Poin Penting
- Pendapatan United Tractors turun 15 persen menjadi Rp58,3 triliun pada semester I 2026 akibat penurunan penjualan emas dan bisnis batu bara.
- Laba bersih turun 48 persen menjadi Rp4,3 triliun karena penjualan emas Martabe melemah dan adanya non-recurring items.
- Utang bersih mencapai Rp9,4 triliun, dipicu akuisisi perusahaan tambang emas dan program buyback saham.
Jakarta – PT United Tractors Tbk (UNTR) mengumumkan laporan keuangan konsolidasian hingga semester I tahun 2026, dengan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp58,3 triliun atau turun 15 persen dari Rp68,5 triliun pada periode yang sama pada tahun lalu.
Manajemen UNTR menjelaskan, penurunan pendapatan terutama disebabkan oleh lebih rendahnya penjualan emas di PT Agincourt Resources.
Selain itu, kinerja juga tertekan akibat penurunan kontribusi dari segmen alat berat serta pertambangan batu bara termal dan metalurgi. Kondisi tersebut dipengaruhi alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.
“Hal ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor kontraktor penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs USD,” tulis Manajemen dalam keterangan resmi dikutip, Jumat, 31 Juli 2026.
Baca juga: Pendapatan UNTR Turun 17 Persen di Q1 2026, Ini Penyebabnya
Penurunan pendapatan turut berdampak pada laba bersih perseroan, tidak termasuk non-recurring items, yang turun 48 persen menjadi Rp4,3 triliun.
Manajemen menjelaskan, penjualan emas dari Tambang Emas Martabe menurun karena sempat terjadi penghentian sementara operasional tambang. Namun, operasional tambang tersebut telah kembali berjalan pada kuartal II 2026.
Pada semester I 2026, perseroan juga membukukan non-recurring items sebesar Rp3,3 triliun. Nilai tersebut terutama berasal dari penurunan nilai investasi di Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Baca juga: United Tractors (UNTR) Resmi Caplok Saham Nickel Industries, Segini Nilainya
Posisi Utang Bersih Meningkat
Adapun, per 30 Juni 2026, Perseroan mencatat utang bersih sebesar Rp9,4 triliun, dengan rasio gearing sebesar 8,5 persen, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025.
Manajemen menyebut perubahan tersebut terutama dipengaruhi oleh akuisisi perusahaan pertambangan emas dan pelaksanaan program pembelian kembali (buyback) saham. (*)
Editor: Yulian Saputra


