Poin Penting
- Ketoprak Financial “Sultan Agung” memadukan sejarah perjuangan dengan humor bertema dunia keuangan
- Tokoh industri keuangan dan BUMN tampil di panggung membawa pesan persatuan dan nasionalisme
- Hasil penjualan tiket disumbangkan untuk pendidikan anak melalui Yayasan Anak Asuh Kita.
Jakarta – Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Kamis (30/7) malam, tak hanya dipenuhi nuansa sejarah perjuangan Sultan Agung melawan VOC Belanda, tetapi juga gelak tawa para penonton.
Lewat pagelaran Ketoprak Financial bertajuk “Sultan Agung”, para petinggi industri keuangan, perbankan, BUMN, akademisi, anggota BPK RI, hingga jurnalis senior membuktikan bahwa dunia keuangan tak melulu identik dengan angka dan laporan keuangan.
Di bawah arahan apik sutradara Aries Mukadi, lakon yang dipentaskan selama dua jam itu mengangkat kisah heroik Sultan Agung Hanyakrakusuma dalam mempersatukan Pulau Jawa sekaligus memimpin perlawanan Kerajaan Mataram Islam terhadap VOC Belanda di Batavia pada abad ke-17.
Menariknya, sejarah disajikan dengan kemasan segar. Dialog-dialog khas ketoprak dipadukan dengan humor kekinian, mulai dari QRIS, barcode, investasi bodong hingga kecerdasan buatan (AI). Hasilnya, penonton dibuat terpingkal tanpa kehilangan pesan utama tentang persatuan dan nasionalisme.
“Kalau zaman Sultan Agung sudah ada QRIS, mungkin logistik perang tinggal scan barcode. Tapi satu hal yang tetap tidak bisa di-scan adalah semangat persatuan,” celetuk salah satu pemeran yang langsung disambut riuh tepuk tangan.
Humor lain yang tak kalah menggelitik muncul ketika para prajurit membahas pentingnya menabung.
“Uang jangan disimpan di balik tembok kerajaan. Ditabung saja. Yang penting jangan investasi bodong karena sudah diawasi oleh OJK,” ujar pemeran lainnya.
Candaan tersebut berhasil menyambungkan cerita sejarah dengan realitas industri keuangan modern yang akrab di kehidupan masyarakat modern.
Baca juga: Sigit Pramono: Bankir yang Kini Menjadi “Budayawan” Peraih Gelar Doktor Seni

Sejarah Bertemu Dunia Finansial
Salah satu kekuatan pertunjukan Ketoprak Financial yakni kemampuannya mengawinkan sejarah dengan isu ekonomi modern.
Dalam salah satu adegan, diceritakan bahwa para prajurit mendiskusikan logistik perang menggunakan istilah yang akrab di industri keuangan.
“Perang itu bukan cuma soal keberanian, tapi juga logistik. Kalau logistik kuat, perang jalan. Mirip perusahaan, kalau cash flow sehat, direksi juga tidur lebih nyenyak.”
Bahkan teknologi digital pun ikut menjadi bahan candaan.
“Anak-anak kerajaan sekarang kalau ditanya apa saja jawabnya, ‘Saya cek ChatGPT dulu, Kangmas.'”
Ajang Silaturahmi Pelaku Industri Keuangan
Produser Eksekutif Pagelaran Ketoprak Financial, Eko B. Supriyanto, mengatakan pemilihan lakon “Sultan Agung” bukan sekadar mengangkat sejarah, melainkan mengingatkan kembali pentingnya persatuan bangsa.
“Kita mengangkat lakon ini untuk mengenang dan meneladani semangat persatuan dan kemerdekaan yang digelorakan oleh Sultan Agung saat melawan VOC Belanda yang memecah-belah Mataram,” ujar Eko di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.
Menurutnya, nilai persatuan tetap relevan hingga sekarang. Perbedaan pandangan di tengah masyarakat tidak semestinya menjadi alasan untuk saling memecah belah.
“Semangat perjuangan melawan penindasan selalu aktual karena masih ada ketidakadilan yang harus diperjuangkan dan masih ada anak bangsa yang terpecah akibat perbedaan pendapat,” katanya.

Deretan Tokoh Industri Keuangan Turun Langsung ke Panggung
Panggung GKJ malam itu diisi oleh sejumlah nama besar dari industri keuangan antara lain Suwandi Wiratno (Ketua Umum APPI), Fathan Subchi (Anggota BPK RI), Aviliani (Komut Allo Bank), Alexandra Askandar (Wadirut BNI), Rita Mirasari (Direktur Bank Danamon), Haryanto T. Budiman (Ketua Umum IBI), Seno Soemadji (Direktur Telkom), dan Antonius Widodo (Direktur BCA).
Turut juga bermain, Juanita Luthan (Direktur NobuBank), Alfa Niasari (Direktur Pertalife), Lisawati (Komisaris Bank Ganesha), Rudiantara (Komut DANA), Evi Afiatin (Direktur Surveyor Indonesia), Dumasi MM Samosir (Direktur Asuransi Sinar Mas), dan Rokidi (Dirut Bank Kalbar).
Ada juga Kusumaningtuti (Komisaris SMBC Indonesia), Nicolaus Prawiro (Wadirut Asuransi Cakrawala Proteksi), Jemmy Atmadja (Presdir Asuransi Maximus), Tribuana Tunggadewi (Direktur Pengadaian), Benny Purnomo (Komisaris InaRe), Maria Y. Benyamin (Direktur Bisnis Indonesia), dan Karnoto Mohamad (Direktur Infobank).
Pagelaran Ketoprak Financial yang diproduksi oleh Indonesia Media Network ini juga menghadirkan bintang tamu Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan dan komedian Yanti Lemu.
Penjualan Tiket untuk Pendidikan Anak
Selain melestarikan seni tradisional, Ketoprak Financial juga memiliki misi sosial. Seluruh hasil penjualan tiket disalurkan kepada Yayasan Anak Asuh Kita sebagai dukungan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.
“Seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan ke Yayasan Anak Asuh Kita,” ungkap Eko.
Eko pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para eksekutif industri keuangan, perbankan, BUMN, BPK, asosiasi, akademisi, dan para jurnalis senior yang turut mendukung pagelaran Ketoprak Financial ini.
“Di tengah kesibukan sebagai profesional, mereka masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian kesenian tradisional Indonesia,” imbuhnya.
Di penghujung pertunjukkan, seluruh pemain berdiri bersama meneriakkan kata “Merdeka!” yang disambut tepuk tangan panjang penonton.
Baca juga: BNI Perkuat Budaya Layanan Lewat CX100 Danantara
Sinopsis Sultan Agung
Lakon “Sultan Agung” diangkat dari sejarah kisah perlawanan Kerajaan Mataram Islam di Plered, Yogyakarta, terhadap VOC Belanda di Batavia. Saat itu Kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memerintah sekitar tahun 1613-1645.
Sultan Agung dikenal sebagai salah satu raja terbesar di Tanah Jawa karena berhasil menyatukan wilayah Jawa di bawah Kerajaan Mataram. Hanya satu wilayah yang belum berhasil ditaklukkan, yakni wilayah Batavia yang saat itu dikuasi oleh VOC Belanda.
Sikap VOC Belanda yang semena-mena terhadap rakyat di wilayah Mataram membuat Sultan Agung marah dan memerintahkan pasukannya untuk menyerang Batavia, yakni pada tahun 1628 dan 1629. Namun, dalam penyerangan tersebut Sultan Agung belum berhasil mengusir VOC Belanda dari Batavia.
Bahkan, banyak pasukan Mataram yang meninggal karena munculnya wabah penyakit. VOC Belanda juga melakukan penyerangan ke titik-titik logistik pasukan Mataram, sehingga Sultan Agung memutuskan untuk mundur dan kembali ke Plered.
Meski belum berhasil mengusir VOC Belanda, Sultan Agung dinilai sebagai tokoh yang agung karena tiga hal. Satu, berhasil menyatukan hampir seluruh Pulau Jawa di bawah Kerajaan Mataram.
Dua, dia meninggalkan legacy berupa Kalender Jawa Islam yang menyatukan Kalender Hijriah Islam dan Kalender Saka Jawa. Tiga, menjadi peletak dasar pemerintahan dan budaya Jawa-Islam. (*)


