Poin Penting
- Laba bersih konsolidasian Astra turun 19 persen menjadi Rp12,53 triliun pada semester I 2026 seiring pendapatan yang melemah.
- Bisnis pertambangan dan alat berat menjadi penyebab utama, dengan laba segmen tersebut anjlok 46 persen akibat penurunan penjualan emas dan dampak alokasi RKAB batu bara.
- Segmen otomotif dan jasa keuangan tetap tumbuh, ditopang kenaikan penjualan mobil, pembiayaan konsumen, dan kontribusi divisi komponen.
Jakarta – PT Astra International Tbk (ASII) melaporkan kinerja keuangan konsolidasi grup Astra untuk semester I 2026 menurun sebanyak 19 persen menjadi Rp12,53 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp15,51 triliun.
Presiden Direktur ASII, Rudy, mengatakan bahwa hal itu dipicu oleh pendapatan bersih konsolidasian Grup pada semester I 2026 yang tercatat sebesar Rp157,9 triliun atau 3 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kinerja Grup secara keseluruhan terdampak oleh kontribusi dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat yang lebih rendah, mencerminkan minimnya kontribusi dari divisi pertambangan emas, penurunan penjualan alat berat, serta penurunan volume pada divisi jasa penambangan dan pertambangan batu bara,” ujar Rudy dalam keterangan resmi dikutip, Jumat, 31 Juli 2026.
Baca juga: INDEF Ingatkan Risiko Konflik Kepentingan jika Danantara Masuk KSSK
Untuk bisnis solusi pertambangan dan alat berat grup membukukan laba bersih tanpa memperhitungkan non-recurring items sebesar Rp2,7 triliun atau turun 46 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut disebabkan oleh minimnya penjualan emas dari tambang emas Martabe, serta dampak dari penurunan kuota produksi batu bara nasional (alokasi RKAB), yang mengakibatkan melemahnya permintaan pada divisi alat berat dan jasa penambangan, serta penurunan volume pada divisi pertambangan batu bara.
Bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan Tetap Tumbuh
Meski demikian, laba bersih bisnis otomotif grup meningkat sebesar 9 persen menjadi Rp5,9 triliun, dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, didukung oleh pertumbuhan penjualan mobil baru dan kontribusi yang kuat dari divisi komponen.
Penjualan mobil baru Grup meningkat sebesar 10 persen, dengan Toyota dan Daihatsu tetap memimpin pasar sebagai merek mobil terlaris pertama dan kedua di Indonesia, dengan pangsa pasar Grup sebesar 51 persen.
Lalu, dari sisi bisnis jasa keuangan Grup terus menunjukkan pertumbuhan yang resilien, dengan laba bersih yang meningkat 6 persen menjadi Rp4,6 triliun.
Nilai pembiayaan baru divisi pembiayaan konsumen Grup meningkat 10 persen menjadi Rp61,8 triliun, didorong oleh pertumbuhan pembiayaan otomotif dan multi-cycle.
Baca juga: Laba Astra Otoparts (AUTO) Melonjak 22,6 Persen Jadi Rp1,2 Triliun
Divisi pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan sepeda motor mencatat kontribusi laba bersih sebesar Rp2,4 triliun, meningkat 4 persen dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan mobil meningkat 6 persen menjadi Rp1,2 triliun.
Fokus Jalankan Strategi Korporasi
Berdasarkan capaian itu, di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, Perseroan tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi yang baru, yakni focus, clarity, discipline, dan commitment.
“Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis,” tutupnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


