Poin Penting
- Ketoprak Financial kembali hadir dengan lakon “Sultan Agung”, memadukan humor, budaya, dan soft selling dari para eksekutif industri keuangan, BUMN, serta korporasi
- Para pemain memanfaatkan panggung untuk memperkenalkan produk sekaligus menyisipkan literasi keuangan melalui improvisasi yang mengundang tawa penonton
- Seluruh hasil penjualan tiket didedikasikan untuk beasiswa anak-anak seniman ketoprak sebagai upaya melestarikan seni tradisional.
Jakarta – Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Kerajaan Mataram Islam, tengah merencanakan serangan ke VOC Belanda di Batavia. Tiba-tiba, di tengah persiapan perang, Raja Islam terbesar di Jawa itu melontarkan pernyataan anomali: “Semoga serangan Mataram ke Batavia kali ini akan berhasil, karena teknologi komunikasi saat ini sudah canggih dengan adanya Telkomsel.”
Tentu, di tahun Mataram Islam berkuasa, antara 1586 – 1755 Masehi, Telkomsel belum lahir. Bahkan, Telkom—induk usaha Telkomsel—cikal-bakalnya baru ada di tahun 1856 saat Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Dienst der Post en Telegraaf. Telkomsel baru lahir tahun 1995, dan pertama kali mengeluarkan produk kartu GSM Halo dan Simpati dua tahun kemudian.
Pernyataan anomali Sultan Agung itu bisa terjadi karena diucapkan di atas panggung Ketoprak Financial, seni pertunjukan tradisional yang dimainkan oleh para praktisi keuangan, perbankan, BUMN, dan perusahaan-perusahaan swasta nasional, serta para jurnalis senior dan akademisi. Ketoprak Financial ini bergenre ketoprak humor. Makanya selalu dipenuhi canda dan tawa, meski tetap berpegang pada pakem ketoprak tradisional.
Malam itu, Kamis, 30 Juli 2026, di bawah arahan Sutradara Aries Mukadi dan Asisten Sutradara Antonius Widodo, Ketoprak Financial membawakan lakon “Sultan Agung”. Ini adalah lakon ketujuh yang diproduksi oleh Indonesia Media Network (IMN) dengan Produser Eksekutif Eko B. Supriyanto dan Evita Sumajouw, serta didukung oleh Rumah Budaya, Infobank Media Group, dan Yayasan Anak Asuh Kita.
Baca juga: Sigit Pramono: Bankir yang Kini Menjadi “Budayawan” Peraih Gelar Doktor Seni

Kenapa Sultan Agung memilih Telkomsel sebagai “kata kunci” harapan kemenangan pasukan Mataram saat menyerang VOC Belanda? Ya, harap maklum. Sultan Agung dalam pementasan ini diperankan oleh Seno Soemadji yang kebetulan adalah Direktur Strategic Business Development & Portfolio PT Telkom Indonesia Tbk.
“Kalimat pembuka” soft selling yang dilontarkan oleh Sultan Agung pun laksana bensin yang diguyurkan ke api: membakar dan membesar dengan cepat. Para punggawa Kerajaan Mataram Islam yang merupakan eksekutif di industri keuangan, perbankan, BUMN, dan perusahaan swasta pun berebut “jualan alus” produk-produk mereka.
“Jangan lupa sebelum melakukan penyerangan ke VOC Belanda dilakukan survei dulu oleh Surveyor Indonesia, Kanjeng Sultan. Surveyor Indonesia unggul dalam jasa survei, inspeksi, konsultasi, dan sertifikasi,” ujar Gusti Kanjeng Nareswari, permaisuri Sultan Agung, yang diperankan oleh Angel dari Surveyor Indonesia.
“Ini kan malem Jumat, Sultan. Jangan lupa para prajurit dan penonton sekalian ngunjuk Viagra njih,” celetuk istri Pangeran Bagus Juminah yang diperankan oleh Intan Abdams Katoppo, Direktur Utama PT Phapros Tbk. Seperti diketahui, akhir tahun lalu Phapros memperkenalkan produk inovasi berbasis tadalafil untuk mengatasi disfungsi ereksi (DE) pada pria dewasa.
Yang tak kalah kocak saat Dipati Ukur Wangsanata, yang diperankan oleh Direktur BCA Haryanto T. Budiman, mengungkapkan bahwa seluruh keluarga, prajurit, dan kawula di kadipaten yang dipimpinnya sudah menggunakan aplikasi blu dan QRIS BCA. “Sehingga memudahkan saat pembayaran logistik perang,” ujarnya.
Spontan, Nyai Sekar Arum, istri Dipati Ukur yang diperankan oleh Wadirut BNI Alexandra Askandar protes. “Seharusnya sutradara mempertimbangkan masak-masak sebelum menentukan pasangan masing-masing. Masak saya dipasangkan dengan kompetitor. Saya kan pakai wondr,” ketus Sekar Arum yang disambut gelak-tawa penonton dan para pemain.
Selain jadi ajang soft selling, panggung Ketoprak Financial ini juga dijadikan ajang literasi keuangan oleh para pemain. “Sinuhun Kanjeng Sultan Agung. Seluruh pasukan dari Kendal siap berperang. Kami juga siap mati karena semua prajurit sudah diasuransikan. Sehingga, kalau semua pasukan mati saat melawan VOC Belanda, Mataram akan semakin kaya karena dapat banyak klaim,” celetuk Dipati Kendal Baureksa yang diperankan oleh Direktur BNI Ronny Venir.
Inilah salah satu keunikan dan kelebihan Ketoprak Financial: bebas berimprovisasi. Bahkan, hampir sebagian besar naskah yang dihafalkan saat latihan, tidak muncul di atas panggung. Dalam setiap pementasan, seluruh pemain dituntut berkreativitas dengan ide-ide spontan.
“Memang harus berimprovisasi. Apalagi, seringkali yang rajin latihan malah ndak ikut pentas. Eh, yang ndak pernah latihan sama sekali malah ikut main,” gurau Eko B. Supriyanto.
Baca juga: Pelestarian Budaya Osing Dongkrak Ekonomi Desa Wisata Kemiren, Menpar Beri Apresiasi
Hidupkan Seni Tradisional
Digagas oleh Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Media Group, Ketoprak Financial berangkat dari kisah haru saat suatu hari Eko menyaksikan seni pertunjukan ketoprak di Gedung Kesenian Paguyuban Wayang Orang Bharata di Pasar Senen.
“Mereka sangat bersahaja. Saat pentas kadang hanya tersedia gorengan dan kopi,” ungkap Eko di sela pertunjukan, sambil menunjuk puluhan pemain ketoprak tradisional yang sedang tekun berlatih di belakang stage.
Yang membuat Eko semakin trenyuh dan tergugah untuk terlibat lebih jauh dan dalam di komunitas seni ketoprak ini adalah kehidupan keseharian pada seniman yang sangat sederhana. Banyak di antara mereka yang bekerja serabutan.
”Tapi, semangat mereka untuk terus menghidupkan kesenian tradisional ini sangat tinggi dan militan,” ujarnya.
Makanya, hasil penjualan tiket dari pertunjukan yang digelar oleh Indonesia Media Network ini didedikasin untuk beasiswa pendidikan tinggi bagi putra-putri seniman ketoprak. “Ini bentuk kepedulian kami, para praktisi keuangan dan perbankan nasional, dalam menguri-uri kesenian tradisional agar terus hidup,” ujar Eko.
Untuk itu, Eko mengucapkan beribu terima kasih kepada para eksekutif keuangan, perbankan, BUMN maupun korporasi swasta dan perorangan yang terlibat dalam pagelaran Ketoprak Financial ini, baik sebagai pemain, pendukung, penonton, maupun sebagai donatur. (*) DW


