Poin Penting
- Kadin dorong empat program penguatan ekosistem protein untuk mendukung MBG
- Kadin usulkan 3 persen KUR Alsintan untuk klaster usaha rantai pasok protein
- Kadin dorong kolaborasi Kementan-BGN untuk menjamin penyerapan produk protein.
Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong penguatan ekosistem penyediaan protein nasional untuk mendukung kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kadin mengusulkan empat program utama yang mencakup penguatan produksi, rantai pasok, hingga digitalisasi sektor pertanian dan peternakan.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Peternakan Cecep, Muhammad Wahyudin menyampaikan empat program utama Satgas Protein yang dinilai penting untuk memperkuat ketersediaan dan rantai pasok protein dari hulu hingga hilir.
“Pertama adalah hilirisasi untuk produk-produk hasil pertanian dan peternakan yang berkaitan dengan protein. Kedua, desentralisasi ayam petelur. Ketiga, pengembangan kawasan sapi perah di Indonesia. Keempat, digitalisasi sistem dari hulu sampai dengan hilir,” ujar Cecep, dikutip Jumat, 28 Agustus 2026.
Keempat program tersebut kata Cecep diharapkan dapat membangun ekosistem protein yang lebih terintegrasi sekaligus melibatkan masyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah.
Usulkan 3 Persen KUR Alsintan untuk Klaster Protein
Dalam audiensi tersebut, Kadin Indonesia juga menyampaikan sejumlah bentuk kerja sama yang dapat segera dikonkretkan bersama Kementerian Pertanian RI.
Baca juga: Dukung Ekonomi 8 Persen, Kadin Andalkan Empat Program Prioritas
Salah satunya terkait pemanfaatan alokasi 3 persen Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk alat dan mesin pertanian (Alsintan) bagi klaster atau ekosistem usaha yang mendukung rantai pasok protein.
“Kita mengajukan 3 persen KUR Alsintan itu untuk klasternya dimasukkan. Karena ini akan melibatkan masyarakat, itu menjadi bagian daripada satu ekosistem supply chain,” jelas Cecep.
Kadin Dorong Pengembangan Kawasan Sapi Perah
Selain itu, Kadin Indonesia mendorong percepatan pengembangan kawasan sapi perah di Indonesia.
Untuk mendukung program tersebut, Kadin berharap pemerintah dapat memberikan kemudahan dalam proses importasi serta akses pembiayaan dengan skema kredit yang lebih lunak dan berjangka panjang.
“Kemudian yang kedua terkait dengan pengembangan sapi perah, harapannya pemerintah bisa memberikan lebih mudah lagi importasi dan juga kredit yang lunak dan panjang,” kata Cecep.
Kadin Indonesia juga menilai keberadaan off-taker yang terjamin menjadi salah satu faktor penting dalam membangun ekosistem protein yang berkelanjutan.
Dalam hal ini, Kadin berharap Kementerian Pertanian RI dapat membuka ruang kolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai salah satu off-taker terbesar dalam ekosistem MBG.
Baca juga: Kadin Dorong Penguatan UMKM dan Ekonomi Syariah untuk Dongkrak Daya Saing RI
“Kita ingin ada off-taker yang terjamin. Harapannya Kementan bisa membuka wacana untuk kolaborasi dengan BGN sebagai off-taker yang hari ini paling besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Cecep menyampaikan dalam audiensi tersebut, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman memberikan respons positif terhadap berbagai aspirasi dan usulan yang disampaikan Kadin Indonesia.
Bahkan, menurutnya, Menteri Pertanian menunjukkan komitmen untuk mempercepat tindak lanjut atas sejumlah program yang dibahas.
“Respons Pak Menteri sangat baik. Alhamdulillah, di luar ekspektasi juga, Pak Menteri tampaknya ingin bergerak cepat karena memang sejalan dengan apa yang diajukan oleh kita,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


