Poin Penting
- Bank Mandiri Taspen memperbesar CASA untuk menekan cost of fund di tengah suku bunga tinggi
- Cost of fund sempat turun ke 4,02 persen, terendah dalam sejarah perseroan, sebelum kembali naik usai BI menaikkan suku bunga
- DPK masih didominasi deposito (74,18 persen), sehingga peningkatan dana murah menjadi fokus utama perseroan.
Bali – Bank Indonesia (BI) agresif menaikkan suku bunga acuan. Pada Juni 2026, BI kembali mengerek BI Rate menjadi 5,75 persen. Ini menyusul terpuruknya pasar keuangan dalam negeri, terutama rontoknya rupiah.
Bagi industri perbankan, era suku bunga tinggi ini jadi tantangan tersendiri. Biaya dana (cost of fund) yang ditanggung perbankan mulai terdongkrak. Imbasnya, margin perseroan bisa tergerus.
Oleh karenanya, bank dituntut untuk putar otak mengatur strategi menjaring dana murah current account saving account (CASA) untuk menekan cost of fund.
PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap), misalnya, mulai mengubah strategi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dengan memperbesar porsi dana murah di tengah era suku bunga tinggi.
Baca juga: Bank Mantap Dorong Perilaku Hijau di Lingkungan Pendidikan
Langkah ini ditempuh untuk menekan cost of fund yang selama ini masih ditopang deposito.
Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan mengungkapkan, selama hampir 11 tahun bank lebih banyak mengandalkan deposito sebagai sumber pendanaan. Namun sejak akhir 2025, manajemen mulai mengalihkan fokus ke tabungan dan giro.
“Selama hampir 11 tahun, Bank Mantap lebih banyak mengincar deposito. Ketika kami masuk pada Desember, saya melihat kalau pola seperti ini diteruskan, biaya dana akan terus mahal. Karena itu sejak Desember hingga Maret kami fokus mencari tabungan dan giro,” ujar Panji dalam Media Gathering di Bali, 3 Juli 2026.
Dorong Transaksi dan Cash Management
Untuk memperbesar CASA, lanjut Panji, Bank Mandiri Taspen mengoptimalkan produk transaksi seperti KRIS dan layanan Mantap Cash Management.
Menurut Panji, penggunaan Mantap Cash Management akan meningkatkan saldo giro, sementara transaksi melalui QRIS dan layanan digital lainnya berkontribusi pada pertumbuhan tabungan.
“Prinsipnya, kalau kita membesarkan tabungan dan giro, bunganya memang ada, tetapi tetap jauh lebih murah dibanding deposito. Dengan begitu, cost of fund bisa turun,” jelasnya.
Sempat Sentuh Level Terendah
Menurut Panji, strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Buktinya, biaya dana Bank Mandiri Taspen sempat turun hingga mendekati 4 persen, bahkan berada di sekitar 4,02 persen, level terendah dalam sejarah perseroan.
“Sebenarnya sudah sangat dekat untuk menembus 3,99 persen, yang akan menjadi rekor terendah dalam sejarah Bank Mantap,” katanya.
Namun memasuki Juni 2026, biaya dana kembali naik. Ini tak lepas dari keputusan Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan seiring ketatnya likuiditas pasar dan tingginya persaingan memperebutkan dana masyarakat.
Panji menegaskan, perubahan strategi ini menjadi bagian dari transformasi bisnis Bank Mandiri Taspen. Jika sebelumnya bank lebih berfokus pada penyaluran kredit pensiun, kini penghimpunan dana murah juga menjadi prioritas utama.
“Selama tujuh bulan ini, jangan cuma nyari kredit pensiunan dong, cari juga tabungan sama giro-nya,”jelas Panji.
Dengan memperbesar porsi CASA, Bank Mandiri Taspen berharap dapat menjaga margin bunga tetap sehat sekaligus memperkuat daya saing di tengah dinamika suku bunga yang masih tinggi.
DPK Didominasi Dana Mahal
Jika menilik laporan keuangan perseroan per kuartal I 2026, total DPK Bank Mandiri Taspen mencapai Rp58,33 triliun per kuartal I 2026.
Dari jumlah tersebut masih didominasi dana mahal (deposito) yang jumlahnya Rp43,28 triliun atau 74,18 persen dari total DPK.
Adapun sisanya sekitar 25,81 persen merupakan dana murah (giro dan tabungan) yang jumlahnya Rp15,05 triliun. (*)


