Poin Penting
- GRC harus terintegrasi dengan strategi, kinerja, risiko, kontrol, kepatuhan, dan assurance untuk memperkuat kualitas keputusan
- GRC perlu bergeser dari fungsi kepatuhan menjadi strategic enabler melalui continuous assurance, data real-time, dan teknologi
- Pengukuran kematangan GRC harus menjadi alat diagnostik untuk menemukan gap, menentukan prioritas perbaikan, dan menyusun roadmap penguatan GRC.
Jakarta – Penguatan kematangan Governance, Risk, and Compliance (GRC) menjadi kebutuhan strategis bagi organisasi di tengah semakin kompleksnya risiko bisnis dan percepatan transformasi digital.
GRC tidak lagi cukup diposisikan sebagai fungsi kepatuhan, tetapi harus mampu terintegrasi dengan strategi, kinerja, manajemen risiko, pengendalian, hingga proses pengambilan keputusan.
Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan RI Nur Rachmad mengatakan, penguatan GRC perlu diarahkan agar berbagai elemen organisasi tidak berjalan secara terpisah. Strategy, performance, risk, control, compliance, dan assurance harus dibaca sebagai satu kesatuan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif.
“Penguatan GRC penting untuk menjaga kredibilitas pengelolaan keuangan, akuntabilitas, pengendalian intern, dan transformasi digital. GRC perlu mengintegrasikan strategy, performance, risk, control, compliance, dan assurance dalam satu kesatuan agar dapat mendukung pengambilan keputusan secara lebih menyeluruh,” kata Nur Rachmad dalam acara TOP GRC Awards 2026 di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Baca juga: Hadapi Lanskap Risiko Global, OJK Dorong IJK Perkuat GRC
Menurutnya, kebutuhan tersebut semakin penting seiring meningkatnya pemanfaatan data dan teknologi dalam proses bisnis. Karena itu, risk dashboard tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai alat pelaporan, tetapi perlu dikembangkan menjadi sistem early warning dan decision intelligence.
Pemanfaatan artificial intelligence (AI) juga perlu dibangun dengan memperhatikan digital trust, human oversight, auditability, keamanan, dan akuntabilitas. Dengan begitu, teknologi dapat memperkuat kualitas pengawasan dan pengambilan keputusan tanpa menghilangkan peran manusia.
Sementara itu, Managing Director Risk & Sustainability BPI Danantara Effendi Hengki menilai GRC perlu mengalami pergeseran dari fungsi yang semata-mata menjaga kepatuhan menjadi strategic enabler dan instrumen penciptaan nilai.
“GRC yang efektif membantu pimpinan mengambil risiko secara lebih berani namun tetap terukur sesuai risk appetite, melindungi nilai investasi dari risiko yang tidak diinginkan, sekaligus menangkap peluang strategis dan meningkatkan kualitas eksekusi bisnis,” ujar Effendi.
Menurut Effendi, perubahan karakter risiko di era digital juga membuat pendekatan GRC berbasis snapshot tidak lagi memadai. Risiko seperti kebocoran data, fraud, perubahan konfigurasi sistem, maupun persoalan akses dapat berkembang dalam hitungan menit sehingga membutuhkan pengawasan yang berlangsung secara berkelanjutan.
Karena itu, perusahaan perlu bergerak menuju continuous assurance, dengan memanfaatkan data secara lebih luas dan real-time, validasi otomatis, serta integrasi sistem. Pendekatan tersebut memungkinkan fungsi GRC dan audit mendeteksi risiko lebih dini, bukan hanya mengevaluasi kejadian yang sudah berlangsung.
“Dengan demikian, fungsi GRC dan audit dapat bergerak dari sekadar memeriksa kejadian masa lalu menjadi mitra strategis yang membantu perusahaan mendeteksi risiko lebih dini, memperkuat ketahanan, dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat dan tepat,” kata Effendi.
Mengukur Kematangan GRC
Perubahan paradigma tersebut kemudian bermuara pada kebutuhan perusahaan untuk mengukur GRC Maturity secara lebih komprehensif. Pengukuran tidak lagi cukup didasarkan pada ada atau tidaknya kebijakan, struktur, sistem, maupun dokumen GRC.
Kematangan GRC perlu melihat bagaimana seluruh kapabilitas tersebut dijalankan, terintegrasi dengan bisnis, menghasilkan dampak, serta diperbaiki secara berkelanjutan.
Dalam TOP GRC Awards 2026, penyempurnaan kriteria penilaian diarahkan pada empat variabel besar, yakni Value and Business Impact, Governance and Integration, GRC Execution Excellent, serta Continuous Maturity.
Keempat variabel tersebut kemudian dijabarkan ke dalam 12 dimensi, antara lain business performance, value proposition, governance model, GRC integration, risk management excellence, compliance and integrity, internal control and assurance, sustainability by design, data and technology, leadership and culture, serta continuous improvement.
Pendekatan ini menempatkan GRC Maturity Index (GRC-MI) bukan sekadar sebagai angka atau peringkat, melainkan sebagai alat diagnostik untuk mengetahui posisi kapabilitas GRC perusahaan.
MSI Institute menilai GRC-MI dapat digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kesenjangan (gap) organisasi, menentukan prioritas perbaikan, serta menyusun roadmap peningkatan kapabilitas GRC. Kerangka tersebut mengacu pada prinsip-prinsip OCEG GRC Capability Model.
Ketua Penyelenggara TOP GRC Awards 2026 Lutfi Handayani mengatakan, nilai strategis dari maturity assessment terletak pada kemampuan organisasi menerjemahkan hasil pengukuran menjadi agenda perbaikan.
Baca juga: Soal Kabar Payroll ASN Beralih dari BPD ke Himbara, Begini Tanggapan OJK
“Yang paling penting dari maturity assessment bukan hanya mengetahui levelnya. Nilai strategisnya adalah mengetahui apa yang sudah kuat, apa yang masih menjadi gap, mengapa gap itu terjadi, dan improvement apa yang harus diprioritaskan agar GRC semakin efektif mendukung tujuan bisnis,” kata Lutfi.
Dengan demikian, penguatan GRC Maturity menjadi bagian dari perjalanan perusahaan untuk membangun GRC yang lebih terintegrasi, adaptif, berbasis data, serta mampu memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan dan keberlanjutan bisnis.
Pendekatan tersebut sekaligus menggeser paradigma GRC dari compliance-driven menuju value-driven, dari sekadar pelaporan menuju early warning dan decision intelligence, serta dari fungsi yang berjalan dalam silo menuju kapabilitas yang terintegrasi dengan strategi dan proses bisnis. (*)


