kelompok debitur tertentu.
“Dalam kondisi suku bunga tinggi, bank perlu semakin selektif dalam menyalurkan kredit. Portofolio yang terdiversifikasi akan membantu bank menjaga kualitas aset, karena tekanan pada satu sektor tidak langsung memberikan dampak besar terhadap keseluruhan portofolio,” ujar Aditya dalam keterangannya, Selasa (23/6).
Salah satu bank yang menerapkan strategi diversifikasi adalah Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS). BWS, menurut Aditya, memiliki portofolio kredit yang relatif solid dan terdiversifikasi. Penilaian itu didasarkan pada penyebaran eksposur kredit BWS berdasarkan mata uang, jenis penggunaan kredit, serta sektor ekonomi yang dibiayai.
Dengan eksposur yang lebih tersebar, kata Aditya, risiko kredit perseroan tidak bertumpu pada satu segmen tertentu, sehingga tekanan dari kenaikan suku bunga dapat dikelola secara lebih seimbang.
“BWS memiliki karakter portofolio yang cukup terdiversifikasi, baik dari sisi mata uang, jenis penggunaan kredit, maupun sektor ekonomi. Dalam situasi suku bunga yang meningkat, struktur seperti ini menjadi penting karena dapat membantu bank menjaga kualitas aset dan mengurangi konsentrasi risiko,” ujar Aditya.
Dari sisi mata uang, portofolio kredit BWS mencakup pembiayaan dalam rupiah maupun valuta asing. Menurut Aditya, pengelolaan eksposur berdasarkan mata uang menjadi penting di tengah volatilitas nilai tukar dan dinamika pasar keuangan global, terutama bagi debitur yang memiliki kebutuhan pembiayaan maupun pendapatan dalam valuta asing.
Baca juga: BI Ungkap Kredit Perbankan Tumbuh 11,51 Persen, Ketahanan Industri Tetap Kuat
Sementara itu, berdasarkan jenis penggunaan, portofolio kredit BWS tersebar pada kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi. Kata Aditya, komposisi tersebut memungkinkan perseroan menjaga keseimbangan antara pembiayaan sektor produktif dan segmen ritel yang memiliki karakteristik risiko berbeda.
Diversifikasi juga terlihat dari penyaluran kredit ke berbagai sektor ekonomi. Dengan pembiayaan yang tidak terkonsentrasi pada satu sektor tertentu, lanjut Aditya, BWS memiliki ruang yang lebih baik untuk menjaga kualitas aset ketika terdapat tekanan pada sektor tertentu akibat kenaikan bunga, pelemahan daya beli, atau ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Aditya, dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi, bank dengan portofolio kredit yang tersebar dan proses seleksi debitur yang prudent akan lebih mampu menjaga stabilitas kualitas aset. Hal ini menjadi penting karena dampak kenaikan suku bunga terhadap debitur biasanya tidak terjadi secara langsung, melainkan bertahap seiring meningkatnya beban bunga dan penyesuaian aktivitas ekonomi.
“Bank yang menjaga keseimbangan antara kredit produktif, kredit konsumsi, eksposur sektor usaha, dan profil mata uang akan memiliki fleksibilitas lebih baik dalam menghadapi perubahan siklus suku bunga. Kuncinya tetap pada selektivitas kredit dan monitoring kualitas debitur,” ujar Aditya. (*) DW


