Poin Penting:
- Investasi Jerman diarahkan ke energi terbarukan, jaringan listrik pintar, baterai, dan mineral kritis.
- Lebih dari 250 perusahaan Jerman telah beroperasi di Indonesia dengan investasi sekitar US$1,2 miliar.
- Jerman menawarkan teknologi energi untuk memperkuat target sekaligus ketahanan energi Indonesia.
Jakarta – Minat investasi Jerman di Indonesia mulai mengarah ke sektor-sektor strategis, terutama energi dan infrastruktur pendukungnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut perusahaan Jerman memiliki peluang besar memperkuat rantai pasok industri sekaligus mendukung ketahanan energi Indonesia.
Peluang tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral Indonesia-Jerman di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026. Delegasi Jerman membawa perwakilan pemerintah, parlemen, dan dunia usaha dengan fokus kuat pada sektor energi.
Airlangga menilai hubungan ekonomi kedua negara memiliki momentum yang semakin kuat. Saat ini, lebih dari 250 perusahaan Jerman telah beroperasi di Indonesia dengan akumulasi investasi sekitar US$1,2 miliar.
Baca juga: Calios Soroti Target Belanja Pemerintah 2027 Rp4.097 Triliun: Terlalu Besar dan Timpang
Investasi Jerman Bidik Energi Terbarukan hingga Smart Grid
Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Reem Alabali Radovan mengatakan Indonesia menawarkan pasar yang menjanjikan. Peluang tersebut terbuka untuk sektor energi terbarukan, baterai, semikonduktor, dan infrastruktur jaringan listrik.
Perusahaan Jerman juga membawa teknologi yang dinilai relevan dengan kebutuhan transformasi energi Indonesia. Fokusnya mencakup pembangkit energi bersih hingga infrastruktur pendukung sistem kelistrikan.
“Perusahaan-perusahaan Jerman, beberapa di antaranya hadir di sini hari ini, menawarkan teknologi terdepan di dunia dalam sektor energi dan tertarik membangun kemitraan jangka panjang yang dilandasi kepercayaan,” kata Radovan.
Minat tersebut mencakup tenaga surya, angin, panas bumi, dan tenaga air. Jerman juga melihat peluang pada transmisi listrik dan jaringan listrik pintar atau smart grid.
Radovan menilai keterlibatan perusahaan Jerman dapat mendukung agenda energi Indonesia. Peran tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Mereka dapat berkontribusi secara aktif dalam mencapai target energi Indonesia sekaligus membantu memastikan ketahanan energi,” ujarnya.
Rantai Nilai Baterai dan Mineral Kritis Jadi Perhatian
Kerja sama tidak berhenti pada pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan. Jerman juga mengincar rantai nilai baterai dan bahan baku mineral kritis yang berkelanjutan.
Kawasan industri Indonesia dinilai memiliki ruang pengembangan untuk sektor tersebut. Perusahaan Jerman dapat membawa teknologi sekaligus membangun kemitraan jangka panjang dengan pelaku industri nasional.
“Perusahaan-perusahaan Jerman secara khusus tertarik pada pengembangan energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, panas bumi, dan tenaga air,” ujarnya.
Selain baterai dan mineral kritis, peluang juga terbuka pada hidrogen hijau dan teknologi Power-to-X. Jerman turut menawarkan solusi efisiensi energi untuk sektor industri dan bangunan.
Radovan menegaskan dialog perlu diarahkan pada proyek-proyek investasi yang konkret. Pemerintah Jerman juga ingin mendorong keterlibatan perusahaan secara lebih besar di sektor energi Indonesia.
Dorong Kemitraan Strategis Indonesia-Jerman
Airlangga menyambut peluang tersebut di tengah upaya pemerintah memperkuat pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 persen pada semester pertama tahun ini.
Pertumbuhan tersebut disebut sebagai yang terbesar dalam 13 tahun terakhir. Pemerintah kemudian menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 5,6 persen sampai 6 persen pada akhir tahun.
Baca juga: Investor RI Makin Melek Diversifikasi, Minat Saham AS Melonjak
Untuk tahun depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen. Target tersebut membuat penguatan investasi dan kemitraan industri menjadi semakin penting.
Indonesia dan Jerman juga merupakan bagian dari IEU-CEPA. Airlangga berharap perjanjian tersebut dapat mulai berlaku pada 2027.
Bagi Indonesia, perluasan kerja sama dengan Jerman membuka peluang penguatan sektor strategis. Energi, jaringan listrik, baterai, dan mineral kritis menjadi bagian penting dari agenda tersebut.
Arah kerja sama itu menunjukkan bahwa investasi Jerman tidak hanya mengejar pasar Indonesia. Kemitraan yang ditawarkan juga berpotensi mendukung transformasi energi dan ketahanan ekonomi nasional. (*)
Editor: Galih Pratama


