Poin Penting
- J.P. Morgan mempertahankan target IHSG di level 7.000 pada akhir 2026, didukung sentimen pasar yang dinilai semakin positif
- Aksi jual asing masih menjadi tekanan, dengan net sell mencapai Rp69,09 triliun hingga 2 September 2026.
- Prospek earnings tetap menjadi penopang IHSG, dengan pertumbuhan earnings perusahaan yang dikelola J.P. Morgan sebesar 6 persen
Jakarta – J.P. Morgan masih optimistis terhadap prospek pasar saham Indonesia hingga akhir 2026. Head of Indonesia Equity Research J.P. Morgan, Benny Kurniawan, mempertahankan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 7.000 pada akhir tahun.
Benny menilai, target tersebut berpeluang tercapai seiring dengan respons pasar yang semakin positif terhadap saham-saham Indonesia. Selain itu, posisi investor domestik maupun asing yang saat ini relatif rendah dinilai masih membuka ruang bagi aksi beli di pasar.
“Tim J.P.Morgan masih expect target JCI by December itu di 7.000 jadi kita masih expect ada kenaikan sampai akhir tahun yang didorong oleh sentimen yang lebih positif dan positioning investor maupun lokal ataupun asing yang sebenarnya sudah cukup rendah tahun ini,” ucap Benny dalam Media Briefing di Jakarta, 3 September 2026.
Baca juga: Siap-Siap, Bank Milik Chairul Tanjung Ini Mau Buyback Saham Rp300 Miliar
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), net sell investor asing hingga 2 September 2026 tercatat sebesar Rp69,09 triliun. Posisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual investor asing masih cukup besar sepanjang tahun berjalan.
Di sisi lain, Benny melihat masih terdapat amunisi dari investor domestik, khususnya reksa dana saham. Menurutnya, posisi kas (cash level) reksa dana saham di Indonesia saat ini relatif tinggi sehingga berpotensi mendorong aksi beli di pasar saham.
“Seperti yang kita tahu asing sudah jualan dan kalau kita lihat fun fact sheet dari reksadana-reksadana ekuitas di Indonesia, sebenarnya cash level mereka pun juga cukup tinggi jadinya ada banyak amunisi untuk beli di market kita tahun ini,” imbuhnya.
Optimisme terhadap pasar modal Indonesia juga ditopang oleh pertumbuhan top line dan earnings perusahaan yang dinilai masih cukup solid. Meski demikian, sejumlah segmen industri menghadapi tekanan margin akibat kenaikan biaya input.
“Tapi selama top line growth itu masih naik dan di first half tahun ini actually naiknya cukup kencang menurut saya investor tidak mungkin bisa melupakan Indonesia,” ujar Benny.
Baca juga: Bentuk Konglomerasi Keuangan, OCBC Tuntaskan Akuisisi 20 Persen Saham GELI
Lebih lanjut, Benny menyebut pertumbuhan earnings perusahaan yang dikelola J.P. Morgan masih positif sebesar 6 persen. Kondisi tersebut terjadi ketika IHSG masih terkoreksi 23,11 persen sejak awal tahun.
Sementara itu, konsensus analis memperkirakan pertumbuhan earnings pada 2027 masih dapat mencapai 9 persen.
Pertumbuhan tersebut diharapkan ditopang oleh belanja pemerintah dan peningkatan government spending. (*)
Editor: Galih Pratama


