Poin Penting
- Kadin dan Pegadaian memperluas akses produk emas untuk tabungan, investasi, dan pembiayaan
- Kolaborasi mendorong literasi emas sebagai instrumen penyimpan nilai dan penguatan ekonomi
- Pegadaian kini mengelola 145 ton emas dengan sekitar 20 juta nasabah.
Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggandeng PT Pegadaian (Persero) dalam memperluas akses dunia usaha dan masyarakat terhadap produk serta layanan berbasis emas.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam memperluas pemanfaatan emas, baik sebagai instrumen tabungan, investasi maupun sumber pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Menurutnya, Kadin memiliki banyak anggota yang berasal dari berbagai skala usaha, mulai dari perusahaan besar hingga pelaku usaha kecil dan menengah.
Karena itu, kolaborasi dengan Pegadaian dinilai bisa membuka akses lebih luas bagi anggota Kadin untuk memanfaatkan berbagai produk dan layanan berbasis emas.
“Ini bisa bekerja sama, paling sedikit dari sisi saving atau simpanan, baik untuk perusahaan maupun individu. Yang kedua, tentu ini adalah cara yang baik untuk pendanaan ke depannya,” jelasnya.
Dorong Emas Jadi Instrumen Tabungan
Emas sendiri memiliki karakteristik sebagai instrumen penyimpan nilai. Karena itu, salah satu fokus kerja sama Kadin dan Pegadaian yakni meningkatkan sosialisasi serta literasi masyarakat mengenai emas sebagai instrumen tabungan.
Baca juga: OJK: Bullion Bank Kelola Lebih dari 150 Ton Emas
“Kita bisa menggiatkan, menyosialisasikan emas sebagai tabungan. Bahkan tadi saya suka tagline-nya, mencapai Indonesia Emas dengan emas,” kata Anindya.
Dia menilai kebiasaan menabung penting bagi Indonesia untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan dan mendorong perekonomian keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.
“Kebutuhan kita memang besar sebagai negara. Keberhasilan Indonesia untuk keluar dari middle income trap adalah dengan menabung, dan menabung yang paling bagus adalah menabung di emas,” ujarnya.
Selain tabungan, Anindya menilai emas dapat dimanfaatkan sebagai instrumen investasi sekaligus sumber pembiayaan bagi dunia usaha.
Perluas Pemanfaatan Produk dan Layanan
Sementara itu, Direktur Utama PT Pegadaian, Damar Latri Setiawan mengatakan kerja sama dengan Kadin merupakan bentuk kolaborasi strategis untuk memperluas pemanfaatan produk dan layanan Pegadaian di kalangan dunia usaha dan masyarakat.
Ia membeberkan, salah satu produk utama Pegadaian yang bisa dimanfaatkan masyarakat yakni Tabungan Emas. Produk tersebut dapat diakses secara digital melalui aplikasi Tring by Pegadaian.
Baca juga: Kelola 141 Ton Emas, Pegadaian Beberkan Strategi Pengembangan Bisnis Bullion
“Pegadaian mempunyai produk-produk yang menarik, yang utama adalah Tabungan Emas dengan aplikasi Tring. Semua masyarakat bisa menggunakan urusan emas dengan mudah dan cepat melalui aplikasi Tring,” kata Damar.
Menurut Damar, jaringan Kadin dan Pegadaian sudar tersebar di berbagai wilayah Indonesia menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan kerja sama.
“Kadin ada di seluruh Indonesia, Pegadaian ada di seluruh Indonesia. Sebenarnya sangat klop sekali untuk melakukan kolaborasi,” ujarnya.
Kelola 145 Ton Emas
Sejak menyandang status “bank emas” alias bullion bank tahun lalu, portofolio bisnis emas milik PT Pegadaian moncer, terutama dari pengelolaan emas dan layanan bank emas.
Adapun total pengelolaan emas perseroan kini telah menembus 145 ton. Angka ini mencakup kepemilikan emas masyarakat berupa tabungan emas yang dititipkan ke Pegadaian.
Portofolio bisnis Pegadaian masih didominasii layanan emas. Saat ini, sekitar 90 persen dari total pengelolaan memang berasal dari bisnis emas, dengan jumlah nasabah mencapai 20 juta orang.
Pertumbuhan siginifak tersebut turut disokong oleh penguatan layanan digital melalui aplikasi TRING yang didukung jaringan lebih dari 4.100 outlet dan 2.000 agen di Tanah Air.
Sementara dari sisi kinerja perusahan, Pegadaian mencatat laba bersih Rp8,34 triliun sepanjang 2025, naik 42,6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan 2024 sebesar Rp5,85 triliun.
Lonjakan laba didorong kenaikan total aset menjadi Rp151,7 triliun atau tumbuh 47,8 persen dari posisi 2024 sebesar Rp102,6 triliun.
Di sisi penyaluran, outstanding loan (OSL) gross tercatat Rp 126 triliun atau meningkat 47,5 persen dari Rp85,4 triliun pada tahun sebelumnya. (*)
Editor: Galih Pratama


