Poin Penting
- Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai target pertumbuhan 8 persen sulit tercapai di tengah gejolak global dan konflik internasional
- Konflik dunia seperti Iran–AS–Israel dan Rusia–Ukraina menekan ekspor dan nilai tukar
- JK mendorong efisiensi belanja, peningkatan pendapatan, dan penguatan produksi dalam negeri.
Jakarta – Indonesia tengah membidik pertumbuhan ekonomi 8 persen yang inklusif sesuai target pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, kondisi ekonomi global yang masih bergejolak membuat pencapaian target tersebut tidak sederhana.
Mantan Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), menilai Indonesia tidak sendiri dalam menghadapi ketidakpastian global saat ini. Salah satu faktor utamanya adalah konflik berkepanjangan di berbagai kawasan yang turut menekan kinerja ekonomi dunia, termasuk Indonesia.
“Setiap perang memiliki masalah menghancurkan banyak hal di wilayah tersebut. Kita berharap solusi damai akan tercapai,” kata JK kepada awak media, di sela-sela acara The 2026 Asia Grassroots Forum Hosted by Amartha, Kamis, 4 Juni 2026.
Baca juga: JK Tegaskan Sinergi Pemerintah dan Masyarakat jadi Kunci Hadapi Tekanan Ekonomi
Sejumlah konflik seperti Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, serta Rusia dengan Ukraina, masih berlangsung dan berdampak pada rantai pasok ekspor hingga tekanan terhadap nilai tukar mata uang.
Pengendalian Belanja dan Peningkatan Penerimaan
Untuk merespons kondisi tersebut, JK menekankan pentingnya pengendalian belanja negara sekaligus peningkatan penerimaan.
“Yang harus kita lakukan adalah mengurangi pengeluaran, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperbaiki situasi,” jelasnya.
Baca juga: SBY Sebut Ketahanan Bangsa Dibangun dari Kekuatan Ekonomi Akar Rumput
Selain itu, JK juga mendorong peningkatan produktivitas sektor pertanian serta pengurangan ketergantungan impor.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan praktik yang umum dilakukan negara-negara dalam situasi ekonomi yang penuh tekanan. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


