Jakarta – Bank Mandiri terus mengoptimalkan skema jaring untuk mendukung pengembangan sektor kelautan dan perikanan. Jaring merupakanpenyaluran pembiayaan dalam Program Jangkau, Sinergi, dan Guideline (Jaring).
Pada periode Januari – Agustus 2016, Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan pada melalui skema Jaring hingga Rp1,33 triliun. Total outstanding penyaluran Bank Mandiri sejak program Jaring diluncurkan mencapai Rp2,47 triliun .
Jaring merupakan program yang digulirkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2015 dan dimaksudkan menjawab kebutuhan masyarakat terhadap informasi tentang database Kelautan dan Perikanan, skim pembiayaan, pemetaan risiko bisnis dan dukungan regulasi dari otoritas terkait.
Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Hafas mengatakan, komitmen perseroan dalam mendukung program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan para nelayan dan pelaku usaha lain di sektor ini. “Kami terus meningkatkan peran aktif dalam mengembangkan sektor perikanan domestik agar mampu mendukung kemandirian ekonomi nasional,” ungkap Rohan. (Selanjutnya : Komitmen bank mandiri dalam mendukung program Jaring..)
Rohan menyampaikan, komitmen kuat Bank Mandiri dalam mendukung program Jaring juga terlihat dari meningkatnya pembiayaan yang disalurkan sejak diluncurkan. Pada sepanjang tahun lalu, pinjaman program Jaring yang disalurkan perseroan mencapai Rp1,14 triliun.
Rohan melanjutkan, upaya penguatan dukungan ke program Jaring juga dilakukan melalui pengelolaan atau mitigasi risiko yang ada, seperti pemilihan fokus pembiayaan ke depan dengan titik berat pada subsektor pengolahan yang dapat memberikan nilai tambah bagi komoditas perikanan. “Kami akan mengarahkan 60-70% pembiayaan perikanan di subsektor ini,” katanya.
Sementara untuk subsektor Perikanan Tangkap, tambahnya, Bank Mandiri akan menekankan pada penyaluran pembiayaan dengan target nelayan binaan dari nasabah korporasi perseroan.
(Baca juga : Bank Mandiri Siap Bangun 20 Cabang di Malaysia)
“Kami berharap langkah-langkah tersebut dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang ada, seperti mengenai tingginya risiko pembiayaan kepada nelayan karena faktor cuaca dan minimnya akses nelayan ke perbankan,” kata Rohan.(*)


