Poin Penting
- Otoritas Jasa Keuangan mencatat AUM industri investasi baru 4% dari PDB (Rp1.084 triliun), masih jauh di bawah negara ASEAN lain.
- Jumlah investor reksa dana tumbuh menjadi 23,5 juta, didominasi generasi muda (54%).
- Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia menekankan pentingnya literasi dan inklusi untuk menjaga momentum pertumbuhan industri.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) baru menyumbang 4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau senilai Rp1.084 triliun per Maret 2026.
Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional (DPVR) OJK, Maulana, mengatakan bahwa potensi industri pengelolaan investasi di Indonesia masih cukup besar.
“AUM kita tuh sekarang per Maret (2026) sudah Rp1.084 triliun, naik 3,97 persen dibanding dengan Desember (2025). Kelihatannya gede ya tapi ternyata dari sisi GDP ini baru 4 persen dibanding GDP,” ucap Maulana dalam Edukasi Reksa Dana di Jakarta, Senin, 20 April 2026.
Baca juga: Soal Rencana Meger AUM BUMN, Bos Bank Mandiri Bilang Begini
Lebih lanjut, Maulana mengungkapkan persentase AUM industri pengelolaan investasi di Indonesia itu masih tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya. Malaysia tercatat sebesar 36 persen dan Thailand 30 persen dari PDB.
“Kalau kita bandingkan negara tetangga, Thailand tuh 30 persen dari GDP, Malaysia 36 persen dari GDP. Jadi ini kan masih banyak ketimpangan ya, masih banyak yang sebenarnya bisa dikejar nih,” imbuhnya.
Investor Reksa Dana Tumbuh Pesat
OJK juga mencatat pertumbuhan signifikan jumlah investor reksa dana sepanjang tahun ini. Jumlah investor kini mencapai 23,5 juta.
Angka tersebut meningkat dari posisi Desember 2025 sebanyak 19,2 juta investor, atau tumbuh 8,14 persen.
Selain itu, ia juga menyoroti investor reksa dana di Indonesia didominasi generasi muda, dengan porsi mencapai 54 persen dari total investor.
Baca juga: Investor Pasar Modal RI Masih Didominasi Milenial dan Gen Z, Ini Datanya
Di sisi lain, Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) terus memperkuat komitmen dalam meningkatkan literasi dan inklusi reksa dana melalui program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana (SOSEDU APRDI 2026).
Inisiatif tersebut mencerminkan sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong pemahaman masyarakat terhadap investasi reksa dana yang dikelola secara profesional, transparan, dan memberikan rasa tenang dalam berinvestasi.
Secara agregat, total dana kelolaan investasi telah melampaui Rp1.000 triliun, tepatnya mencapai Rp1.007,65 triliun, atau meningkat 25,19 persen secara tahunan, menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Ketua Presidium APRDI, Lolita Lilana menegaskan pentinya menjaga momentum pertumbuhan industri melalui peningkatan literasi.
“Pertumbuhan industri reksa dana yang signifikan pada tahun 2025 mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional. Momentum ini perlu terus dijaga melalui penguatan literasi dan inklusi, khususnya di kalangan generasi muda yang saat ini mendominasi komposisi investor,” ujar Lolita dalam kesempatan yang sama. (*)
Editor: Yulian Saputra








